• September 15, 2017
In House Training, Koperasi Buruh Bekasi FSPMI

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PC Bekasi, mengundang Kopkun Institute dalam workshop koperasi buruh se Bekasi. Dalam kegiatan itu Kopkun Institute mendelegasikan Firdaus Putra, HC., Direktur bersama Arsad Dalimunte, HC., Penasehat. Kegiatan yang dilaksanakan di kawasan puncak Bogor pada 13-14 September itu sangat meriah. Sedikitnya 110 peserta dari 50 Pengurus Unit Kerja (PUK) mengikutinya.

Kegiatan itu dibuka oleh Bung H. Furqon selaku Pimpinan Cabang FSPMI bersama Bung Slamet selaku Sekjend. Diorganisasi oleh Bidang Ekonomi Bung Henut dan Bung Bakri, kegiatan itu menggairahkan dari awal hingga akhir. “Berkat upaya Bung Henut, kegiatan workshop koperasi ini bisa ramai. Biasanya dulu-dulu kalau pelatihan koperasi yang datang cuma 30 orang. Ini sampai 110 orang, nampaknya propaganda Bung Henut di Grup WA berhasil”, tegas Bung Furqon dalam sambutannya.

Dalam sesi awal Firdaus membuka presentasinya dengan gambaran makro urgensi koperasi bagi buruh. “Bahwa koperasi itu akan sinergis dengan gerakan serikat itu sendiri. Keduanya sampai titiknya nanti akan saling mengungkit satu sama lain. Jadi perjuangan kemandirian ekonomi lewat koperasi sama pentingnya dengan perjuangan hak-hak industrial lewat serikat pekerja”, terangnya berapi-api. Dalam uraiannya itu Firdaus menekankan agar buruh tidak mendikotomikan antara advokasi lewat serikat atau koperasi. Sebaliknya dua hal itu bisa dilakukan dalam setarikan nafas pergerakan buruh.

Dalam materi berikutnya, Arsad mulai menukik bicara tentang jati diri koperasi. “Koperasi harus dipahami sebagai kumpulan orang, bukan uang. Dengan begitu, inspirasi layanan-layanan koperasi akan kaya. Kita tidak akan terjebak untuk melulu bicara uang semata, melainkan juga aspek sosial-budayanya”, terang Arsad dengan gaya kalemnya sambil corat-coret di papan white board.

 

Sesi berikutnya Firdaus menukik lagi bicara soal Model Pengembangan Koperasi Buruh. Di sana Firdaus mulai melihat berbagai potensi yang bisa diupayakan. Disambut sesi berikutnya, Arsad masuk ihwal tata kelola koperasi. “Intinya adalah serahkan pada ahlinya. Koperasi yang maju itu dikelola secara profesional, bukan sambilan. Maka munculnya SDM profesional harus dibaca sebagai peningkatan produktivitas, bukan biaya beban”, sambungnya.

Sesi-sesi penyampaian materi diperkaya dengan diskusi dari peserta yang sebagian sudah memiliki koperasi dan sebagian yang lain belum. Dalam sesi diskusi itu terkuak ada beberapa koperasi yang berkemajuan yang dapat menjadi model rujukan koperasi buruh lain di wilayah Bekasi. “Koperasi PT NSK ini bagus. Tata kelolanya sudah profesional dengan 13 karyawan untuk layani 1300 anggota. Meski belum bisa kita katakan sukses, namun kita bisa lihat bersama upaya Pengurus untuk selalu memperbaiki diri. Contohnya soal pendidikan yang berkali-kali harus dirubah formatnya”, terang Firdaus mengantarkan.

Di hari kedua peserta mulai diajak bicara What Next. Setelah diperkaya dengan diskusi soal Koperasi Sekunder, Bung Slamet memfasilitasi pemilihan Tim untuk menyiapkan itu. Ada tiga tim yang dibentuk: Tim SC, Tim Sosialisasi dan Tim Pendampingan. harapannya, ke depan Tim akan bekerja dengan cepat untuk kemudian bisa membangun satu sekunder koperasi konsumen di Bekasi. “Di tiap PUK beberapa koperasinya sudah jalan. Jadi sekarang PR kita adalah mengintegrasikannya. Kita bayangkan agar bisa sebesar NTUC Fairprice Singapore yang sempat saya lihat”, terangnya.

“Pentingnya pendirian koperasi bagi buruh karena saya sering dapat keluhan dimana buruh dikejar-kejar hutang sana-sini. Ya, gali lobang tutup lobang. Banyak hutang di banyak tempat. Lha itu terjadi sebenarnya karena gaya hidupnya. Sehingga koperasi yang kita bangun ini benar-benar kita harapkan bisa menyadarkan buruh soal gaya hidup konsumtif itu”, terang Bung Henut saat mengumpulan data permulaan mengenai jumlah pendapatan dibanding dengan pengeluaran buruh, yang rata-rata defisit di akhir bulan.

Saat penutup dua peserta diminta berikan testimoni oleh Panitia. “Setelah workshop ini saya yang awalnya tidak tahu menjadi tahu soal koperasi. Dan ternyata koperasi itu ya bukan sekedar urusan duit saja. Yang jadi kunci justru orangnya”, terang peserta. Testimoni yang lain, “Saya sudah berkoperasi. Workshop ini benar-benar memperkaya pemahaman saya. Dan semoga cita-cita pendirian Sekunder Koperasi Konsumen dapat segera terlaksana”, tegasnya.

Kepada para Pengurus yang antusias itu, Firdaus Putra, HC., Kopkun Institute menyampaikan bahwa agenda pendirian sekunder koperasi konsumen buruh perlu dikawal. Karenanya Kopkun Institute secara sukarela akan memberikan berbagai masukan-masukan yang dianggap perlu untuk mempercepat pendirian dan pengembangannya. “Kebetulan ada kawan kita yang concern di gerakan buruh, keduanya tinggal di Bekasi. Namanya Dodi Faedulloh dan Dodi Mantra. Nanti kami akan komunikasikan, semoga bisa ikut menemani proses kawan-kawan FSPMI untuk pengembangan koperasi ini”, terangnya. []

Materi Unduhan:

  1. Sinergi Koperasi dan Serikat Buruh, Agenda Demokratisasi Ekonomi [klik di sini]
  2. Model Pengembangan Koperasi Buruh, Potensi dan Polanya [klik di sini]

 

Short URL: http://bit.ly/2wi8Li8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *