• May 25, 2018
Membangun Tim dan Pemberdayaan Melalui Ritel

Malam minggu dimana para pasangan anak muda pada pacaran di tempat kesukaannya, mulai dari yang paling gelap hingga yang terang benderang macam mall yang baru saja grand opening. Kami-kami ini yang sehari-harinya bisa dibilang Tim Konsultan Ritel Kopkun Institute alias Tim Anoa alias Tentara Langit ataupun sebutan lainnya, melaksanakan meeting full team.

Meeting yang biasanya kita lakukan secara virtual via WA, kali ini meeting fisik tatap muka di mabes Kopkun Pusat. Bahasannya cukup beragam, mulai dari progress report hingga penyusunan schedule minggu depan berikut dengan target-target pekanannya.

Bagi kami, target adalah nafas dalam pekerjaan yang dilakukan. Sebab ragamnya fenomena lepangan, seringkali menjadikan hal-hal yang sifatnya prosedural formal cenderung tidak klop.

Kekompakam tim dalam menghadapi dinamisnya lapangan akhirnya menjadi penting. Apalagi, kami-kami ini kerjaan hariannya adalah pendampingan. Tentu, dalam pendampingan banyak permasalahan awal muncul yang menjadi latarbelakang mengapa perlu didampingi.

Malam ini juga kita ulik satu-satu bagaimana kondisi saat ini dari masing-masing tempat yang kami dampingi. Apakah SOP, omzet, persediaan barang, dan lain sebagainya dalam posisi yang mendekati ideal.

Mengapa perlu laporan itu? Sebab ya jawabannya sederhana, Teman-teman yang sudah mapan secara keuangan dan tempat sudah aman saya pastikan kecil kemungkinan untuk meminta pendampingan. Oleh karena itu, pada titik ini kita olah konsep dan strategi bisnis yang sesuai.

Maka, jangan heran apabila saya cukup sering update posisi luar kota. Ini dalam upaya untuk memberikan pendampingan intensif. Mereka ini kita kawal tuntas hingga dapat mencapai apa yang menjadi target kita bersama.

Dalam tim ini, kita terus upgrade konsep dan strategi. Kematangan bisnis bukan hanya dalam posisi kita mendapatkan konsumen baru, akan tetapi menaikkan menjadi pelanggan dan pelanggan loyal. Ini yang menjadi concern kita dalam meraih omset: merawat pelanggan dan branding yang cocok.

Tapi, nggak juga sih. Selain pendampingan pada koperasi dan pihak-pihak swasta, kita juga mengembangkan konsep. Konsep tersebut adalah jaringan warung dan jaringan BUMDES.

Dimana warung-warung di masyarakat mulai upgrade mampu pada titik BEP dalam meraih omsetnya. Jadi jualannya nggak sporadis, mereka akan kita latih jualannya pake pola dan by data. Sehingga apa yang dijual menjadi lebih akurat.

Begitu pun yang kami dampingi BUMDES yang memang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Masyarakat ini anggota koperasi, oleh karenanya keduanya saling merawat adalah strategi yang cukup optimal untuk mendapatkan omzet rutin penjualan toko kan?

Ini sebabnya apabila koperasi dikelola dengan baik dan benar, tentu akan sinergis dan saling menguntungkan. Sayangnya kesadaran bersama ini belom terbentuk di kalangan masyarakat.

Jadi, sudah paham yaa, bahwa empowering bukan hanya tentang memberi dana hibah dan raskin, atau parahnya bagi-bagi sembako di tengah jalan dari dalam mobil. Akan tetapi membentuk basis-basis komunitas untuk dikit demi sedikit membentuk skala ekonomi yang luas.

Mereka ini bukan butuh santunan, melainkan taraf ekonomi untuk memenuhi kebutuhan. Mari kesejahteraan bukan hanya jadi slogan kampanye, tapi betul adanya perjuangan di lapangan.

Short URL: Generating...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.