• August 6, 2017
Workshop Pengembangan Koperasi Buruh Bekasi

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) berniat inisiasi koperasi konsumen berbasis buruh di Bekasi. Dalam tujuan itu Kopkun Institute selenggarakan workshop intensif untuk mereka tepatnya pada 1-2 Agustus 2017 di Kopkun 3, Teluk. Ada sekitar 16 orang peserta ikut dalam workshop tersebut yang sebagiannya merupakan pengurus koperasi (existing) dan pengurus serikat.

Kegiatan worskhop itu bertujuan untuk membangun kacakapakan praktis bagi teman-teman buruh untuk lakukan dua agenda besar. Yang pertama adalah lakukan revitalisasi masing-masing koperasi yang sudah ada di beberapa pabrik. Dan yang kedua adalah menginisiasi satu koperasi baru berjenis koperasi konsumen.

Dalam pembukaan Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute menyampaikan kerangka materi yang akan diselesaikan dalam dua hari. Pertama adalah Analisis Potensi Buruh FSPMI; Hakikat dan Peta Juang Koperasi; Tata Lembaga dan Tata Kelola Koperasi; Mengenal Simpan Pinjam Koperasi Berbasis Siklus Hidup; Mengenal Ritel Koperasi dengan Layanan Prima dan Rumusan Strategis Revitalisasi dan Inisiasi Koperasi. Sedangkan di hari kedua mereka lakukan kunjungan lapangan ke Koperasi Buruh KSU Mitra PT MKTU Purbalingga serta Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun).

Beberapa mentor dihadirkan mengisi tiap materi dari pukul sembilan pagi sampai 11 malam. Pertama adalah Arsad Dalimunte, HC., “Dengan memahami hakikat koperasi sebagai kumpulan orang, maka koperasi tak perlu terjebak sekedar urusan bisnis semata atau uang semata. Banyak hal yang bisa dilakukan”, katanya. Dalam sesi berikut, Herliana, HC, mengatakan, “Para pengurus hendaknya memahami betul tata kelembagaan dan tata kelola koperasi. Bagaimanapun koperasi sebagai Badan Hukum memiliki konsekuensi perdata dan pidana. Dan Anggaran Dasar menulis Pengurus lah yang bertanggungjawab di depan hukum”, terangnya.

Dalam kesempatan berikutnya, Budi Angkoso, HC. bersama Angjar Muti, HC. mengupas tentang model ritel koperasi. “Jadi mengapa ada jejaring ritel nasional itu bisa jual murah, karena kuota barang yang mereka order ke prinsipal itu sangat besar jumlahnya. Kuota order inilah kunci untuk mengenali permainan ritel”, ujar Budi, yang ahli di bidang distribusi. Angjar, menambahkan, “Pengalaman kami mendirikan toko swalayan itu hanya butuh waktu satu bulan. Namun butuh waktu lama untuk memahami pengelolaanya mulai dari planogram, kebijakan harga/ margin, tata display, FIFO dan detail lainnya”, terangnya.

Peserta menunjukkan antusiasme besar pada materi-materi yang disampaikan para mentor. Dengan mengajukan kasus-kasus yang ada di koperasinya mereka ajukan pertanyaan serta diskusi intensif. “Bapak-ibu, untuk yang detail-detail kita tak bisa selesaikan hari ini. Itu butuh waktu panjang dan materi khusus. Hal-hal teknis itu butuh sesi Bimbingan Teknis (Bimtek) sendiri. Yang penting target hari ini Bapak-ibu mengenali pola umumnya dulu”, tegas fasilitator melihat peserta yang tak henti mengajukan pertanyaan.

Di petang, Robertus Aditya, HC., hadir memberikan materi tentang Simpan Pinjam Koperasi Berbasis Siklus Hidup. Tak sekedar ceramah, ia mengajak peserta mempraktikkan langsung mengenai Pengelolaan Keuangan Keluarga dan tools lainnya. “Simpan pinjam koperasi itu hadir untuk menjawab kebutuhan anggota. Pertama yang harus ada adalah layanan simpanan-simpanan dan berikutnya adalah pinjaman. Jangan terbalik-balik. Nah, untuk membuat layanan itu idealnya berbasis dari siklus hidup yang pasti dilalui setiap orang. Sehingga muncullah produk-produk seperti: Simpanan Pendidikan, Simpanan Hari Raya, Simpanan Darurat dan lain sebagainya”, terangnya dengan detail.

