• June 1, 2018
Milenial Banyumas Dalam Persimpangan Pilihan Politik

Kamis, 31 Mei 2018 kemarin, Kopkun Institute menghadiri bedah data temuan survey
Lingkar Kajian Banyumas dan Navigator Research Strategic tentang pemilih milenial di
Kabupaten Banyumas. Mengambil tempat di Aula FISIP Universitas Jendral Soedirman,
acara berlangsung santai dan cukup meriah. Terutama karena ada live music​ yang
memecah kebekuan di sela-sela jeda antar acara. Pemaparan hasil survei sendiri dimulai
pada pukul 15.30 mundur sekitar 30 menit dari jadwal semula.
Survey tersebut, menurut Direktur Navigator Research Strategic,Novita Sari, dilatarbelakangi
cukup tingginya pemilih muda di Banyumas jelang pemilihan pasangan Bupati pada 27 Juli
mendatang. Menurut data dari BPS Banyumas, jumlah pemilih muda ini mencapai 348.979
jiwa atau setara 26,8% dari total pemilih sebanyak 1.300.326. Angka ini tentu
menggambarkan bahwa pemilih muda cukup memiliki dampak bagi perolehan suara masing
masing calon. Terutama karena–ditengah arus informasi digital– mereka dikenal aktiv di
media sosial yang kini juga telah menjadi medan pertempuran baru dalam dunia politik
praktis.
Survey tersebut dilakukan pada 3-7 Mei 2018 dengan melibatkan 400 responden. Metode
survei menggunakan pendekatan multistage random sampling​, dimana responden dipilih
secara acak dari berbagai desa di Banyumas yang telah dibagi secara proporsional.
Responden yang dipilih adalah anak muda berusia 17-30 tahun dengan metode
pengumpulan data berupa wawancara secara tatap muka langsung. Sementara margin of
error​ ditetapkan sebesar 5%.
Dari temuan hasil survey mayoritas anak muda di Banyumas mengaku tahu tentang adanya
pemilihan Bupati pada Juli mendatang. Dan hanya 8% saja responden yang mengaku tidak
tahu. Rata-rata dari mereka mengaku mengetahui informasi tentang Pilkada dari media
online, tetangga maupun keluarga, serta media cetak. Sementara yang mengetahui
informasi Pilkada dari sosialisasi KPU hanya 5,5%.
Survey tersebut juga memotret persepsi generasi milenial Banyumas tehadap partai politik.
Sebanyak 10,2% responden menganggap partai politik identik dengan hal negatif dan 20,2%
lainya menganggap partai politik penuh dengan kepentingan (segelintir elit). Sementara
30,5% menjawab tidak tahu atau tidak memberi jawaban. Dari hasil tersebut kita bisa
menilai bahwa partai politik, sejauh ini belum bisa menarik perhatian generasi milenial.
Sejalan dengan temuan tersebut, Wildansyah, salah satu panelis dalam bedah data
tersebut mengungkapkan salah satu faktornya adalah banyaknya elit politik masih
menggunakan cara cara lama untuk mengenalkan politik pada generasi muda. Hasilnya
politik menjadi tidak menarik, ditambah dengan berbagai berita negatif yang menyangkut
politikus kita.
Sementara panel

Disisi yang lain, Bangkit Ari Sasongko, yang juga direktur LPPSH menyoroti soal
minimnya determinasi anak muda pada dunia politik sehingga politik hari ini didominasi oleh
kalangan tua. Menurutnya anak muda harus berani mengambil bagian dalam perumusan
kebijakan maupun dalam mengawal isu-isu strategis. Lebih lanjut ia juga mengajak agar
anak muda tidak hanya menjadi penonton dalam ajang pesta demokrasi seperti Pilkada
mendatang.
Hadir juga sebagai panelis adalah Haryadi, yang merupakan dosen di FISIP Unsoed.
Dalam sesi tanggapanya ia menilai bahwa munculnya sentiman keagamaan dalam memilih
pemimpin di kalangan generasi muda bisa jadi merupakan pertanda pergeseran budaya di
Banyumas. Sejauh ini, menurutnya, Banyumas dikenal sebagai daerah yang masuk
kategori abangan.

Perlu diketahui dalam hasil survey tersebut, faktor agama menduduki
peringkat kedua dalam menentukan pilihan politik generasi milenial Banyumas dengan
32,8%. Sementara responden yang mengaku memilih berdasar kinerja dan pengalaman
sebanyak 50,8%. Kondisi tersebut mencerminkan cukup tingginya faktor irasional yang
mempengaruhi pilihan politik, bahkan bagi generasi milenial.

Oleh Fajar,HC

Short URL: Generating...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *