• October 29, 2016
Lembaga Keuangan Berbasis Kearifan Lokal ala Masril Koto

Jauh sebelum Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gembar-gembor soal inklusi keuangan, layanan keuangan bagi kelompok marginal yang ada di bagian bawah piramida (bottom of the pyramid).  Nun jauh di Bukittinggi, Sumatera Barat, Masril Koto sudah menerapkannya.

Akses Layanan Keuangan Terbatas Bagi Petani

Jumat, 27 Oktober 2016, Masril Koto berkesempatan hadir dalam Kopdar Ke-5 Grup Ekonomi Koperasi Banyumas di PLUT Dukuhwaluh. Ia menceritakan kisahnya mendirikan sekitar 900 Bank Petani di seluruh Indonesia.

“Sekitar Tahun 2004/2005, saya berpikir, kenapa kok akses keuangan petani di desa saya sulit sekali ya. Pinjam ke Bank A tidak bisa, ke Bank B tidak bisa”, ia mengawali sesi Kopdar hari itu dengan menjelaskan awal mula idenya.

“Akhirnya saya berpikir kenapa tidak kita (petani) saja buat bank sendiri”, lanjutnya.

Untuk mewujudkan idenya itu ia menghubungi berbagai pihak, dari para Kepala Bank yang ada di Sumatera Barat (Sumbar), hingga Kepala Dinas Pertanian. Hampir semua yang didatangi merasa bahwa idenya tidka masuk akal. Namun, Kepala Dinas Pertanian mau memfasilitasi keinginan Masril dkk tersebut dengan memberikannya Pelatihan Akuntansi.

“Ini dasar-dasar yang wajib kamu ketahui”, tiru Masril.

Masril Koto dkk akhirnya mengikuti pelatihan akuntansi tersebut. Kelompok Masril hampir semuanya petani, kecuali satu orang, Yanti, yang merupakan Sarjana Teknik di desa tersebut. Selama seminggu mengikuti pelatihan akuntansi, Masril dkk merasa bingung.

“Semakin banyak yang diajarkan, kami semakin bingung. Jangankan kami yang petani, Yanti saja yang sarjana teknik (pembuatan jembatan) tidak tahu apa yang sedang diajarkan”, ungkap Masril.

Meskipun begitu, dasar-dasar mengenai perbankan sudah cukup ia ketahui. Hal ini membuatnya percaya diri untuk membuka Bank Petani pertama di desanya. Untuk mendapatkan modal awal, Masril dkk menjual saham ke masyarakat di desanya. Kendati ada kendala saat mencoba menjelaskan kepemilikan lewat saham pada masyarakat sekitar, toh ia berhasil juga mengumpulkan modal awal sebesar Rp. 15.000.000. Setelah modal terkumpul, Bank Petani resmi beroperasi. Bank Petani ini melayani tabungan dan peminjaman dari nasabahnya, yaitu petani dan keluarganya.

Di saat pemerintah masih berwacana soal inklusi keuangan, Masril Koto dkk sudah lebih dulu mengaplikasikannya.

Layanan Keuangan yang Menjawab Kebutuhan

Menurut Masril, lembaga keuangan harus menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di sekitarnya dan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Berangkat dari hal itu, ketika akan membuat layanan keuangan di Bank Petani,  ia mencoba mencari tahu dahulu apa permasalahan yang ada di desanya.

Masalah pertama yang ditemui Masril adalah masalah biaya persalinan. Keluarga petani yang ada di desanya seringkali mengalami kesulitan untuk membiayai proses persalinan sang ibu. Kondisi ini diperparah dengan angka kelahiran yang cukup tinggi. Masril akhirnya membuka layanan Tabungan Ibu Hamil di Bank Petani. Tabungan ini khusus bagi petani yang ingin mempersiapkan biaya untuk persalinan istrinya.

Masalah kedua yang ditemui Masril adalah kesulitan biaya transportasi bagi anak-anak desanya yang ingin mendaftar untuk masuk ke Perguruan Tinggi yang ada di ibukota Propinsi, Padang.

“Jangankan biaya kuliah, biaya transportasi untuk mendaftar kuliah ke kota Padang pun, petani tidak punya”, jelas Masril.

Bank Petani pun mengeluarkan Tabungan Pendidikan untuk mengatasi masalah biaya transportasi pendaftaran anak-anak desa ke Perguruan Tinggi, ditambah lagi Bank Petani juga meminjamkan uang untuk biaya kuliah anak-anak petani yang kurang mampu. Pinjaman ini dapat dilunasi ketika mereka sudah lulus dan mendapat pekerjaan.