Di malam hari dengan suasana santai dengan cemilan mendoan khas Banyumas, Afief Vledy, HC., fasilitasi peserta untuk susun rencana tindak lanjut pasca workshop. Afief yang kebetulan mantan Ketua Serikat Buruh sangat memahami ritme dan dinamika hidup buruh. “Buruh-buruh perlu diedukasi agar tidak konsumtif. Caranya kita bangun simpul-simpul kader sebagai agen-agen perubahan. Merekalah yang akan lakukan pendidikan secara berantai ke teman-teman lainnya”, tegasnya.

Sesi itu menghasilkan rumusan bersama bahwa federasi akan mendorong lahirnya satu koperasi konsumen berbasis buruh yang tak terikat oleh satu serikat atau pabrik. “Kata kuncinya adalah skala. Untuk mencapai skala itu, keanggotaan bersifat terbuka bagi semuanya. Jadi tak perlu kita kapling per pabrik satu koperasi. Cukup satu koperasi untuk semua pabrik. Mas Slamet pernah berkunjung ke NTUC Fairprice Singapore yang ritelnya kuasai 56% pangsa pasar di sana. Itu dibangun oleh serikat buruh. Namun sekarang masyarakat umum bisa menjadi anggotanya”, ujar Firdaus menerangkan.

“OK, Mas. Kami bisa memahami itu. Dan hal itu nampaknya realistis. Misalnya kita mobilisasi lima basis pabrik masing-masing 100 buruh. Tiap orang andilnya adalah satu juta, maka terkumpul 500 juta rupiah yang sudah bisa untuk mendirikan toko swalayan koperasi”, respon salah satu peserta. “Betul itu masuk akal daripada kami harus mendirikan satu koperasi baru (konsumen) di tiap pabrik”, respon Henut, koordinator rombongan.

“Bila itu disetujui, maka koperasi-koperasi pabrik yang sudah ada cukup fokus di layanan simpan pinjam yang ideal seperti tadi sore kita diskusikan. Boleh punya toko,tapi secukupnya. Karena yang besar, sudah diselenggarakan oleh koperasi konsumennya. Dengan cara begitu antar koperasi bisa saling kerjasama, misalnya pengadaan barang”, tambah Firdaus. Malam itu kegiatan diakhiri pukul sebelas dan peserta kembali ke hotelnya.

Esoknya dipandu oleh Afief Vledy, HC. mereka kunjungan ke Koperasi Buruh KSU Mitra Purbalingga. Mereka diterima di kantor koperasi oleh Pengurus dan Badan Pengawas. Ina, Ketua Koperasi, menerangkan bagaimana KSU Mitra bisa tumbuh dari yang awalnya negatif. “Saat ini anggota kami mencapai 444 dari 1400 buruh pabrik, dengan turn over simpan pinjam mencapai 600 juta. Beberapa program kami kerjakan seperti pendidikan anggota setiap bulan lewat radio internal pabrik. Dan itu benar-benar membantu meningkatkan kepercayaan serta loyalitas anggota”, terangnya.

Dari Purbalingga rombongan ke Kopkun Pusat yang diterima oleh Herliana, HC., selaku Ketua Kopkun. “Teman-teman lihat foto yang tadi, itu Kopkun 10 tahun yang lalu. Jadi Kopkun tidak sekonyong-konyong seperti saat ini. Dulunya bahkan lantainya saja masih tegel, bukan keramik. Sampai kemudian mulai terjadi pertumbuhan di tahun kelima. Selama lima tahun awal kami fokus membangun kelembagaannya. Lalu tahun 2014 kami susun Rencana Strategis (Renstra) dan pasca itu mulailah terlihat progress usahanya”, terangnya.

Di Kopkun Pusat mereka sekali lagi mengendapkan dan membangun tekad bersama untuk inisiasi koperasi konsumen di Bekasi. “Kami sangat berterimakasih, banyak ilmu baru yang kami peroleh. Benar-benar menginspirasi dan membuat kami tambah yakin”, ucap Henut dalam penutupan kegiatan. []

Short URL: http://bit.ly/2vbK0jy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.