• September 29, 2018
Menjadi Lokomotif Penggerak Kota Koperasi

Merdeka.com – Jalannya Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas digerakkan oleh energi kreatif anak-anak muda. Usia mereka di bawah 35 tahun. Daya hidup saling bahu membahu digelorakan oleh sebuah prinsip: mengembangkan koperasi agar lebih berdaya menjadi institusi ekonomi rakyat.

Firdaus Putra HC adalah bagian dari anak-anak muda tersebut. Ia telah bergiat di Kopkun selama 9 tahun. Firdaus masih mengingat persis mulai terlibat di Kopkun pada 5 September 2009. Saat itu, usianya baru menginjak 24 tahun. Ia baru lulus dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Kala itu, pikirannya didera waswas mengamati ekses-ekses buruk ekonomi kapitalistik menerbitkan aneka mala dan miasma. Terkurasnya kekayaan alam, akumulasi kekayaan yang menumpuk di segelintir orang serta kompetisi ekonomi yang mengerikan jadi pangkal kegelisahannya.

Firdaus pun memilih berkoperasi yang dinilainya mampu mendorong aset kolektif tumbuh. Sedang di sisi lain perluasan usaha koperasi dalam pandangannya dapat menggerus pelan-pelan pasar kapitalistik.

“Koperasi itu bukan sekadar turun ke jalan demo. Tapi mobilisasi sumber daya langsung. Mereka buka toko, kita buka juga. Mereka buka industri keuangan, kita buka juga. Mereka buka pabrik, kita buka juga”, ujarnya kepada merdeka.com awal September kemarin.

Usia Firdaus kini 33 tahun. Ia menjadi Chief Operating Officer (COO) Kopkun sekaligus Direktur Kopkun Institute. Firdaus berkata Kopkun terus berupaya menciptakan modus ekonomi baru agar warga di Purwokerto menjadi pemilik ruang konsumsinya.

“Tentu saja sebuah perubahan membutuhkan proses dan waktu yang lama”, lanjutnya.

Dua belas tahun silam, pada tahun 2006, Kopkun mulai meniti langkah sebagai koperasi konsumen. Unit usaha utama bermula dari mini market yang beruang sempit. Perlahan Kopkun tumbuh menjadi swalayan berkonsep retail modern.

Kopkun swalayan mulai membuka cabang pada tahun 2013. Lokasinya di Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara. Di lingkungan kampus ini, Kopkun menggaet segmen mahasiswa. Berselang setahun kemudian, Kopkun swalayan kembali membuka cabang di Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan. Segmen yang disasar masyarakat perumahan.

Kopkun pusat lantas di-relaunching pada tahun 2017. Berbentuk pusat layanan terpadu lokasi dipilih di Jalan HR Boenyamin, Purwokerto. Berdiri di atas lahan 1.200 meter dengan bangunan dua lantai, Kopkun Swalayan, Kopkun Simpan Pinjam, Kopkun Institute dan layanan administrasi berada dalam satu atap. Kini anggota Kopkun berjumlah 1434 orang; 454 di antaranya berstatus mahasiswa.

Di Kopkun Pusat inilah ide-ide inovasi dalam program pemberdayaan melalui koperasi digagas oleh anak-anak muda. Firdaus bercerita anak-anak muda lintas profesi dan pendidikan diwadahi dalam lembaga Kopkun Institute yang dibentuk tahun 2014. Peneliti, akademisi, aktivis koperasi, web designer, fotografer diberi ruang berkolaborasi.

Mereka lantas melakukan riset. Mengekspresikan gagasan-gagasan berkoperasi dalam tulisan di media. Mereka juga merangkul berbagai kalangan mulai dari koperasi di pedesaan sampai komunitas ekonomi kreatif di perkotaan untuk bersinergi bersama.

“Geliat koperasi tak akan tercapai tanpa keterlibatan semakin banyak orang yang jadi anggota koperasi. Pemberdayaan, riset dan edukasi kami jadikan program berkesinambungan di Kopkun Institute. Tujuannya menyebar luaskan nilai-nilai koperasi yang berwatak etis dan humanis”, ujarnya.

