• November 28, 2016
Kang Din Berbagi: Dari Freire, Jamaah Produksi Sampai Desa

Any situation in which some men prevent others from engaging in the process of inquiry is one of violence; to alienate humans from their own decision making is to change them into objects”  – Paulo Freire

Kamis, 24 November 2016, sehari sebelum Hari Guru, Ahmad Bahruddin atau yang akrab disapa Kang Din menyambangi Kopkun Institute, Teluk. Kang Din adalah pendiri komunitas belajar Qaryah Thayyibah (QT) di Kali Bening, Salatiga. Ide membuat komunitas belajar ini muncul dari kegelisahannya melihat pendidikan di Indonesia.

“Bayangkan saja, ada banyak Sekolah Dasar (SD) di desa saya dan sekitarnya, tapi tidak ada satu pun dari SD tersebut yang mengajarkan siswa tentang desanya sendiri”,ujar Kang Din.

Pendidikan yang ada saat ini, lanjutnya, justru menciptakan jarak antara peserta didik dan lingkungan sekitarnya, dengan desanya. Peserta didik tidak pernah dikenalkan dengan potensi dan masalah yang ada di sekitarnya. Alih-alih, mereka dicecoki dengan beragam mata ajar yang dibuat oleh pusat (Jakarta) dan harus secara seragam diajarkan kepada peserta didik di seluruh Indonesia.

“Dalam pendidikan, peserta didik harus menjadi subjek aktif-produktif, bukan menjadi objek pasif-konsumtif. Sebagai manusia yang fitrahnya berpikir, selama ini peserta didik justru direduksi menjadi hewan, nurut saja disuruh pakai pakaian bahkan sampai sepatu dan kaos kaki seragam tanpa ada proses mengkritisi kenapa”, jelasnya.

Dalam menyelenggarakan Qaryah Tarbiyyah, Kang Din banyak belajar dari Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis asal Brasil. Paulo Freire dikenal karena pedagogi kritisnya. Menurut Freire, kodrat manusia adalah sebagai subjek, bukan objek. Sebagai subjek, manusia dituntut untuk menggunakan akal pikiran untuk mengubah dunia. Manusia adalah kreator dalam proses menjadi manusia seutuhnya. Ketika manusia memasrahkan diri untuk menjadi objek, nrimo tanpa melakukan apapun untuk mengubah keadaan, saat itulah manusia kehilangan kemanusiaannya. Hal ini yang juga diamini oleh Kang Din.

“Selama ini anak-anak bukan diposisikan sebagai objek yang belajar, namun objek yang diajar”.

Masih mengkritisi pendidikan di Indonesia, Kang Din kembali mengungkapkan kekecewaannya.“Semakin pintar, maka mereka (peserta didik) semakin tidak kenal akarnya (desanya).”, ia menghela nafas kemudian melanjutkan;

“Pendidikan demikian jahatnya karena membuat anak yang semakin pintar justru semakin tidak kenal desanya. Itu indikator bahwa pendidikan di Indonesia bermasalah”.

Sebagian besar peserta didik yang telah lulus sekolah atau kuliah, misalnya, lebih memilih untuk pergi ke kota. Mencari pekerjaan yang lebih ‘prestisius’. Ini adalah akibat sistem pendidikan yang tidak pernah membiasakan anak-anak tersebut untuk ikut memikirkan dan mencari solusi atas masalah yang ada di sekitarnya. Alhasil, desa dianggap sebelah mata. Desa menjadi tujuan terakhir jika mereka tidak terserap lapangan kerja di kota.

Pendidikan di QT menjadikan desa sebagai basisnya. Bahan pembelajaran adalah kondisi desa saat ini. Karena objeknya adalah desa saat ini (current condition), maka pembelajaran dilakukan secara dinamis tanpa standar-standar kompetensi baku yang mengikat layaknya kurikulum sekolah.

“Pembelajaran kami bersifat dinamis, karena kondisi di desa juga dinamis. Metode yang digunakan adalah student centered learning (pembelajaran berpusat siswa). Kami merangsang siswa untuk berpikir, berkarya, dengan bebas, mengolah potensi yang ada di dirinya. Tidak ada standar kompetensi, misalnya seperti, dia bodoh karena nggak bisa matematika. Setiap anak punya potensi masing-masing, tidak ada yang pintar atau bodoh”, terang Kang Din.

Merangsang setiap anak untuk mengeluarkan potensinya dan mengintegrasikan pendidikan dengan desa (lingkungan) adalah kunci kesuksesan QT yang kini telah memiliki cabang di 17 kabupaten. Prestasi peserta didik di QT pun patut diacungi jempol.

“Kami memiliki anak didik yang sudah menulis 25 buah buku,” tutur Kang Din bangga.

“Bahkan, ada anak didik kami yang masih SMP sudah bisa membuat kajian tentang reformasi agraria (land reform). Kajian tersebut didasarkan pada masalah nyata yang ada di desanya. Mahasiswa saja belum tentu bisa membuat kajian seperti itu’, lanjutnya.