Masalah lainnya yang ditemui oleh Masril di desanya adalah jarak dari rumah ke sekolah yang sangat jauh. Anak-anak sekolah harus berjalan kaki berkilo-kilo meter setiap harinya untuk berangkat ke sekolah. Sudah jauh berjalan kaki, mereka pun harus membawa buku-buku berat di tas mereka. Masril ingin anak-anak sekolah ini tidak terbebani beban yang berat saat berjalan kaki ke sekolah. Ia berpikir bahwa gadget seperti iPad (tablet), dapat menggantikan buku-buku yang berat itu.

“Kalau ada iPad, mereka tidak perlu lagi bawa-bawa buku yang berat itu”, tuturnya.

Dilatarbelakangi hal ini, Bank Petani pun membuat Tabungan Kepemilikan iPad.

Beberapa masalah lain yang ditemui Masril di desanya menginspirasinya membuat berabagai macam produk tabungan. Tabungan Pajak Motor, misalnya, untuk mengakomodir tukang ojek agar taat membayar pajak motor dan memiliki SIM. Tabungan Haji untuk mengakomodir keinginan sebagian besar petani untuk dapat berangkat ke tanah suci. Berbagai macam produk tabungan ini; Tabungan Ibu Hamil, Tabungan Pendidikan, Tabungan Kepemilikan iPad, Tabungan Pajak Motor dan Tabungan Niat Naik Haji, merupakan produk-produk layanan keuangan Bank Petani yang lahir untuk mengatasi permasalahan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Kearifan Lokal dan Modal Sosial sebagai Kekuatan

“Pernah nggak ada kredit macet, da?”, tanya moderator acara Kopdar, Firdaus Putra, kepada Masril Koto yang akrab dipanggil Uda Masril.

Nggak pernah”, jawabnya mantap.

Uda Masril bercerita bahwa dalam masyarakat Minang, berhutang sebenarnya adalah hal yang memalukan sehingga mereka selalu melakukannya secara diam-diam. Di awal perjanjian peminjaman uang oleh Bank Petani telah disepakati bersama antara Bank Petani, masyarakat desa dan para tokoh-tokoh desa bahwa jika ada orang yang melalaikan kewajiban hutangnya, maka namanya dan nama keluarganya akan diumumkan lewat pengeras suara di Masjid Desa, setiap hari Jumat.

“Hal ini sangat efektif menekan kredit macet. Tidak ada orang yang berani tidak bayar hutang”, kata Masril Koto.

Kearifan lokal dan modal sosial, menurut Masril, merupakan kekuatan yang harus dimanfaatkan. Setiap daerah memiliki kearifan lokal dan modal sosialnya masing-masing. Ketika akan mencangkok program Bank Petani ini di beberapa daerah yang ada di Indonesia, Masril harus turun dulu ke lapangan untuk mengetahui karakteristik daerah tersebut. Muncul kemudian beberapa program seperti Tabungan Rokok di Pulau Buru yang dilatarbelakangi oleh harga rokok yang mahal disana dan hobi masyarakatnya merokok hingga Tabungan Pesta di Papua, yang dilatarbelakangi masyarakatnya yang gemar pesta dan minum minuman keras namun harga minuman keras cukup mahal disana.

“Jangan dilihat dari tabungan apa itu. Tapi lihat tujuan besarnya. Sebenarnya tujuan menabung itu ‘kan agar orang bisa mengorganisir dirinya sendiri. Setelah bisa mengorganisir dirinya sendiri, ia baru bisa mengorganisir keluarganya, lingkungannya”, jelas Uda Masril.

Well said, belajar menabung adalah belajar mengorganisir diri.

Di Banyumas, menurutnya, banyak potensi yang ada. Banyaknya tengkulak di Banyumas menandakan bahwa daerah ini memang berpotensi. Tinggal memanfaatkan modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Banyumas untuk menyelesaikan masalah tengkulak agar potensinya bisa lebih dimaksimalkan.

Kreativitas Tanpa Henti

Saat ini, Bank Petani telah memiliki sekitar 900 cabang. Namun agar lebih efektif dan efisien, maka banyak bank yang dimerger sehingga kini ada sekitar 350 cabang. Bank Petani telah memiliki sekitar 200.000 anggota dengan aset mencapai 350 miliar rupiah. Dengan pencapaian ini, apakah Uda Masril Koto sudah puas?

“Belum. Kreativitas saya tidak pernah mati”, ujar pria lulusan Sekolah Dasar ini.

Justru menurutnya organisasi yang telah terbentuk memiliki banyak tantangan.

“Organisasi saat ini harus mau membuka diri, fleksibel, tidak kaku, mengikuti perkembangan zaman”, ujarnya menutup diskusi. [Novi].

Short URL: http://bit.ly/2eFtemN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.