• September 28, 2016
Kooperator Muda Berbagi Inspirasi dalam Coop Youth Summit Bali 2016

Oleh: Anis Saadah, HC.

We can’t solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them. -Albert Einstein”

Globalisasi telah memberikan dampak secara luas kepada masyarakat dan anak muda pada khususnya. Transformasi  global yang telah membawa perubahan budaya, teknologi, sejarah, demografis membutuhkan anak-anak muda memiliki kesadaran bahwa permasalahan yang dihadapi hari ini adalah milik mereka.

Melibatkan anak muda dalam pembangunan berkelanjutan koperasi adalah hal yang krusial. Mereka adalah pemimpin hari ini dan pemain utama dalam merespon isu-isu besar koperasi  serta  memiliki peran penting dalam proses pembuatan keputusan.

Tanggal 19-23 September bertempat di Bali  67 anak muda lintas Asia Pacific, Eropa, Amerika, Australia berkumpul dalam kegiatan Asia Pacific Coop Youth Summit yang di selenggarakan oleh International Cooperative Alliance berkolaborasi dengan koperasi/ organisasi lokal seperti Kopdit jasa Kubu Gunung, Kopindo dan Dekopin dalam menyelenggarakan acara ini.

Kegiatan Summit  ini penting sekali bahwa anak muda koperasi dari lintas benua berpartisipasi secara aktif berbagi pengalaman dalam pencapaian prestasi maupun kegagalan yang di laluinya, Berbagi ide-ide start-up bisnis, nilai, aspirasi yang bisa dijadikan referensi dalam proses pengambilan keputusan yang akan berdampak dalam pengembangan koperasi hari ini dan masa depan.

Pembicara dalam Summit itu di antaranya Richard Barlett sebagai Director of Autonomy  Loomio Co-operative New Zealand, Teepe Gile sebagai anggota pendiri koperasi “Koperasi Red Root Philipines” koperasi ini bergerak dalam bidang design printing, pemograman website, 3D animasi, social media marketing, dan audio visual presentasi. Pembicara ketiga Farmer Sangay yang mendeskripsikan diri sebagai petani dari Bhutan, filsuf, aktivis pertanian, aktor, penulis, pengusaha dan pendiri Koperasi Happy Green.

Pembicara ke-empat Sebastian Chaillau sebagai president  Solidarité Etudiante. Perancis. Mahasiswa tingkat nasional pertama di Perancis yang memimpin gerakan koperasi dalam mengembangkan pelayanan untuk mahasiswa di kampus dan menciptakan lingkungan kewirausahaan koperasi. Solidarité Etudiante menawarkan ekonomi dengan pelayanan sosial, merubah paradigm berpikir konservatif dalam konsumerisme dan individualism menjadi kolektif sebagai inti dari koperasi. Ia adalah President dalam Federasi the Fédération Québécoise des Coopératives en Milieu Scolaire (COOPSCO), federasi terbesar kedua di dunia berbasiskan koperasi konsumen setelah koperasi kampus Jepang.

Praktika koperasi dari pembicara-pembicara tersebut mampu memberikan inspirasi terhadap peserta serta menggeser perspektif koperasi yang selama ini dipandang hanya sebagai “bagi hasil”, “berskala kecil” “”berada di pedesaan”, menumbuhkan keyakinan bahwa koperasi mampu menjadi solusi dari permasalahan globalisasi yang dihadapi saat ini. Dan bahwa koperasi mampu menjadi 6 sektor ekonomi terbesar dengan aset 2.6 triliun dolar yang dimiliki koperasi FC Barcelona.

Summit ini tidak hanya sekedar workshop dan diskusi. Namun peserta juga dilibatkan dalam aktivitas pemaknaan Tri Hita Karana yang bermakna “Harmoni dengan sesama umat, harmoni dengan alam, harmoni dengan Tuhan”; Dimana filosofi tersebut sangat dekat dengan nilai-nilai koperasi. Lalu ada berlatih dan menampilkan Tarian Kecak, Magibung makan tradisional, rafting sebagai wujud team building; Bersepeda melihat alam yang harus dijaga kelestarianya dan mengunjungi sistem pertanian Subak yang sudah ada hampir 11 abad di Bali. Dimana dalam seluruh rangkaian kegiatan outdor direfleksikan oleh peserta sendiri sebagai bekal dalam berproses di koperasi.

Peserta juga mendapatkan tantangan dalam kompetisi “Coop Pitch” dimana masing-masing negara mempresentasikan apa yang menjadi  gagasan ide/ start up bisnis sosial yang mampu menyelesaikan permasalahan di lingkungan masing-masing. Kompetisi ini berfungsi untuk saling menginspirasi dan sebagai platform global kooperator muda dengan latar belakang yang berbeda; Namun bersama-sama menyuarakan satu statement mengenai agenda-agenda ke depan.

Dalam kesempatan terakhir kegiatan ini mensosialisasikan peran penting kooperator muda dalam menerjemahkan Sustainable Development Goals sebagai kerangka kerja secara legal yang telah diratifikasi oleh semua negara di seluruh dunia dalam memerangi kemiskinan, kesenjangan, kelaparan, ketimpangan gender dan lainnya. Koperasi yang bekerja dalam lingkup ekonomi, sosial dan budaya menjadi sinambung dengan kerangka SDGs. Sehingga perlu didukung dengan rencana yang matang dan aksi konkret dalam mengimplementasikanya.

Kooperator muda memiliki peran penting terhadap kondisi masa depan koperasi dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Dalam refleksi penutup kegiatan ini “Jika bukan saat ini, lantas kapan? Jika bukan kita, lantas siapa?” []

  • Dokumentasi foto dan video di https://www.facebook.com/asiapacificcoopyouthsummit/
  • Penulis adalah Pengurus Kopindo, Staf Penelitian dan Pengembangan Kopkun Institute dan Panitia dalam Asia and Pacific Coop Youth Summit, Bali 2016.
Short URL: Generating...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.