Kang Din menutup diskusi hari itu dengan sebuah pesan untuk para anak muda;

“Kalian berkarya, maka kalian ada”

***

Selain bicara soal pendidikan, Kang Din juga mengupas tentang Jamaah Produksi yang esensinya adalah koperasi. “Ya di Salatiga kita namakan Jamaah Produksi, karena teman-teman pasti tahu, istilah koperasi itu sudah kadung jelek. Sama dengan bank plecit alias rentenir”. Dalam mengembangkan Jamaah Produksi ini Kang Din betul-betul memerhatikan yang namanya perempuan. Justru sebagian untuk tidak mengatakan semuanya, anggotanya adalah perempuan.

Ia memberikan tips bagaimana membangun Jamaah Produksi itu, sebagai berikut:

  1. Identifikasi keluarga di komunitas kecil (Dasa Wisma / RT / RW / Dusun).
  2. Pastikan melibatkan seluruh keluarga yang selama ini kurang beruntung. Meskipun sebenarnya mereka ini sudah menjadi “anggota” Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bahkan masih punya pinjaman (untuk tidak mengatakan terjerat) di KSP atau di BMT sebagai mitra, atau juga di BPR sbg nasabah. Tidak jarang yang sekaligus menjadi bagian dari 3 institusi keuangan itu sebagai “korban”.
  3. Undang wakil dari keluarga itu, dan prioritaskan yang mewakili keluarga adalah yg muda (anak) dan perempuan. Kalau anaknya masih kecil-kecil, maka yang mewakili keluarga adalah ibu. Bapak menjadi alternatif terahir. Hal ini dimaksudkan untuk keberlangsungan gerakan pemberkuasaan rakyat dan perwujudan keadilan relasi kuasa laki-perempuan.
  4. Adakan musyawarah menyelenggarakan usaha bersama (Jawa: andilan) berproduksi mengelola sumberdaya desa.
  5. Andalkan sebesar-besarnya dari kekuatan mereka sendiri (untuk kemandirian) sambil mengupayakan sumberdaya desa (seperti Dana Desa) dapat mendukung kebersamaan rakyat yang mempertahankan, memberdayakan dan memuliakan kehidupan ini.
  6. Daftarkan Jamaah Produksi ini ke Dinas Koperasi setempat sebagai pra koperasi produksi primer. Hindari usaha simpan pinjam dan dagang. Beli singkong dari petani terus dijual itu adalah adalah dagang. Namun beli singkong dari petani lalu diolah menjadi mocaf adalah produksi.
  7. Setelah 3 bulan mendapatkan badan hukum koperasi produksi primer, kembangkan hal serupa ke komunitas sebelah di desa itu juga atau libatkan (jika sudah ada) 2 koperasi produksi primer yang lain untuk bersama-sama mendirikan koperasi sekunder serba usaha, utamanya di simpan pinjam, dagang, dan jasa konsultansi manajemen produksi. Koperasi Sekunder ini nanti akan melayani pembiayaan usaha produktif koperasi produksi primer anggotanya dan memasarkan produk dari koperasi produksi primer anggotanya.
  8. Terus selenggarakan musyawarah intensif periodik di koperasi produksi primer ini. Di samping mengevaluasi usahanya, cek capaian dan proyeksi cashflow forecastnya dst. Juga diskusi tentang seluruh aspek kehidupan termasuk mengkritisi kebijakan penguasa kalau-kalau tidak berpihak pada keadilan rakyat dan mengawasi kalau-kalau implementasi pembangunan desanya terselewengkan (corruption wacth).
  9. Gandeng Pemerintah desa untuk ikut andil dalam koperasi sekunder serba usaha ini sebagai koperasi multi pihak sekaligus memfungsikannya sebagai BUMDesa.

***

Integrasi pendidikan dengan desa (lingkungannya) adalah sebuah keniscayaan. Model hadap masalah itu yang akan menghidupkan seluruh potensi masyarakat desa. Hasilnya, orang-orang muda tidak perlu melakukan urbanisasi. Mereka semua bisa diikat dalam Jamaah Produksi atau koperasi produksi itu. Ujungnya tentu saja Desa Mandiri atau Desa Berdaya bukan mimpi di siang bolong.

Bayangkan saja bila seusia SMP mereka dapat bicara dan mengawal masalah agraria di desanya; Lantas apa yang akan anak-anak muda itu lakukan bila sampai usia 20, 30 tahun? Pasti akan lebih membahana! [Disarikan oleh Novi dan diperkaya dari sumber lain]

Kang Din di Kick Andy:

  • https://www.youtube.com/watch?v=3zk9vh-hu0w
  • https://www.youtube.com/watch?v=aTrn3PJRWVg

Keterangan Foto dari Kiri ke Kanan:

Tusiman (Penderes/ Aktivis AMJ), Niko (Penderes/ Aktivis AMJ), Kang Din (Qoryah Thoyyibah), Kang Awi (Qoryah Thoyyibah), Firdaus (Kopkun Institute), Novi (Akademisi), Sarwono (Koperasi NEU), Tanto (Koperasi NEU), Agung (KUD Tani Maju), Anis (IC Coop), Dodit (Kades Wlahar).

Short URL: http://bit.ly/2gnAd29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.