• July 24, 2017
Passion Rendah, Punya Dana Hasilnya Medioker

Selepas membuka Rapat Kerja Dekopinwil Jawa Tengah di Banjarnegara, Agung Sujatmoko, Ketua Harian Dekopin bertandang ke Kopkun Institute. Dalam sesi informal meeting itu, beliau mengajak diskusi teman-teman Kopkun Institute ihwal gerakan koperasi di Indonesia pasca Konggres Makassar kemarin. “Saya minta masukan-masukan tentang apa yang bisa dikerjakan secara nyata untuk membuat perubahan meski kecil”, terangnya membuka diskusi.

Dalam kesempatan itu hadir juga beberapa Pengurus Dekopinda Banyumas seperti Pak Danan, Pak Herliana dan Pak Untung. Bersama kawan-kawan muda dari Kopkun Institute, diskusi itu berjalan gayeng serta hangat. Gagasan-gagasan baru muncul sekaligus kritik soal kinerja Dekopin selama ini. Meski demikian, Agung Sujatmoko meresponnya dengan baik sebagai kritik membangun.

“Yang perlu dibuat adalah National Cooperative Policy seperti di Malaysia itu. National Cooperative Policy itu bisa diturunkan dalam roadmap lima tahunan. Roadmap itu bisa menjadi peringatan Tahun Koperasi lima tahunan kemudian diturunkan menjadi tema dalam peringatan Hari Koperasi tahunan. Sehingga kecenderungan peringatan Hari Koperasi yang seremonial belaka dapat dirubah. Tahun depan misal temanya “Afirmasi Koperasi terhadap Kelompok Marjinal”, maka peringatan Hari Koperasi isinya adalah evaluasi bersama atas capaian tema itu, konkretnya statistik anggota koperasi dari kelompok marginal itu naik”, terang Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute.

Masukan itu muncul karena banyak orang koperasi yang gemar bicara makro, namun lemah saat diajak diskusi mikro organisasi atau yang teknis-taktis. Sehingga butuh pendekatan baru bagaimana menurunkan yang makro menjadi indikator kerja mikro. “Itu benar, Pak. Sampai kemarin ketika kami lokakarya, kami latih agar koperasi bisa membuat visi-misi yang dapat dicapai secara nyata. Tidak terjebak pada bahasa-bahasa melangit, namun pernyataan yang rasional dan terukur”, imbuh Herliana, HC. Jadi, Dekopin diharapkan bisa menurunkan narasi besar menjadi sebuah acuan kerja yang konkret sehingga tidak mengawang-awang.

Dalam konteks kerja nyata itu, Dekopin disarankan membuat Profil Koperasi Teladan sebagai rujukan bagi koperasi-koperasi yang ingin studi banding. Koperasi-koperasi bisa belajar antar teman sejawat dengan koperasi yang sudah sukses. Namun seringkali mereka juga tidak tahu koperasi-koperasi mana yang bisa menjadi rujukan. Profil itu bisa dikemas dalam satu website khusus yang memuat capaian kuantitatif dan kualitatifnya. “Teknisnya bisa dibagi menjadi tiga ketegori: berdasar zonasi, berdasar sektor usaha dan berdasar usaha/ layanan unggulan. Koperasi cukup klik ini itu dan bisa membuat janji langsung dengan Pengurus koperasi yang dituju”, terang Firdaus.

Profiling itu merupakan bagian kecil dari upaya besar membuat database koperasi yang bagus dan aksesibel. Sehingga bisa saja untuk kepentingan itu kita manfaatkan PPKL sebagai surveyor lapangan. Naik ke tingkat berikutnya, database itu bisa digunakan sebagai basis untuk menyusun Indeks Kinerja Koperasi (IPK) yang setiap koperasi bisa melihat posisinya dan lakukan benchmark kepada koperasi di atasnya. “Kebutuhan database ini urgen sekali, karena dari database kita bisa membuat agenda kegiatan/ program. Misalnya database memuat core business koperasi, maka kita bisa orientasikan kemana agenda penguatan usaha koperasi”, lanjut Herliana.

“Nah hal-hal taktis seperti ini yang kami butuhkan dari para praktisi. Kalau soal yang makro-makro, di Jakarta sudah banyak kajiannya”, respon Agung Sujatmoko. “Harapannya kami bisa bekerja secara fokus, misalnya selama lima tahun ini cukup penguatan simpan pinjam dan retail saja, atau retail dan produksi saja. Saya akan agendakan lagi dan mengajak teman-teman Dekopin ke sini untuk diskusi lebih detail lagi soal yang tadi itu”, sambungnya.

Direktur Kopkun Institute, bahwa berbagai gagasan dan masukan yang banyak itu akan percuma manakala Dekopin tak bisa realisasikan. “Jadi saya sebenarnya ragu, Pak. Apa bisa Dekopin bekerja dengan serius. Lihat saja, Pak, itu website Dekopin dari berapa tahun lalu, baru sekarang mulai bisa disimak, itupun karena ada event Kongres Makassar kemarin. Nanti kita lihat, kontinyu apa tidak. Itu contoh kecil, Pak. Mengerjakan yang kecil saja tidak tuntas, bagaimana yang besar-besar. Jadi apa yang kurang di Dekopin itu passionnya. Dana ada, tapi selalu saja hasilnya medioker”, tegas Firdaus.

Dengan lantang Firdaus mengkritik bagaimana Dekopin selama ini kinerjanya selalu dipertanyakan. “Sebenarnya bila mau membuat perubahan, Dekopin pertama-tama yang harus direformasi. Orang-orang yang tak bisa kerja, ya harusnya diganti. Bila masih begitu-begitu saja, ya hasilnya omong kosong”, tegasnya. “Kita harus contoh gerakan Koperasi Kredit, tidak perlu anggaran dari pemerintah tapi buktikan diri bisa besar secara mandiri. Pendidikan-pelatihan ya mereka biayai sendiri. Jadi ada faktor lain selain masalah anggaran yang kecil. Itu adalah passion”, sambungnya.

“Terimakasih teman-teman atas masukan ide-ide dan kritiknya”,  tegas Ketua Harian Dekopin Pusat itu. Diskusi singkat itu berlangsung pada 22 Juli 2017 di Meeting Room, Kopkun Swalayan Pusat. []

Keterangan:

  • Website saat ini: https://dekopin.id/
  • Website sebelumnya: http://dekopin.ekopriyanto.com/
  • Website Harkop 2017: http://www.harkopnas.com/
Short URL: http://bit.ly/2urD1mi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.