• November 23, 2017
In House Training Pra Koperasi Tani Dampingan BI Jawa Tengah

Menggandeng Kopkun Institute, Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan in house training selama dua hari, 21-22 November 2017. Bertempat di Hotel Grand Artos Magelang, Pelatihan Kelembagaan UMKM Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah diikuti sekitar 40 peserta.

Peserta kegiatan merupakan klaster binaan BI dengan stakeholder terkait, termasuk Dinas Koperasi UMKM. Pelatihan dibuka oleh Pak Dian Nugraha – Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng menggandeng Kopkun Institute sebagai fasilitator dan pengisi materi.Dalam kegiatan tersebut, Bank Indonesia menggandeng Kopkun Institute sebagai fasilitator dan pengisi materi.

Selama dua hari peserta yang mayoritas Kelompok Petani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) belajar bagaimana tata kelola dan kelembagaan koperasi. Beberapa personil yang handal dibidangnya diterjunkan Kopkun Institute untuk mengawal agenda tersebut. Herliana, HC., Konsultan Bidang Bisnis Kopkun Institute dan Fisheus Tanto, HC., Ketua CU Tyas Manunggal, Bantul bersama Manajernya, Yaiz Hery Astono, HC.. Kemudian ada Mas Komar, Aktivis Serikat Tani Indonesia, banyak terlibat di koperasi tani berbasis pengembangan kelompok tani dan pengembangan produk pertanian organik. Heri Kristanto, HC., Deputi Jaringan dan Advokasi Kopkun Institute serta, Vledy Afief, HC., selaku Deputi Diklat Kopkun Institute.

Ada yang menarik dari in house training ini, biasanya peserta pelatihan koperasi hampir bisa dipastikan didominasi oleh kalangan orang tua (usia diatas 50 tahun). Pada pelatihan kali ini, pesertanya adalah usia produktif, orang-orang muda yang masih sangat potensial untuk pengembangan organisasi koperasi. “Saya secara pribadi memang ingin mendalami bidang pertanian, karena jika dikelola dengan benar bisnis pertanian bisa menjadi kehidupan saya ke depan” kata salah seorang peserta yang usianya masih berkisar 20 tahunan.

Selain dari Kopkun Institute, Bu Ema, Kepala Dinas Koperasi Jateng berkesempatan hadir dan memberikan arahannya tentang pentingnya berkoperasi bagi kelompok tani. Hadir pula Drs. Mustofa, pengurus Peguyuban Petani Al Barokah, yang sukses di pertanian organic dengan total luas lahan yang tersertifikasi 152,69 Ha dengan produk padi organik varietas unggul lokal sebanyak 2.248,6124 ton GKP. Tokoh yang dikenal dengan aktivis Klaster Tani Organik ini turut berbagi ilmu pengelolaan klaster tani kepada para peserta.

 

Tercatat ada kelompok pariwisata, pertanian, peternakan, bahkan ada satu koperasi batik sebagai peserta. Mereka berasal dari Wonosobo, Magelang, Blora, Demak, Semarang dan berbagai daerah di Jawa Tengah. Antusiasme tinggi terlihat dari tingkat keaktifan peserta mengikuti materi yang dikemas. Materi yang sudah dipersiapkan dalam Pelatihan ini: Filosofis dan Ruang Juang Koperasi, Tata Kelola Kelembagaan, Forum Group Symbiosis (FGS), Model Bisnis Koperasi, dan Best Practice Koperasi Tani

Di akhir pelatihan, peserta diajak berdiskusi tentang Rencana Tindak Lanjut (RTL). Secara umum RTL memberikan gambaran kepada peserta, apa yang akan mereka lakukan pasca Pelatihan. Perlakuan RTL berbeda untuk setiap level peserta. Kelompok tani dengan anggota dibawah 100, akan konsentrasi di pengorganisasian anggota, pra koperasi akan mempersiapkan pendirian koperasi, dan peserta yang sudah berkoperasi akan mempersiapkan rencana strategis (renstra) pengembangan berbasis anggota dan tata kelola unit usaha.

Pelatihan yang merupakan salah satu agenda rutin Bank Indonesia ini mentargetkan beberapa hal:

  1. Meningkatkan kompetensi pelaku UMKM tentang berorganisasi dalam bentuk koperasi.
  2. Peserta memahami bentuk kelembagaan yang ada, terutama koperasi dan struktur tata kelolanya serta syarat pendiriannya.
  3. Pengurus koperasi betul-betul memahami fungsinya dan memastikan tidak mengutamakan kepentingan pribadi, tidak ada unsur KKN maupun fraud.

“Khusus untuk materi Best Practice Koperasi Tani, kami harapkan menjadi hal yang menarik, karena rata-rata UMKM adalah kelompok tani. Sedangkan untuk tindak lanjut pelatihan ini, kami harapkan masing-masing manajemen klaster dapat mempersiapkan kelemmbagaannya dengan baik, dan menjalankan usahanya dalam bentuk koperasi murni yang professional, Petani harus berdaulat untuk menciptakan pertanian yang sehat, memiliki daya saing yang tinggi dan memiliki bergainig power dalam penetapan harga, kata Ibu Heni, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, di akhir pelatihan. []

Short URL: http://bit.ly/2Be40oq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *