• May 27, 2018
Waroeng Cerdas, Cara Pintar Hidupkan Ekonomi Kerakyatan

Matahari baru setinggi sepenggalah ketika Sinta Anggraeni, Kepala Toko Swalayan Waroeng Cerdas, mulai merapih-rapihkan tokonya. Sebenarnya, Waroeng Cerdas baru buku sekitar pukul 07.00 WIB. Namun, penampilan toko yang telah dipercantik membuatnya lebih bersemangat. Ia pun lebih cepat datang ke toko.

Tak berbeda dengan Sinta, kasir toko, Kristina, tak kalah giatnya. Ia mulai mengecek satu per satu, barang dan seluruh peralatan di Sentra Kulakan Posdaya (Senkudaya) Jeruk Legi. Ia harus memastikan pelayanan untuk konsumen hari ini lancar.

Akhir-akhir ini omset Waroeng Cerdas yang terletak di jalan Jeruk Legi Kecamatan Jeruk Legi Kabupaten Cilacap memang meningkat pesat. Hal itu tak lepas dari pembenahan yang dilakukan Yayasan Damandiri bekerjasama dengan Kopkun Institute, Purwokerto.

Sebenarnya, Senkudaya Jeruk Legi mulai operasional sejak 2016 lalu. Namun, berbagai kendala membuatnya tak bisa berakselerasi cepat. Antara lain problem Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi dan tata kelola (SOP).

Waroeng Cerdas Jeruk Legi berada di ruas jalan utama yang strategis. Tiap hari, ribuat kendaraan hilir mudik memenuhi jalan raya. Letaknya pun berada di permukiman warga yang memungkinkan toko ini yang menjadi pilihan utama berbelanja.

Akan tetapi, selama dua tahun operasional, Senkudaya ini tak begitu berkembang, meski kucuran modal sudah cukup besar, mecapai Rp. 200 juta pada awal pendirian. Musababnya, Senkudaya tak sesuai dengan namanya sebagai pusat kulakan, hanya beroperasi sebagai ritel. Ia tak terlalu menarik untuk jadi pusat grosir bagi warung-warung di sekitarnya, meski menawarkan harga grosiran yang kompetitif.

Padahal, Senkudaya ini memiliki sekitar 150 mitra warung pedesaan. Tetapi, hanya sekitar 30 posdaya yang secara rutin belanja di Senkudaya ini. Tak heran jika omset hariannya hanya berada di kisaran Rp. 1,5 juta per hari. Bahkan, pada hari-hari sepi, omset harian di bawah Rp. 1 juta. Tentu sebuah angka yang kecil untuk sekelas toko grosir dengan ketersediaan barang bernilai Rp. 200 juta.

Direktur Kopkun Institute, Firdaus Putra Aditama mengungkapkan, beberapa persoalan yang teridentifikasi antara lain bauran produk, kebijakan harga, tata letak dan sistem kerja. Bauran produk Senkudaya Jeruk Legi lebih menyerupai ritel, banyak jenisnya namun sedikit jumlahnya. Hal itu berimbas pada harga yang hanya sedikit di bawah eceran. Maka, setelah revitalisasi, kebijakan stok barang pun diubah. Skemanya 60 persen grosir, 40 persen lainnya ritel atau eceran.

beberapa persoalan yang teridentifikasi antara lain bauran produk, kebijakan harga, tata letak dan sistem kerja

Selain strategi bauran produk, Kopkun Institute juga mulai membenahi tata letak barang atau display baang (planogram). Barang-barang ritel ditaruh di bagian depan. Adapun grosir berada di sisi belakang toko berukuran 6 x 8 meter ini.

Kebijakan harga (pricing) pun dibuat bertingkat, tak hanya mengandalkan sistem member. Hai itu dilakukan untuk menggenjot pemasukan dari grosir. Harga ditentukan oleh jumlah nominal pembelian. Tetapi, member Senkudaya yang berjumlah 150-an warung itu pun tetap mendapat keistimewaan. Mereka mendapat diskon khusus jika berbelanja dengan minimal nilai yang ditentukan.

Tak hanya itu, dari sisi teknologi pun direka ulang. Sebelumnya, toko ini kerap bermasalah dengan aplikasi kasir dan stok barang. Hal itu terjadi karena aplikasi yang rusak dan juga keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu, Kopkun Institute pun mengganti sistem dan melakukan beragam pelatihan untuk karyawan toko yang berjumlah lima orang ini.

Standar Operasional Prosedur (SOP) pun diubah. Jika tadinya tenaga divisi pemasaran yang berjumlah dua orang hanya menjaga toko, kini divisi pemasaran menerapkan sistem kerja jemput bola. Mereka berkeliling ke warung mitra dan menawarkan barang-barang terbaru.

Hasilnya, omset harian Senkudaya ini pun melesat nyaris dua kali lipat dibanding sebelumnya. Angka tertinggi harian telah mencapai Rp. 3.000.000 atau dua kali lipat dibanding omset biasanya yang berada di Rp. 1.500.000. “Tetapi masih fluktuatif. Hanya rata-ratanya sudah di atas proyeksi BEP sebesar Rp. 2,4 juta per hari”, Firdaus menjelaskan.

Dengan angka penjualan sebesar itu, Senkudaya Jeruk Legi telah mampu menggaji lima karyawannya. Di luar itu, Waroeng Cerdas juga menggerakkan warung-warung kecil yang menjadi mitra atau langganannya. Akselerasi juga akan dipercepat dengan dikucurkannya dana dari Yayasan Damandiri untuk menambah barang, pelatihan untuk pengelola dan rebranding toko. []

*Liputan Majalah Gatra Edisi Bulan Mei 2018 di rubrik Suplemen Umum.

Short URL: http://bit.ly/2sionNs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.