• June 14, 2017
Mengulas Kurikulum Balatkop Jawa Tengah

Senin (14/6) yang lalu Kopkun Institute diundang Dinas Koperasi dan UKM Prov. Jawa Tengah untuk sharing tentang kurikulum Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) perkoperasian. Bertempat di Kantor Dinkop Jateng, Ibu Ema Suratman, Kadinkop membuka forum diskusi intensif siang itu.

Hadir dalam pertemuan itu: Ibu Hana (Kepala Balatkop), Ibu Yanti (ASPUK), Pak Dwi (Balatkop), Pak Klimi dan Ibu Sri (Konsultan), Ibu Desi (Bidang Kelembagaan Dinkop), Ibu Wahyu (Balatkop) dan Pak Bima (Sekretaris Dinkop). Mewakili Kopkun Institute adalah Firdaus Putra, HC., Direktur dan Novita Puspasari, HC., Deputi Riset.

Dalam pembukaannya Kadinkop menuturkan perlunya membuat sistem Diklat yang terukur sehingga berbagai terapi Dinas terlihat nyata. “Kapan waktu saya ditanya DPRD bagaimana dampak pembinaan koperasi, termasuk soal Balatkop, nah di situ kita tidak punya data ouput yang terukur. Jadi susah menggambarkannya, karena itu siang ini saya undang teman-teman untuk rumuskan itu”, ujarnya.

Dalam kesempatan itu Kopkun Institute paparkan ulasan pelaksanaan Diklat perkoperasian yang dilaksanakan dinas-dinas di Jawa Tengah pada umumnya. “Secara umum sering terjadi mis macht antara peserta dengan materi Diklatnya. Tentu saja hasilnya tidak efektif. Belum lagi soal ouput Diklat yang juga belum terukur”, terang Firdaus, membuka paparan.

Kopkun Institute paparkan apa yang dinamakan sebagai Model Diklat Berbasis Tangga Perkembangan. Model ini meletakkan Diklat sebagai instrumen inkubasi koperasi dengan memperhatikan waktu ideal inkubasi dari mikro, kecil dan menengah. Dengan mengenali skala koperasi, dapat dilihat kebutuhan apa yang menjadi prioritasnya. Dengan cara begitu, kurikulum disesuaikan sesuai skalanya. “Ada banyak kejadian dimana Diklat meyampur peserta dari skala mikro dan menengah. Jadinya rancu”, ujar Firdaus.

Model Diklat Berbasis Tangga Perkembangan ini merupakan hasil sintesis antara basis kebutuhan sesuai skala koperasi dengan metode pengukuran Development Ladder Assessment (DLA) atau Penilaian Tangga Perkembangan. DLA sendiri dibuat oleh Canadian Cooperative Association (CCA), Kanada. “Versi pertamanya berkembang di Indonesia tahun 2000an awal. Dan versi yang kedua, yang lebih lengkap, tahun 2009”, terang Novita menjelaskan hal ihwal DLA.

DLA dapat membantu kita untuk mendiagnosis kondisi koperasi tertentu dengan 4 (empat) dimensi utama: Visi, Kapasitas, Sumberdaya dan Jaringan Kerja (Versi 2000). “DLA ini sifatnya lebih mendalam karena lebih bersifat kualitatif daripada sekedar indikator keuangan semata. Misalnya penerapan jati diri koperasi dalam tata kelola koperasi sehari-hari”, imbu Novita.

Untuk menerapkan Diklat Berbasis Tangga Perkembangan, Kopkun Institute menyarankan agar Dinkop Jateng membuat baseline terlebih dahulu. “Tanpa baseline tentu akan susah untuk melihat perkembangannya: baik dari kenaikan skala ataupun score DLA (Merah, Kuning dan Hijau)”, terang Dosen FEB Unsoed tersebut. Baseline ini juga harus dapat menggambarkan kondisi koperasi sebelum (before) dan setelah (after) mengikuti Diklat. “Teknisnya kita perlu lakukan DLA dua kali sehingga terukur dengan jelas”, tambahnya.

 

Agar proses itu mudah, maka Kopkun Institute juga menyarankan kepada Dinkop Jateng, khususnya Balatkop Jateng untuk membuat Software DLA yang bisa memantau perkembangan koperasi secara multi year. Software akan mempermudah melakukan pembacaan perkembangan koperasi (before and after). Selepas itu maka bisa diumpan balik oleh Bidang Kelembagaan dan bidang-bidang lainnya: pemasaran dan sebagainya.

Dalam sesi diskusi Balatkop mengakui bahwa saat ini belum ada baseline sebagai data acuan. Sehingga Balatkop menerima dengan baik usulan Kopkun Institute tersebut. Hal itu diperkuat oleh Pak Klimi dan Ibu Sri yang menyatakan hal yang sama. Forum siang hari itu melihat bahwa model Diklat Berbasis Tangga Perkembangan perlu diuji coba secara terbatas melalui pilot project. Bila hasilnya memuaskan, maka bisa diperluas aplikasinya.

Menutup diskusi intensi, Kepala Balatkop menyampaikan agar Kopkun Institute berkenan membantu untuk merumuskan kurikulum Diklat yang lebih kontekstual bagi koperasi-koperasi di Jawa Tengah. Juga menangkap baik usulan-usulan baru seperti: produksi video pendek sebagai media pembelajaran koperasi yang bisa disebarluaskan ke masyarakat umum dan koperasi dan berbagai rumusan startegis-taktis lainnya. []

 

Short URL: http://bit.ly/2sbrGWo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.