• September 26, 2016
Celengan Bambu Seribu: Petite Histoire dari Ketanda

celengan

Siang tadi Tusiman main ke Kopkun. Laki-laki 26 tahun itu adalah salah satu aktivis Koperasi Argo Mulyo Jati (AMJ). Ia datang sendirian tanpa Niko dan Catur, anak-anak muda sejawatnya yang berjibaku di koperasi itu juga. Sebutlah mereka sebagai tiga serangkai, seperti lakon Three Musketeers para pengawal AMJ.

Ia kisahkan bagaimana gerakan celengan bambu seribu yang baru 10 bulan dibangun di sana. Ya, celengan itu dibuat dari potongan bambu dengan target 1000 perak sehari per anggota. Gerakan itu awalnya diujicoba pada 10 orang Pengurus-Pengawas AMJ. Lalu meluas dan sekarang mencapai 110 orang.

Saat ini sedikitnya terkumpul 19 juta rupiah tabungan anggota dan komunitas. Rata-rata sebulan total yang terkumpul mencapai 2,5 juta rupiah. Dan itu hampir seluruhnya adalah uang recehan. Salah seorang yang ikut mengatakan pada Tusiman, “Seneng Mas, saya nabung dalam pecahan koin, nanti kalau butuh duitnya sudah rubah uang kertas”. Itu salah satu kesaksian orang Ketanda, Sumpiuh.

Dulu, atau 10 bulan lalu, gerakan ini diinisiasi lewat cara sederhana. Pada suatu pertemuan, kita minta Pengurus-Pengawas dan lainnya untuk membayangkan gelas yang separonya berisi air. “Apakah itu gelas setengah isi atau gelas setengah kosong?”, itu pertanyaan yang diajukan ke mereka. Sebagian besar menjawab gelas setengah isi. Begitupun dengan komunitas atau masyarakat, yang sejatinya telah memiliki sumberdaya, hanya saja kurang terkelola dengan baik. Begitu hikmah simulasi gelas setengah isi itu.

Lantas dimulailah kesepakatan dan komitmen untuk “membuang” 1000 perak pada tempatnya. Ya, karena senyatanya orang bisa meletakkan pecahan 1000 perak di sembarang tempat. Yang ketika hilang pun, tak akan ia cari. Maka dengan gerakan celengan ini, targetnya adalah “membuang” 1000 perak di tempat yang benar. Gagasan itu ditangkap oleh anak-anak muda AMJ dan jadilah Celengan Bambu Seribu.

Tusiman mengisahkan suatu ketika ada ibu tua mau ambil tabungan buat bayar hutang RTan sebesar 250 ribu. “Mas saldoku berapa ya?”, “Saldo rika 450 ribu”, jawab Tusiman. “Sing bener?!”, tegas si ibu karena tak percaya. “Rika arep njukut sebutuhe apa njukut luwih”, tanya dia lagi. “Aku njukut seperlune bae”, jawab si ibu.  Menariknya, bulan berikutnya si ibu nabung lagi sebesar 100 ribu. “Ternyata bisa ya Ni (Nini, panggilan ke ibu yang sudah tua), kita mulai nabung dulu terus pas butuh tinggal pakai uang sendiri”, ujar Tusiman menerangkan ke si ibu itu.

Kisah yang lain adalah ketika gerakan itu baru berusia 4-5 bulan dimana ada seorang ibu-ibu menunggu Tusiman datang mengambilnya. “Mas kok kemarin tidak diambil-ambil ya?”, tanya ibu itu. “Kemarin saya kejatah ngambil tabungan tempat lain bu”, jawab Tusiman. Ia mengisahkan bagaimana sekarang menabung sudah menjadi kebutuhan di komunitasnya. Sekarang kedatangan mereka bertiga, Trio AMJ, dinantikan oleh anggota.

Saat mengambil dan menghitung bersama tabungan itu, biasanya Tusiman menerangkan perkembangan AMJ ke mereka. Dari sanalah anggota menjadi paham dan merasa makin memiliki AMJ. “Ya begini ini Mas yang saya seneng. Jadinya kan saya tahu apa yang lagi dikerjakan AMJ”, kata seorang bapak tua pada Tusiman. “Iya Pak, AMJ itu koperasi yang terbuka (baca: transparan) pada anggotanya”, jadi semuanya kita ceritakan.

Tusiman, Niko dan Catur adalah tiga dari 9 karyawan muda AMJ yang bertanggungjawab atas gerakan celengan itu. Untuk operasional masing-masing mereka diberi 15 ribu rupiah sebagai ongkos bensin. Itu di luar gaji atau honor bulanan yang mereka dapat. Ketika ditanya apakah honor itu sudah cukup, “Kalau cukup ya belum. Tapi saya kan paham karena langsung turun lapangan dan kondisi AMJ. Saya ingat omongan Mbah Tarmono (Ketua AMJ): Kowe nggawe senenge wong akeh disit, kowe bakal urip seneng. Dulu malah tidak dapat honor, sekarang dapat, kalau AMJ besar tentu kan nanti tambah besar juga”, tuturnya menginsyafi.

Saban bulan AMJ mengadakan rapat Pengurus dan Manajemen. Tiap bagian memberikan laporan kinerjanya. Tusiman akan melaporkan kegiatan sosialisasi keanggotaan di forum itu; Lalu ada Niko yang melaporkan capaian celengan. Catur akan melaporkan tentang kualitas gula anggota; Kemudian Samedy melaporkan omset warung; Ada juga Mujiman khusus melaporkan usaha sabut kelapa; Yang lainnya seperti Asep, Setia dan dua perempuan: Soimah dan Widianiarti akan ikut mendengarkan.

Saat ini Argo Mulyo Jati sudah memasuki tahun ketiga. Telah banyak yang mereka capai meski belum sebanyak cita-cita besarnya. Paling tidak saat ini Argo Mulyo Jati telah menjadi salah satu koperasi perajin gula di Banyumas yang produknya dicari pasar. “Produk gula kami cukup bagus. Catur yang menjaga kualitasnya. Dipilah gula yang berwarna kuning-orange dan merah gelap. Kami akan memberi 13 ribu rupiah per kilo untuk gula yang kuning-orange tanpa sulfit. Nah sekarang sudah 70% anggota pakai laru alami”, terang Tusiman.

Saat ditanya bagaimana respon Pengurus-Pengawas dengan keterlibatan anak muda, dengan mata berbinar Tusiman mengatakan, “Pas rapat bulan kemarin Pengurus-Pengawas pada tepuk tangan untuk kami, Mas”. Ya, ada kepuasan dan kebanggaan dengan pencapaian itu. Meski kemudian Tusiman menambahkan, “Rasanya itu pusing tapi seneng. Pusingnya karena masih banyak PR. Senengnya karena kita melihat langsung di lapangan bagaimana anggota mulai percaya dan loyal dengan AMJ. Itu yang membuat saya dan teman-teman seneng, Mas!”.

“Cita-citaku pingin membuat banyak orang seneng, Mas”, kata Tusiman. Dan nampaknya jalan ke arah sana mulai tertata meski tetap berliku. Tusiman, warga asli Ketanda, tak tamat SMA. Dia bangga dan dia bahagia berkoperasi. []

 

Catatan: sejarah kecil atau petite histoire (Perancis) adalah peristiwa-peristiwa “kecil” yang luput dari catatan sejarah “besar”.

Short URL: http://bit.ly/2dlDgX1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.