• March 25, 2017
Kopkun Institute Semai Koperasi Perubahan di Purbalingga

Selama 3 hari Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Purbalingga mengadakan Pelatihan Manajemen Koperasi. Acara berlangsung dari hari Selasa – Kamis, 21 – 23 Maret 2017 di Gedung Dekopinda Kab Purbalingga. Sekitar 35 perwakilan Koperasi se Purbalingga mengikuti Pelatihan yang Mengusung Tema “Koperasi Perubahan: Cara Koperasi Naik Kelas”.

Dalam pelaksanaannya, Dinas menggandeng Kopkun Institute (KI). Sebagai institute yang konsen di bidang Sosio-Ekonomi dan Koperasi, Kopkun Institute diberi kepercayaan untuk mengawal jalannya Pelatihan. Dalam hal ini KI berperan dalam hal pemilihan tema, materi, dan menyediakan Pemateri. Tidak kurang 6 tokoh dihadirkan, Ketua Dekopinda Kab Banyumas, Direktur KI sampai praktisi Koperasi dihadirkan untuk memberikan pencerahan dan sharing dengan pengurus koperasi se-Purbalingga.

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Purbalingga. Dalam sambutannya, Bp Imam Sarjono berharap Pelatihan akan merubah mindset pelaku Koperasi di Purbalingga. Sehingga mimpi besar koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesai bukanlah sebatas angan belaka. Ceremonial Pembukaan Pelatihan juga dihadiri Kepala Bidang Koperasi, jajaran Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Purbalingga, dan dekopinda Kabupaten Purbalingga.

Jalannya Pelatihan

Materi hari Pertama dipandu langsung oleh Arsad Dalimunte, HC., Dewan Pakar Kopkun Institute, yang juga tokoh Koperasi di Banyumas, menanamkan nilai Filosofis dan Peta Juang Koperasi. Bahwa berkoperasi bukanlah semata persoalan uang atau produktivitas meningkat. Tetapi berkoperasi adalah bagaimana menaikan harkat dan martabat anggotanya. Dari dasar itulah pendidikan menjadi yang utama.

Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute, menekankan bahwa perubahan dalam koperasi mutlak diperlukan. Diperlukan keseriusan dalam menata format manajemen perubahan dan manajemen strategik untuk mengembangkan koperasi-koperasi di Purbalingga. Perubahan mindset, dan merawat mimpi besar koperasi menjadi starting point bagi jika Koperasi benar-benar menginginkan naik kelas. “Bila tidak, saya pastikan 5-10 tahun mendatang koperasi bapak-ibu seperti Dinosaurus, punah!”.

Hari kedua pelatihan merupakan manajemen skill, peserta dikenalkan dengan analysis SWOT. Metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).

Diharapkan peserta memahami bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada;Bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada;Bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

Setelah melakukan analisa SWOT peserta kemudian belajar merumuskan Visi, Misi, Tujuan, Kebijakan organisasi koperasi masing masing. Yang kemudian diterjemahkan menjadi Rencana Strategis (Renstra); Yang dapat digunakan organisasi dari kondisi saat ini untuk mereka bekerja menuju 5 sampai 10 tahun ke depan.

Di hari terakhir, Pelatihan mengajarkan peserta bagaimana menjabarkan hasil Renstra menjadi program kerja, tata kelola manajemen asset dan auditing. Seringkali perencanaan program dibuat hanya dengan cara melakukan plagiasi atau replikasi program-program yang sudah dilakukan pada periode sebelumnya. Hal ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi jika mengesampingkan kegiatan analisa terhadap sumber-sumber daya organisasi, maka plagiasi dan replikasi program akan membuat organisasi tidak berkembang dan bergerak ditempat.

Secara umum di hari terakhir diharapkan peserta memiliki pemahaman mengenai

  • Perencanaan program dengan memperhatikan capaian dan kondisi organisasi, sehingga ada keberlanjutan program dalam menjawab capaian visi organisasi.
  • Pengelolaan aset perusahaan dengan efektif dan efisien. Sehingga aset tersebut dapat memberikan manfaat tertinggi bagi perusahaan. Baik yang berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intagible).
  • Peserta belajar Bagaimana perusahaan / organisasi menjadi effektif dan efisien dengan pemeriksaan audit internal yang efektif dan pemeriksaan yang independen.

“Selama 3 hari pelatihan berjalan dengan lancar, semua peserta tergerak untuk ikut aktif dalam dialog dan diskusi. Bahkan selama kurun waktu tersebut tidak ada satupun peserta yang absen”, terang Vledy Afief, Deputi Diklat Kopkun Institute. Catatan positif tersebut mudah-mudahan menjadi awal yang baik untuk terwujudnya mindset manajemen perubahan melalui tahapan perencanaan strategis bagi pengembangan koperasi di Purbalingga. []

Short URL: http://bit.ly/2o1sIlr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.