• January 21, 2017
Kawal Agenda Purwokerto Kota Koperasi

Bersama gerakan koperasi dan elemen masyarakat sipil di Banyumas, Kopkun Institute kawal agenda Purwokerto Kota Koperasi. Agenda ini merupakan sebuah kerja kolektif untuk lima tahun mendatang, 2017-2022. Tujuannya adalah membangun ekosistem besar perkoperasian di Banyumas sehingga dapat tumbuh dan kembangkan koperasi-koperasi yang genuine atawa sejati.

“Ini bukan sekedar brandingisasi. Tapi kerja konkret untuk memanggil seluruh elemen masyarakat dan gerakan koperasi bangun titik temu bersama. Penduduk Banyumas itu sekira 1,7 juta jiwa. Namun anggota koperasi di bawah 150 ribu. Itu sungguh kecil. Namun banyak koperasi-koperasi berasa sudah besar sehingga tak agresif promosikan keanggotaan”, terang Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute.

Agenda ini berangkat dari kesejarahan Purwokerto yang merupakan tempat lahir koperasi Indonesia. Tepatnya pada masa Hindia Belanda pada tahun 1896. Dengan mendaur ulang sejarah itu, gerakan Purwokerto Kota Koperasi diharapkan akan lebih massif dan efektif karena begitulah sejarah mencatat.

Sebagai permulaan akan disusun secara kolektif Roadmap Purwokerto Kota Koperasi. Dalam roadmap itu paling tidak terjelaskan indikator atau target menjadikan Purwokerto sehingga pantas disebut kota koperasi. Misalnya bahwa 50% warga Banyumas terlayani dan menjadi anggota koperasi di lingkungan sekitarnya.

“Yang lebih penting adalah membangun kolaborasi multi pihak: Dinas Koperasi, Dekopinda, kampus-kampus, ormas-ormas bahkan bila perlu partai-partai politik dan fraksi-fraksi di DPRD untuk menyatu padukan modalitasnya mengawal agenda ini. Sehingga bisa saja kita buat District Cooperative Policy untuk 5 tahun itu agar agenda itu dapat dikroyok bareng-bareng lewat berbagai pintu”, tambah Firdaus.

Sebagai testing in the water, Kopkun Institute produksi t-shirt Purwokerto Kota Koperasi dan ternyata banyak peminatnya sampai ratusan kaos terjual. T-shirt itu sebagai salah satu bentuk kampanye sosialnya. Minimalnya frasa “Purwokerto Kota Koperasi” menjadi lebih familiar. Dan menariknya, t-shirt itu tak hanya dibeli oleh orang koperasi, namun juga warga umum lain yang tak bersentuhan dengan gerakan koperasi.

“Soal kaos, ini hanya sebagai salah satu upaya untuk membangun kegembiraan dan keriangan baru dalam berkoperasi. Ya, kaos itu semacam gimmick untuk membangun semangat. Namun substansinya adalah kerja kolektif jangka panjang itu. Bagaimana membangun koperasi yang benar-benar berbasis anggota dan berwatak kooperatif”, terang Heri Kristanto, HC., Deputi Inovasi Sosio-Ekonomi Kopkun Institute.

Sekitar tahun 2012 sebenarnya wacana Purwokerto Kota Koperasi juga sempat muncul di media massa. Sayangnya gagasan itu tak diikuti dengan roadmap dan rencana aksi yang simultan sehingga menguap begitu saja. “Belajar dari tahun itu, agenda Purwokerto Kota Koperasi ini harus lebih smooth namun efektif. Memang akan lebih lamban dan jangka panjang, ya ini konsekuensi karena targetnya bukan sekedar citra artifisial lewat branding”, tambah Firdaus.

Dalam beberapa bulan ke depan Kopkun Institute akan undang organisasi/ lembaga yang potensial untuk kawal agenda ini. Daya kolaboratif lintas dan multi pihak ini diharapkan akan menjadi kekuatan yang efektif sehingga ekosistem perkoperasian bisa berubah. Yakni citra dan kondisi perkoperasi menjadi lebih baik. Koperasi tak dipandang sama dengan rentenir, justru sebaliknya, mengurangi praktik rente di Banyumas.

Harapannya akan muncul bandwagon effect sehingga dengan gerojokan citra positif koperasi, praktika negatif berkoperasi menjadi berkurang. []

 

Short URL: http://bit.ly/2j8bCln

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.