• September 15, 2017
Kajian Koperasi, Kopkun Institute Hadirkan Para Doktor

Kerja bersama dengan FEB Unsoed, Mubyarto Institute dan IMFEA, Kopkun Institute selenggarakan kajian perkoperasian dan Islamic Microfinance. Kegiatan itu dihelat di Kampus FEB Unsoed yang diikuti 70 peserta beragam profesi. Kajian itu diselenggarakan pada Senin, 4 September 2017 yang lalu.

Dalam kesempatan itu, Dekan FEB, Prof. Dr. Suliyanto menyampaikan bahwa kajian seperti ini diperlukan guna memperkaya khazanah perkoperasian. Ia mengatakan, “Koperasi diharapkan besar oleh banyak pihak. Namun kenyataannya belum sebesar itu. Nah, kajian-kajian akan membantu mengurai masalahnya”, terangnya dalam sambutan pembukaan.

Pada sesi pertama, Dr. Ahmad Subagyo, Ketua Umum Islamic Microfinance Expert Association (IMFEA), yang juga peneliti Bank Dunia, memaparkan hasil risetnya mengenai perkembangan keuangan mikro Islam di Indonesia. Secara umum ia menjelaskan bahwa kegiatan keungan mikro harus taat pada tiga prinsip umum, “Kedalaman, makin kecil plafon makin dalam jangkauannya. Luasan jangkauan (outreach), makin jauh dari pusat layanan, makin bagus daya jangkaunya. Murah, yakni biaya layanan yang murah bagi kalangan mikro”. Sedang prinsip keuangan Islami harus mencakup tiga hal: keadilan, kejujuran dan kemitraan. Gabungan keenam prinsip itu menyusun apa yang namanya Islamic Microfinance. 

Disambung presentator kedua, Dani Kusumastuti, kandidat doktor Ekonomi Islam ini mengangkat topik mengenai koperasi syariah di Indonesia. Dosen IAIN Purwokerto sekaligus Peneliti Kopkun Institute itu mengetengahkan perlunya koperasi-koperasi syariah taat pada jati diri koperasi. Secara kritis ia mengulas bagaimana pola implementasi prinsip-prinsip koperasi dilakukan.

Dan terakhir adalah Dr. Noer Sutrisno, Ketua Mubyarto Institute. Beliau menjelaskan mengenai kedudukan koperasi sebagai organisasi, badan usaha serta instrumen perekonomian di Indonesia. Dengan data-data hasil risetnya selama dua tahun, ia mengatakan, “Skala koperasi di Indonesia perlu ditingkatkan, misalnya jumlah anggota dibanding jumlah penduduk. Kita tak perlu juga merujuk capaian Eropa yang sampai 47% penduduk adalah anggota koperasi. Paling tidak kita harusnya bisa lebih baik dari negara-negara di Asia Pasifik lainnya”, terangnya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Noer juga menjelaskan proyeksi perkembangan koperasi Indonesia di masa depan. Menggunakan kerangka teorinya mengenai Siklus Ekonomi berbasis Kalender Jawa Hijriah, Sultan Agung dia menjelaskan dengan rinci yang membuat audien terdiam. “Jadi saat ini kita masuk Windu Sangara dan sampai nanti 2047 atau 100 tahun koperasi, kita baru di Windu Adi. Jadi kalau lihat siklusnya, ya belum sampai momen perubahan atau pembaharuan”, katanya.

Selepas itu, moderator Novita Puspasari, HC., Deputi Riset Kopkun Institute mempersilahkan tanya-jawab. Ada sekitar 6 penanya yang memperkaya kajian koperasi pada hari itu. Kegiatan selesai pukul 12 siang yang ditutup dengan penyerahan paket buku kepada seluruh pembicara oleh Direktur Kopkun Institute. []

Unduh materi presentasi:

  1. Ahmad Subagyo [klik di sini]
  2. Noer Sutrisno [klik di sini]
  3. Dani Kusumastuti [klik di sini]
Short URL: http://bit.ly/2x6j06i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *