• February 10, 2018
Menteorikan Kota Koperasi – Belajar Antar Teman Sejawat
Belajar Antar Teman Sejawat (BATS) adalah forum belajar yang digagas oleh Kopkun Institute. Tujuannya untuk sharing ilmu pengetahuan antar sesama, untuk memperluas wawasan dan cara pandang.

 

Pemantik BATS kali ini adalah Novita Puspasari, HC., Dosen Fakultas Ekonomi Unsoed dan Kepala Deputi Riset Kopkun Institute. Kali ini mengangkat tema tentang kota koperasi. Dipilih untuk memperkaya gerakan koperasi sedang menggagas Purwokerto menjadi kota koperasi.

 

Kota koperasi ada banyak sekali, di Amerika ada kota Bronx. Kota yang kerap menjadi latar syuting film Hollywood. Geser ke Eropa, kota seperti Bucharest dan Berlin di Rumania dan Jerman, mengindentifikasi diri sebagai kota koperasi.

 

Penggerak koperasi disana menjadikan koperasi sebagai metode penyelesaian masalah. Entah itu dalam lingkup ekonomi maupun sosial. Misal menggunakan kembali aset-aset mangkrak milik pemerintah agar punya nilai ekonomi. Jika masalah sosial muncul, semisal kemiskinan, maka penyelesaian pun dengan koperasi.

 

Dalam pengayaan itu, Novita Puspasari memaparkan dua teori. Network Goverment dan Urban Branding.  Dalam teori pertama lebih mengutamakan keterlibatan banyak aktor yang berjejaring satu sama lain membentuk proses tertentu. Dalam model ini tidak ada struktur formal, bersifat fleksibel, dan sangat mengandal proses. Proses ini memiliki kekurangan karena jika ada safu aktor lepas, ia akan mempengaruhi yang lain.

 

Teori kedua Place branding. Ini adalah model branding dalam upaya menaikan citra tempat, senarai dengan product branding. Hal ini seperti yang di dilakukan oleh kota seperti Bandung dan Jogja. New york juga Belanda. Dalam proses branding ini melibatkan banyak aktor, selain aktor lokal, regional juga pemerintahan. Meskipun ini kerap lebih pada euforia singkat, terjebak citra visual.

 

Apakah sudah ada permasalahan kolektif untuk mewujudkan Kota Koperasi?
Pada kenyataanya masing masing hub, komunitas kreatif, gerakan sosial mempunyai keresahan isu yang berbeda beda satu sama lain.

 

Dalam paparan Novita ada tiga pola tata kelola berjejaring yakni Self-Managed, Lead Organization, dan Network Admin Organization 

 

Menurut Aldo, keresehan sudah ada di masyarkat. Terutama menyangkut jaringan ritel modern yang begitu menyingkirkan pelaku ritel kecil dan tradisional. Karena pertumbuhan mereka yang tak terkendali membunuh mereka yang bermodal kecil. Sehingga perlu ada penyatuan berbagai aktor multi pihak untuk bersatu disadari keresahan yang sama.

 

Anggit sebagai bagaian dari komunitas kreatif menanggapi bahwa masalah di Purwokerto hari ini narasi primordialnya masih begitu kuat. Dalam Banyumas kreatif sendiri berupaya menghilangkan primordialisme sendiri. Setelah itu cari benang merahnya. Sehingga masyarakat bisa bersatu berdasarkan masalah itu.

 

Satrio, dari media massa. Purwokerto itu seperti mata air tapi tanpa muara. Mendorong masyarakat untuk menggunakan berbagai varian produk teknologi di Purwokerto agar mereka lebih percaya diri. Jadi kita fokus sebagai pemantik bagi masyarakat agar mereka menggunakan ruang agar digunakan oleh orang lain. Diluar masyarakat soal identitas tidak perlu pakai Purwokerto kota koperasi.

 

Sarwono. Pada titiknya Banyumas akan terjadi ledakan ekonomi seperti Solo dan lain sebagainya. Masuknya teknologi tanpa diiring pra sayarat sosial ke desa juga punya dampak negatif. Selain itu Banyumas sulit bersatu, termasuk koperasinya.

 

Kegiatan ini dilaksanakan di Kafe Libero pada 9 Februari 2018. Unduh materi, klik [di sini] []
 
Short URL: http://bit.ly/2H5DLUf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.