• September 5, 2016
Yang Terpanggil Menjadi Pendamping Koperasi

Sedikitnya ada 14 anak muda yang terpanggil menjadi Pendamping Koperasi yang dinisiasi Kopkun Institute. Anak-anak muda itu multi latar belakang: sebagian sudah pernah berkoperasi dan sebagian yang lain belum. Bahkan separo di antaranya adalah eksponen aktivis pergerakan mahasiswa dari FMN, HMI, PMKRI, GMNI dan Pemuda Katolik.

Saat ini Kopkun Institute sedang diminta untuk mendampingi sekitar 18 koperasi di Banyumas. Di antaranya 6 KUD, 4 KPRI dan beberapa KSU dan jasa lainnya. Kondisi 18 koperasi itu pun beragam, ada yang memiliki aset besar namun tidur, potensi anggota banyak namun tidak optimal dan lainnya. Sebagian yang lain butuh sentuhan teknis misalnya set up tata display tokonya dan yang lain benar-benar set up koperasi dari awal.

“Melibatkan anak-anak muda untuk terlibat dalam pendampingan ini punya dua keuntungan. Pertama anak-anak muda tersebut bisa belajar langsung dari praktika lapangan. Idealisme yang dulu mereka semai di kampus dapat ruang terjemahnya. Sedang kedua, koperasi-koperasi mitra memperoleh pasokan SDM berkualitas”, ujar Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute.

Bila dilihat dari latar belakang, separo di antaranya belum pernah berkoperasi. Herliana, HC., salah satu anggota Dewas Pakar Kopkun Institute mengatakan, “Minimalnya teman-teman sudah punya spirit pembelaan terhadap koperasi. Untuk teknis itu nanti sambil jalan melalui proses ToT, Diklat dan learning by doing langsung”. “Ada dua yang sudah kita terjunkan di KUD, awalnya tak pernah terlibat dalam tata kelola. Setelah setahun, ya hasilnya bagus”, tambahnya.

Skema pendampingan koperasi yang dilakukan Kopkun Institute berbasis keswadayaan Kopkun Institute dan Koperasi Mitra. “Jadi ini bukan program pendamping koperasi dari Kementerian”, terang Firdaus. Karena swadaya, maka berbagai biaya yang muncul dari proses itu dibebankan ke koperasi-koperasi mitra. “Oleh koperasi mitra tentu harus dibaca sebagai investasi, bukan biaya”, sambungnya.

Meski demikian praktiknya sangat fleksibel. Bila koperasi rintisan, maka pendampingan dilakukan secara cuma-cuma. Hal itu misalnya yang dilakukan Kopkun Institute saat mendampingi Argo Mulyo Jati, Koperasi Petani Gula Merah di Sumpiuh, Banyumas. Selama dua tahun pendampingan itu bersifat pro bono. “Alhamdulillah meski pro bono, hasilnya nyata. Sekarang kapasitas kelembagaan AMJ bagus”, terang Sam Edy, HC., salah satu pendampingnya.

Anak-anak muda tersebut diharapkan bisa menyerap praktika di lapangan dan melakukan proses reengineering sesuai teori atau pakem koperasi yang benar. “Meskipun dalam proses implementasinya pendamping harus benar-benar memahami kondisi lapangan. Apalagi kita dianggap sebagai orang luar. Tak sedikit konflik kepentingan antar aktor di koperasi itu membuat pendampingan tak berjalan sesuai rencana”, terang Angjar Muti, HC., Deputi Pemberdayaan Sosial Kopkun Institute.

Komitmen untuk turun ke basis itu dilaksakan pada Briefing Umum pada 5 September 2016 di Kopkun Institute, Teluk, Purwokerto. Sedikitnya 14 orang hadir dalam rapat tersebut. Di penghujung rapat, seorang pendamping bertanya, “Apakah kalau ada kawan lain mau terlibat masih bisa ikut Mas? Tanya Ozi, eksponen FMN Purwokerto dan mahasiswa Sosiologi semester akhir itu. “Justru itu yang ditunggu!”, jawab Firdaus. []

Short URL: http://bit.ly/2c6gm7Z

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.