• October 22, 2016
Potensi Fraud Dalam Koperasi

Rabu, 19 Oktober 2016  Kopdar Ke-4 dengan Tema “Potensi Fraud Dalam Koperasi” dilaksanakan di PLUT Jateng, Dukuhwaluh, pukul 14.00 s/d selesai. Sekitar 30 peserta dari Koperasi, UMKM, praktisi, dosen dan para pembelajar turut serta dalam diskusi tersebut. Kopdar merupakan ajang sharing anggota grup WA “Ekonomi Koperasi Banyumas” atas permasalahan umum UMKM dan Koperasi. Sampai edisi ke-4 ini Rangkaian Kopdar dengan tema dan nara sumber berbeda selalu sukses menarik perhatian insan ekonomi-koperasi, praktisi, akademisi, peneliti di Banyumas.

Berawal dari Riset sebuah jurnal bahwa koperasi-koperasi di negara berkembang mempunyai potensi fraud (penyimpangan) yang tinggi. Jurnal itu menyebutkan salah satu sebab karena nilai kekeluargaan yang kuat. Sebab lain karena tingkat kesejahteraan karyawan rendah dan tentu saja ada sebab-sebab lainnya. Berdasarkan riset itulah Kopdar ke-4 mencoba mengangkat tema Fraud dengan menghadirkan narasumber: Novita Puspasari, M.Sc. (Akademisi FEB Unsoed) dan Eling Saptono, SH. (Praktisi Simpan Pinjam Koperasi) untuk mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana sebenarnya potensi Fraud di Koperasi.

Sebagai seorang akademisi Novita membedah Fraud dari pisau analisis keilmuan yang kemudian dikomparasikan dengan penelitian yang pernah dilakukan di negara berkembang. “Surprisingly, ternyata social ties (kekeluargaan, tolong menolong, saling percaya dll) yang selama ini jadi kekuatan koperasi justru dapat menyebabkan fraud di beberapa koperasi. Tidak heran, banyak koperasi jadi stagnan” ungkap salah satu dosen muda Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga merupakan kepala divisi di Kopkun Institute.

Mencoba menganalisa dari sudut pandang seorang praktisi, Eling Saptono, SH lebih banyak mengulas kasus kasus Fraud yang selama ini ada di lapangan. Bagaimana pola kerja dan penyebab Fraud di koperasi, formulasi pencegahan dan bagaimana Koperasi harus Anti Fraud. “Setiap koperasi harus berani membuat Aturan yang tegas, jika ingin menerapkan koperasi sebagai lembaga anti Fraud” katanya.

Dalam diskusi beberapa peserta memberikan testimoni fraud yang pernah terjadi di koperasinya. Mereka membenarkan apa yang disampaikan kedua pembicara. Fraud terjadi bisa karena tingkat kesejahteraan rendah karyawan koperasi dan juga karena target yang berlebihan. Ada sebab lain karena sistem yang tidak kokoh sehingga memunculkan celah kesempatan terjadinya hal tersebut.

Bu Dani, akademisi IAIN Purwokerto menanggapi, “Selain penegakan aturan, sistem dan peningkatan kesejahteraan apakah tidak mungkin bila fraud itu diselesaikan dengan cara yang lebih soft. Artinya kita kembali kepada nilai-nilai etis koperasi yang harus ditanamkan kepada semua lini”. Direspon baik oleh Pak Antonius Legiman, KSP CU Mino Martani, “Di tempat kami seluruh aktivitas bersendi pada dari, oleh dan untuk anggota. Sehingga layanan simpan pinjam dilaksanakan di rumah-rumah anggota. Hal ini sekaligus menjadi kontrol kuat dalam layanan koperasi”, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kopkun Institute sebagai salah satu lembaga yang konsen di bidang sosio-ekonomi dan koperasi membagikan stiker Koperasi Anti Fraud untuk peserta. Sekaligus sebagai bentuk kampanye dalam usaha untuk membangun koperasi yang ‘baik dan benar’.

Di akhir acara semua sepakat bahwa udah saatnya koperasi-koperasi di Indonesia mulai berbenah dan menerapkan Anti Fraud di institusinya. Dengan tetap menjaga ikatan sosial namun harus tetap ‘merawat’ alat bisnisnya agar tujuan kesejahteraan bersama (bukan sebagian pihak saja) bisa tercapai. []

 

Short URL: http://bit.ly/2etwjDS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.