Maksud utama kerja kolaboratif multi pihak itu, pernah diurai oleh Deputi Riset dan Pengembangan Kopkun Institute, Novita Puspasari. Ia menerangkan secara rinci dalam opini di portal kolom populer Geotimes berjudul “Potret Gerakan Kota Koperasi: Dari Roma hingga Purwokerto”. Novita menulis Kopkun Institute mendorong terjadinya model pembangunan ekonomi masyarakat urban yang berbasis komunitas dengan model kepemilikan koperasi.

Di Banyumas tempat Purwokerto berada, Novita membeber data terdapat sekitar 416.690 anggota koperasi dan 475 koperasi. Tetapi sayang angka kemiskinan di Banyumas masih tinggi. Dengan kata lain, koperasi belum memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat Banyumas.

Kopkun ingin menggapai imaji, tahun 2022 mendatang, Purwokerto bakal menjadi kota koperasi. Pekerjaan rumah utama gerakan Purwokerto Kota Koperasi memang tak mudah. Kopkun mesti berkontribusi nyata meningkatkan kesejahteraan 60.000 Usaha Mikro Kecil (UMK), 27.000 kepala keluarga penderes nira, kelompok-kelompok tani dan kelompok yang ada di the bottom of the pyramid lainnya lewat koperasi.

Tak semata ingin bergagah-gagah dengan wacana, Firdaus bercerita praktek pemberdayaan koperasi pedesaan. Ia mencontohkan, Kopkun mendampingi petani penyadap nira yang terhimpun dalam Koperasi Argo Mulyo Jati (AMJ) di desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh. Skema pendanaan tabungan dirancang bersama-sama untuk praktik pembiayaan mikro. Tujuannya agar penyadap nira tak terjerat praktik bisnis eksploitatif rentenir atau tengkulak.

Konsultasi pengelolaan koperasi dan Bumdes juga dilakukan Kopkun baik di Kabupaten Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Mereka pun ikut serta menginisiasi pembentukan 30 warung dan 10 retail koperasi modern. Satu tahun terakhir ini, digagas pemberdayaan puluhan pengayuh becak agar mendapat alternatif pendapatan dengan memberi layanan jasa perbantuan berbasis aplikasi daring (online).

Staf Divisi Riset Kopkun Institute, Fajar didapuk jadi bagian tim yang mengawal wirausaha sosial berbasis aplikasi daring bertajuk Pedi Solution. Di dalam aplikasi ini, terdapat layanan jasa perbantuan Pedi Help. Mitra yang dirangkul para pengayuh becak yang tergabung dalam Peseduluran Jalan Kampus (Perjaka). Ide kemitraan ini bermula dari keprihatinan, semakin menyusutnya pendapatan pengayuh becak karena tergusur moda angkutan lain.

“Para tukang becak kalah dua kali, oleh ojek pengkolan lalu online. Seringkali mereka gak ada job, kita mikir bagaimana mereka bisa memperoleh penghasilan yang lain”, ujarnya pada Merdeka.com, Sabtu (22/9).

Di Pedi Help terkoneksi 20 orang pengayuh becak. Mereka diberi pekerjaan baru mulai dari jasa bersih kamar, toilet, dapur, halaman sampai taman. Kisaran biaya mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 100.000. Hasil layanan jasa itu 80 persen masuk ke kantong pengayuh becak. Sedang sisanya 20 persen dikelola manajemen Pedi Help untuk kebutuhan operasional.

“Nantinya di akhir tahun sisa uang operasional dibagikan kembali ke para tukang becak. Karena mereka juga menjadi pemilik dari Pedi Help. Kami belajar menerapkan sistem koperasi pekerja,” ujarnya.

Bisa dikatakan keaktifan Fajar berkoperasi, adalah buah dari ketekunan Kopkun melakukan edukasi tentang koperasi pada kalangan anak muda. Beraktivitas di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) Lebah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Fajar pertama kali mengenal dan bersinggungan dengan pegiat Kopkun. Saat itu Kopkun melakukan pendampingan program penyusunan kurikulum Kopma nasional tahun 2013.

