• April 24, 2018
Film Dokumenter Celengan Bambu Seribu

Awal tahun 2018 para politisi lagi sibuk-sibuknya berhitung. Berhitung siapa duluan yang paling banyak pasang BALIHO dipinggir jalan agar dikenal rakyat dengan slogan untuk Indonesia. Menurut konsultan politik mereka, siapa cepat – dia dapat suara rakyat, meskipun nyolong start pertandingan dan baru saja katakan peduli sama rakyat.

Di desa Ketanda, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, rakyat penderes nira kelapa juga berhitung. Berhitung besok berasnya cukup buat makan atau tidak, meskipun Banyumas sedang Kampanye Pemilihan Bupati dan Jawa Tengah Kampanye Pemilihan Gubernur, sementara Pemilihan Presiden sedang masa pemanasan. Lima tahun Bupati Banyumas memimpin, Kartu Jaminan Keselamatan Kerja Penderes tak ada guna. Lima tahun Gubernur Jawa Tengah memerintah, air bersih di desa Ketanda masih sulit. Dan lima tahun Presiden berkuasa, penderes nira kelapa yang memasok kebutuhan gula merah terbesar di dunia tetap terjerat tengkulak.

Rakyat penderes nira kelapa tidak repot dengan pesta demokrasi politik, mereka justru sibuk menjalankan demokrasi ekonomi. Berhadapan dengan resiko keselamatan kerja memanjat pohon kelapa, melepaskan diri dari jeratan tengkulak dan merasakan sulitnya air bersih adalah kebiasaan mereka sehari-hari. Para penderes nira kelapa tidak mengeluh atas situasi macam ini, mereka justru bangun bangkit bersama menghadapi persoalan. Lewat paguyuban budaya karawitan, para penderes nira kelapa mencari jalan keluar. Celengan Bambu Seribu dibuat dan digerakkan sebagai cara membangun demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

Jika pemerintah dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat tinggi lagi heboh merayu pemilik modal mengongkosi (untuk tidak menyebut menghutangi) Badan Usaha Milik Desa, Milik Daerah dan Milik Negara, para penderes justru lagi semangat semangatnya mengumpulkan uang seribu di Celengan Bambu sebagai gerakan menabung.

Jika pemerintah sibuk memberitakan penyatuan BUMN menjadi Perseroan Terbatas Raksasa, para penderes bersama-sama membangun Koperasi.

Hasilnya, Badan Usaha Milik Negara/ Daerah dan Desa justru makin dikuasai pemodal, sedangkan Koperasi dimiliki bersama para penderes nira kelapa. Faktanya, catatan perputaran uang Gerakan Menabung di Celengan Bambu Seribu dan aktifitas ekonomi koperasi para penderes nira kelapa di desa Ketanda mencatat transaksi setengah miliar rupiah, hanya dalam tempo kurang dari empat tahun.

Lantas, masih perlukah pemerintah, kepala daerah dan penguasa republik buat rakyat penderes nira kelapa di Desa Ketanda Banyumas Jawa Tengah…?

Film Dokumenter Pendek Celengan Bambu Seribu memotret dari dekat resiko KESELAMATAN KERJA dan KEMANDIRIAN EKONOMI para penderes nira kelapa desa Ketanda, Sumpiuh Banyumas, lewat pengamatan langsung selama lebih dari 10 bulan. Merekam demokrasi ekonomi dengan prinsip prinsip koperasi tanpa kehadiran pemerintah.

Celengan Bambu Seribu diawali dengan kisah Sungkowo, penderes nira kelapa yang jatuh dari pohon dan belum mendapat bantuan sepeser pun, meski mempunyai Kartu Jaminan Keselamatan Kerja Penderes dari Bupati. Film dokumenter ini juga memotret perjuangan Tarmono Gadal menyatukan rasa, karsa dan karya dalam Paguyuban Kebudayaan Karawitan Galih Warangka Jati untuk membangun kebersamaan. Dramaturginya juga terasa ketika Sam Edi seorang pengepul gula kelapa (tengkulak) bergabung dengan semangat koperasi. Alurnya menjadi epic setelah munculnya Gerakan Menabung di Celengan Bambu Seribu yang digagas Niko Hermawan dengan kawan kawan mudanya.

Sebuah dokumenter tentang interaksi sosial memperjuangkan kemandirian ekonomi dalam komunitas penderes nira kelapa yang rentan resiko keselamatan kerja.

Sumber: http://kosakti.id/celengan-bambu-seribu/

 

Short URL: http://bit.ly/2HOa9xX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.