• May 27, 2018
Executive Coach, Pringgodani Network Perkuat Pemekaran Koperasi

Jauh sebelum Kementerian Koperasi dan UKM sounding tentang pemekaran koperasi atau spin off, KUD Pringgodani telah melakukannya. Saat ini ada empat entitas bisnis dan non-bisnis yang berada di bawah Pringgodani Network. “Dulu kami mulainya dari KUD, terus membuka KSP Pringgodani, konvensional. Lalu kami buka juga KSPPS Pringgodani. Nah untuk menyatukan itu kami bangun Yayasan Amal Pringgodani sebagai payungnya”, terang Amrullah Jazeri, Ketua KUD sekaligus Pringgodani Network.

KUD Pringgodani berdiri pada tahun 1974. Kemudian pada tahun 2007 mendirikan KSPPS Pringgodani. Dilanjut pada tahun 2008 mendirikan KSP Pringgodani. Pada tahun 2014 mereka kemudian mendirikan Yayasan Baitul maal YBM Pringgodani yang sudah wakafkan tanah untuk masjid. Untuk menjaga kekompakan di antara mereka, pada 2014 diresmikanlah Komunitas Pringgodani Network, di sana kegiatan pengajian serta senam rutin diadakan.

Dalam kesempatan itu Kopkun Institute diminta untuk berikan executive coaching bagi para Pengurus, Pengawas serta Manajemen koperasi-koperasi di bawah Pringgodani Network. Tujuannya memberikan insight strategis tentang apa-apa yang mungkin terjadi di masa depan. Dari sana, tim juga memberikan beberapa rekomendasi yang dipandang perlu untuk menguatkan bangunan Pringgodani Network.

Kegiatan itu dilaksanakan di Kantor KUD Pringgodani, Demak, 7 Maret 2018. Sekitar 25 orang dari berbagai koperasi mengikuti selepas di pagi harinya mereka lakukan senam bersama. “Memang setiap Sabtu pagi kami lakukan senam bersama. Di sesi ini semua Pengurus dan Manajemen koperasi di bawah Pringgodani Network kumpul”, lanjut Jazeri.

Banyak contoh di dalam maupun luar negeri bagaimana pemekaran lembaga menjadi titik ledak koperasi. Dengan lakukan pemekaran, anggota dapat dilayani aneka kebutuhannya. Selain itu, pengelolaannya pun profesional, karena dikendalikan oleh koperasi dan manajemen terpisah. Ditambah dengan pemekaran itu, koperasi dapat memproduktifkan aneka aset yang menganggur. Tak kecuali bila mengalami idle cash.

Kegiatan itu diawali dengan pemaparan tentang potensi dan tantangan di masa disrupsi. Firdaus Putra, HC., mengungkapkan bahwa berkembangnya ekonomi digital dengan infrastruktur teknologi finansial, internet, aplikasi berbasis Android tak dapat dinafikan. “Koperasi harus masuk ke gelombang itu. Bila tidak beradaptasi, bisa ditinggal masyarakat. Nah, satu yang bagus, Ketua KUD Pringgodani tadi mengapresiasi bahwa salah satu karyawan sudah membuat aplikasi Android untuk layanan KUD”, terang Firdaus.

Banyak contoh di dalam maupun luar negeri bagaimana pemekaran lembaga menjadi titik ledak koperasi. Dengan lakukan pemekaran, anggota dapat dilayani aneka kebutuhannya. Selain itu, pengelolaannya pun profesional, karena dikendalikan oleh koperasi dan manajemen terpisah. Ditambah dengan pemekaran itu, koperasi dapat memproduktifkan aneka aset yang menganggur. Tak kecuali bila mengalami idle cash.

Sesi kedua, M. Arsad Dalimunte, HC., bicara soal kepemimpinan transformatif. Dengan gaya santainya, Arsad menyentil, “Ketika awal masuk dan melihat kantor serta ruang pertemuan sebesar ini, saya pikir masalah mendasar Pringgodani bukan karena tak punya modal. Nampaknya lebih karena kurangnya insight bagaimana memaksimalkan potensi yang ada. Contoh kecil, ruang pertemuan ini harusnya bisa dikelola menjadi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sehingga lebih produktif”, ujarnya. Sentilan-sentilan itu diamini peserta tak terkecuali para Pengurus.

Pemekaran koperasi hanya bisa dilakukan bila di dalamnya ada kapasitas kepemimpinan yang transformatif. Pertama tentu saja tidak menerima capaian hari ini dengan sikap puas. Sebaliknya, harus terus membangun visi dan capaian-capaian yang berkemajuan. Kedua, kepemimpinan transformatif itu menyaratkan sikap open minded atau berpikir terbuka. Dengan keterbukaan itu berbagai potensi dapat dimaksimalkan. “Misalnya ide-ide kreatif karyawan yang tadi telah disampaikan oleh Bapak Jazeri”, tutupnya.

Di sesi terakhir Herliana, HC., memberikan kerangka kerja penguatan pemekaran Pringgodani Network yang telah dilakukan dari beberapa tahun sebelumnya. Dengan ancangan lima tahun, Herliana, HC., mengupas satu per satu tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh Pengurus grup. “Pertama yang harus dilakukan menurut kami adalah struktur grup atau Pringgodani Network. Saat ini keberadaan grup itu hanya informal, yakni diikat oleh figur Ketua. Ke depan ini harus tuntas pembagian perannya sehingga yang bekerja adalah sistem bukan sinten (orang). Kita harus membangun sistem yang kuat sehingga gonta-ganti orang tidak menjadi hambatan koperasi tumbuh berkembang”, pungkasnya.

Tata lembaga dan tata kelola grup perlu disepakati bersama termasuk kewenangan-kewenangannya. Dengan cara begitu, grup akan menjadi daya dukung dan daya ungkit bagi primer-primer yang berafiliasi di bawahnya. Kewenangan itu misalnya bagaimana grup melakukan supervisi tata kelola, rekomendasi pengembangan, akses jaringan, akses permodalan dan sebagainya.

“Tahun 2018 ini Pringgodani Network fokus pada upaya perbaikan internal, seperti penataan SOP, penataan marketing dan lainnya. Kemudian ke depan mereka akan kolaborasi dengan KSU Citra Kinaraya Demak untuk mendirikan pabrik beras”, terang Jazeri.

Pringgodani Network, Demak akan memperkaya praktik pemekaran koperasi. Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM sedang menggodog peraturannya. Secara simultan inisiasi-inisiasi perlu dilakukan. Sehingga praktik yang ada bisa menjadi lessons learn bagi pemerintah untuk merumuskan peraturannya. Bagaimanapun apa yang sudah dilakukan Pringgodani adalah terobosan luar biasa untuk gerakan koperasi, KUD ataupun koperasi lainnya. []

Short URL: http://bit.ly/2sfKvrW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.