• July 24, 2017
Lokakarya Koperasi Perubahan untuk KUD Angkatan Ke-2

Kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM Prov. Jawa Tengah Kopkun Institute selenggarakan Lokakarya Koperasi Perubahan. Kegiatan itu diikuti oleh 30 KUD di Jawa Tengah area Pantura. Lokakarya Koperasi Perubahan itu mengambil tema “Cara Koperasi Naik Kelas”, tujuannya untuk membangun kapasitas kelembagaan dan tata kelola agar KUD-KUD bisa naik kelas dari skala mikro, kecil, menengah bahkan besar.

Dalam lokakarya tersebut peserta didorong untuk berpikir maju ke depan (looking forward) daripada terjebak pada nostalgia masa lalu (looking backward) tentang kejayaan KUD di era Orde Baru. “Banyak tantangan ke depan yang membutuhkan kerja keras agar KUD bisa bertahan minimal 10-20 tahun mendatang. Bila Bapak/ Ibu tidak berubah, dipastikan akan tergeser oleh pelaku ekonomi lainnya”, ujar salah seorang mentor.

Peserta juga diperkenalkan pendekatan untuk membangun kapabilitas dinamis lembaga sehingga melihat melihat perubahan sebagai hal yang niscaya untuk dilakukan. Dalam sesi itu ada kisah menarik dari salah satu KUD Kab. Tegal dimana mereka telah lakukan perubahan nama dari Koperasi Unit Desa menjadi Koperasi Usaha Daerah (KUD). Hal itu mereka lakukan sebagai cara untuk kembangkan kapasitas kelembagaan sehingga memiliki skala sosio-ekonomi yang luas.

Kegiatan itu dilaksanakan pada 18-21 Juli 2017 di Hotel Moro Seneng, Baturraden. Peserta terlihat antusias meski lokakarya dimulai sejak pukul delapan dan selesai pukul 10 malam. Bahkan di malam terakhir kegiatan berlangsung sampai pukul 12 malam. Hal itu nampaknya tak mengurangi semangat peserta karena mentor/ fasilitator yang muda-muda dapat membangun dinamika forum dengan baik.

Dalam satu sesi peserta dibagi menjadi lima kelompok didampingi oleh para fasilitator untuk melakukan analisis SWOT kondisi KUDnya masing-masing. “Analisis SWOT ini sebagai permulaan untuk kemudian membangun visi-misi koperasi. Biasanya visi-misi itu kalimatnya bagus-bagus dan besar-besar, dalam lokakarya ini kami latih peserta membuat pernyataan visi yang bisa dicapai sehingga jelas menurunkannya menjadi target dalam program kerja. Jangan sampai visi-misi hanya menjadi tempelan profil koperasi. Itu basa-basi namanya”, tegas para mentor, Herliana, HC., Vledy Afief, HC. dan Angjar Muti, HC. di masing-masing kelompoknya.

Lokakarya secara umum mendorong peserta untuk membangun Manajemen Perubahan serta Perencanaan Strategis (Renstra) di KUDnya masing-masing. “Perubahan itu harus dilakukan dan dikelola secara baik. Itulah pentingnya kita belajar Manajemen Perubahan. Dengan memahami anatomi perubahan, kita bisa mengelolanya dengan baik. Misalnya bagaimana respon orang-orang terhadap perubahan yang tak selalu positif. Nah, yang seperti itu harus dikelola agar tidak kontra produktif”, terang Firdaus Putra, HC., dalam sesi diskusi.

Kopkun Institute menemukan bahwa banyak koperasi dan tak terkecuali KUD yang tak memiliki Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan. Itu yang membuat pengelolaan koperasi dijalankan secara sporadis dan tidak terencana. “Sebagian besar mereka tak punya Renstra, sehingga Program Kerja tahunan biasanya copy-paste tahun sebelumnya atau suka-suka Pengurus yang menjabat. Dengan adanya Renstra, Pengurus cukup menurunkan Road Map lima tahun ke dalam program kerja tahunan”, jelas Novita Puspasari, HC., salah seorang mentor yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed.

Dalam kegiatan itu dihadirkan beberapa koperasi lain yang sudah melakukan perubahan di koperasinya. Ada Koperasi Pasar Manis (Kopamas), Argo Mulyo Jati, NEU Banyumas serta KSU Mitra Purbalingga. Dalam sesi testimonial itu peserta antusias menyaksikan para Pengurus/ Manajer koperasi dapat membuat perubahan sehingga koperasi bekerja secara efektif serta produktif meski berangkat dari kondisi negatif (bangkrut).

Dipandu oleh sedikitnya 7 mentor, kegiatan panjang itu membuat perserta yakin untuk berubah. “Jadi kenapa kita buat moto kegiatan ini adalah “Jangan basa-basi!”, karena sudah terlalu banyak omong kosong yang kita kerjakan di koperasi. Mungkin terdengar kasar dan vulgar, namun kalau Bapak/ Ibu mau jujur, kondisinya seperti itu. Bapak/ Ibu bisa lihat, berapa kali Bapak/ Ibu diundang ikuti pelatihan A, pelatihan B, lokakarya C dan seterusnya. Tapi apa dampaknya, masih sama saja. Itu yang namanya kita penuh omong kosong”, terang Direktur Kopkun Institute saat membuka kegiatan.

Di akhir sesi peserta diajak menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang berisi timeline untuk membuat Tim Perubahan diikuti dengan proses perencanaan strategis di koperasinya masing-masing. Sebagai pungkasan, mereka menandatangani Pakta Perubahan sebagai ikrar mereka untuk memulai dan mengawal perubahan di tiap KUD. “Hal ini kita lakukan agar memahami bahwa kegiatan ini bukan formalitas pelatihan belaka. Namun untung-ruginya, mereka sendiri yang akan merasakan. Siapa yang serius akan memperoleh manfaat besar dari lokakarya ini”, terang perwakilan Pengurus PUSKUD Jawa Tengah.

“Saat ini ada sekitar 500an KUD di Jawa Tengah, yang aktif sampai 300 KUD. Kami berharap nanti semua KUD bisa ikuti lokakarya seperti ini secara bertahap. Sehingga seluruh Pengurus/ Manajer KUD terbuka mindsetnya”, Pengurus PUSKUD dalam sambutan penutupannya. “Lokakarya untuk lakukan perubahan mindset ini merupakan salah satu maklumat Gubernur Jawa Tengah dalam peringatan Hari Koperasi ke-70 kemarin, semoga sepulang dari lokakarya ini teman-teman KUD punya cara pandang baru”, sambung Staf Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah saat melepas peserta pulang. []

Short URL: http://bit.ly/2uPplUB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.