Kerap bertukar pikiran dengan pegiat Kopkun di pertemuan kelompok diskusi, Fajar merasa ada spirit perjuangan yang khas di Kopkun. Nilai-nilai kebersamaan digaungkan guna mewujudkan pemerataan ekonomi.

Fajar juga melihat Kopkun tak semata-mata mengurusi simpan pinjam atau memperdagangkan barang. Tapi juga menerbitkan buku untuk menyebarkan gagasan dan bergerak di sektor ekonomi kreatif. Tahun 2016, Fajar memutuskan menjadi volunteer di Kopkun Institute.

“Hal identik yang saya perhatikan di koperasi-koperasi Purwokerto selalu bertemu dengan orang-orang tua. Sedang di kopkun sebaliknya. Saya bertemu anak-anak muda. Saya serasa dapat teman seusia yang punya pandangan sama,” ujar Fajar yang berusia 25 tahun.

Bendahara pengayuh becak Perjaka, Hadi Suwito juga punya kesan tersendiri pada Kopkun. Ia bersama sejumlah tukang becak yang biasa mangkal di Jalan Kampus, Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara memantabkan diri menjadi anggota Kopkun sejak tahun 2015.

Latar belakangnya, pegiat Kopkunlah yang mengusulkan mereka membentuk paguyuban. Kopkun pula yang mendorong kesadaran menyisihkan sedikit pendapatan untuk ditabung, Kopkun juga jadi akses keuangan ketika mereka tengah mendapat kesulitan ekonomi.

“Saya sendiri pernah pinjam uang Rp 500 ribu untuk menambah modal jualan gorengan,” kata Hadi yang berdagang gorengan di pangkalan becak Jalan Kampus.

Hadi mengenang, pada 17 September 2017, ia berkeluh kesah semakin minimnya pendapatan pengayuh becak di lingkungan kampus Unsoed. Obrolan di Kopkun Swalayan pusat itu, lantas bergulir mencari alternatif pendapatan lain bagi pengayuh becak. Jasa perbantuan bersih-bersih rumah lantas mengemuka dan dipandang bisa menjadi solusi.

“Dua hari kemudian, sudah ada orderan bersih-bersih rumah. Itu orderan pertama kali ke anggota Perjaka,” ujar Hadi di kediamannya, Sabtu (29/9).

Hadi dan para pengayuh becak, kini melayani jasa perbantuan di wilayah enam kelurahan yakni Grendeng, Karangwangkal, Sumampir, Bancarkembar dan Pabuaran. Mereka umumnya diminta bersih-bersih kamar tidur atau kamar mandi di rumah-rumah indekos mahasiswa. Dalam sebulan, satu anggota Perjaka dari Pedi Help bisa menerima 6 sampai 8 orderan. Meski dihitung-hitung dalam sebulan jumlah total uang yang didapat kisaran Rp 240.000, Hadi tak kecewa.

“Sudah ada yang memperhatikan kesejahteraan tukang becak kami senang,” ujarnya.

Dalam kata-kata Hadi itu, tersirat bahwa relasi sosial-ekonomi yang ia harapkan dilandasi oleh semangat pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Kopkun telah melaksanakan tanggung jawab moral tersebut berupaya mendampingi masyarakat menggapai taraf hidup jadi lebih baik.

Tentu, mengubah nasib banyak orang sekaligus jadi lebih baik bukan perkara sepele. Kopkun setidaknya telah mengawali langkah: merangkul berbagai kalangan, bersinergi menggeliatkan koperasi. Sinergi itu, di satu sisi adalah jalinan kelapangan hati untuk saling berbagi pelbagai hal, baik pemikiran, skill maupun logistik. Sedang di sisi lain menegaskan bahwa Kopkun telah menyediakan diri menjadi lokomotif penggerak menuju kota koperasi yang mereka cita-citakan. [cob]

Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/menjadi-lokomotif-penggerak-kota-koperasi.html

Reporter: Abdul Aziz

Short URL: http://bit.ly/2y3gONP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.