• June 21, 2018
Evolusi Koperasi Berbasis Aplikasi

SUTIARJO (64) langsung berbegas mengambil becak beserta perlengkapan kebersihan rumah, ketika mendapat order dari koordinator lapangan Pedihelp.

Perlengkapan kebersihan rumah tersebut berupa, ember, sikat WC, sapu, tempat sampah, sabun pembersih lantai dan kaca. Ia mendapat order membersihkan kamar kost milik mahasiswa di Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara.

“Lumayan sekarang kami ada penghasilan tambahan dari usaha jasa bersih-bersih rumah dan kamar kost,” tutur Sutiarjo yang mengaku telah bekerja menjadi tukang becak sejak 1975.

Ia sebelumnya memangkal di Terminal Purwokerto. Kemudian pada 2003, anggota Koperasi Pekerja itu memangkal di kawasan Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Saat ini, ia bersama tukang becak lainnya memangkal di Jalan Kampus Unsoed.

Saat itu, jumlah tukang becak yang memangkal di Jalan Kampus sekitar 35 orang. Mereka membentuk kelompok bernama Paguyuban Persaudaraan Jalan Kampus (Perjaka). Namun, seiring waktu jumlah tukang becak yang memangkal terus menyusut. Saat ini paling banter jumlah tukang becak yang menunggu di pangkalan sekitar 5 hingga 10 orang.

Penurunan jumlah tukang becak yang memangkal di Jalan Kampus karena mereka tak mampu bersaing dengan transportasi modern, seperti angkutan kota, taksi, tukang ojek. Bahkan, keberadaan ojek online semakin menggilas eksistensi usaha jasa mereka.

Bagi mereka yang tidak kerasan terpaksa beralih bekerja sebagai buruh tani, tukang batu dan buruh serabutan. Bagi yang bertahan, mereka selalu dengan sabar menunggu penumpang, meskipun harus menghabiskan separuh waktunya dari pagi hingga sore hari di pangkalan.

Pendapatan mereka pun terjun bebas. Pada 2005, pendapatan tukang becak rata-rata per hari antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000. Pendapatan ini terbilang besar dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Namun, saat ini hampir seharian waktu produktif mereka terbuang sia-sia untuk menunggu penumpang di pangkalan becak. Kalau lagi apes, seharian bisa tidak menarik penumpang.

“Sekarang pendapatannya tidak pasti. Sehari bisa kosong, tapi kalau lagi bernasib baik ya sehari bisa dua kali dapat penumpang,” tutur Sutiarjo.

Karena itu, keberadaan Pedihelp, salah satu usaha jasa perbantuan dan cleaning service dari Koperasi Pekerja memberikan harapan baru bagi para tukang becak. Mereka semakin bersemangat untuk menerima order dari operator Pedihelp.

“Saya berharap Pedihelp terus dikembangkan karena sangat membantu tukang becak seperti kami untuk menambah penghasilan,” katanya warga Kelurahan Grendeng itu.

Pedihelp, salah satu usaha jasa dari Koperasi Pekerja ini dirintis sejak 20 September 2017. IdePedihelp sendiri muncul setelah ada pertemuan antara pegiat koperasi dari Kopkun Insitute dengan perwakilan tukang becak dari Perjaka.

Menjadi Solusi

Pendirian usaha jasa perbantuan dan cleaning service juga dilatarbelakangi adanya pendapatan tukang becak yang kian tak pasti. Pedihelp diharapkan mampu menjadi solusi bagi para tukang becak yang masih bertahan dengan pekerjaannya.

Setelah dibentuk, para tukang becak ini dibina untuk mengikuti pembekalan bagaimana cara melayani pelanggan, serta mengerjakan pekerjaan cleaning service dengan benar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Kemudian mereka mendapat modal dari Kopkun Institute sebesar Rp 682.000. Dana itu digunakan untuk membeli perlengkapan kebersihan, seperti berupa, ember, sikat WC, sapu, tempat sampah, sabun pembersih lantai dan kaca, sarung tangan serta pengharum ruangan.

Bendahara Perjaka yang merangkap sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) Pedihelp, Nadu Hadi Suwito, mengemukakan, saat ini terdapat 12 tukang becak yang memanfaatkan pekerjaan sebagai cleaning service di Pedihelp.

Pemesanan order cleaning service dari konsumen menggunakan pesan singkat (WhatsApp) dan media sosial. Ketika ada order masuk, operator mengomunikasikan ke koordinator lapangan yang diteruskan kepada tukang becak untuk mengeksekusi pekerjaan tersebut.

Saat ini, kata dia, order yang masuk berasal dari daerah sekitar Kelurahan Grendeng, Karangwangkal, Pabuaran, Sumampir dan Bancarkember. Paling jauh order datang dari wilayah Karanglewas, Sumbang, dan Sokaraja.

“Pekerjaan yang sudah kami lakukan yaitu bersih-bersih kamar mandi, kamar tidur, halaman rumah dan rumah kontrakan. Pada bulan puasa order masuk lumayan banyak hingga tukang becak kewalahan,” tuturnya.

Ia menambahkan, kondisi normal order masuk sepekan 3 kali. Ini lebih baik daripada mengandalkan penumpang di pangkalan jalan kampus. Ongkos bersih-bersih kamar kost Rp 30.000, namun apabila ruangan atau rumah yang dibersihkan memakan waktu lama akan dihitung ongkos harian yaitu Rp 70.000. Jika lokasi konsumen di luar area Purwokerto, dikenakan biaya tambahan untuk transportasi sebesar Rp 10.000.

Ongkos jasa yang diterima 80 persen untuk pekerja atau tukang becak, sedangkan 20 persen dikelola Koperasi Pekerja untuk operasional Pedihelp. Apabila, dalam sehari ongkos jasa petugas kebersihan mendapat Rp 70.000, berarti tukang becak itu akan menerima penghasilan bersih Rp 50.000.

Hadi yang berjualan gorengan di jalan kampus pun optimistis order dari masyarakat akan semakin ramai, karena peluang jasa cleaning service besar. Apalagi, kecenderungan orang tidak sempat membersihkan rumah, kamar atau halaman akibat sibuk bekerja.

“Saat ini order belum begitu ramai karena pola pemesanannya masih mengandalkan pesan WhatsApp, namun kalau sudah berbasis aplikasi pesanan akan semakin banyak dan areanya semakin luas karena hampir semua orang sekarang menggunakan ponsel pintar,” katanya memprediksi.

Untuk itu, selain mempersiapkan tenaga tambahan ia mendorong para anggota Koperasi Pekerja yang notabene tukang becak untuk melek teknologi. Mereka harus memiliki ponsel pintar untuk mempermudah ketika menerima pesanan bersih-bersih kamar atau rumah dari konsumen.

“Saat ini kalau ada order saya harus mendatangi ke pangkalan. Kalau tidak ada di pangkalan saya mencari ke rumah. Ini yang masih menjadi kendala karena tukang becak belum semua memiliki android. Tapi saya yakin nanti mereka akan menyesuaikan diri,” ujar dia.

Respons Pasar Positif

Salah satu pelopor Koperasi Pekerja Purwokerto yang merangkap sebagai Manager Pedihelp, Aef Nandi Setiawan, mengemukakan, saat ini sudah ada 60 tukang becak yang akan bergabung di Koperasi Pekerja. Adapun anggota yang rutin mengambil order pekerjaan cleaning service terdapat 9 anggota.

“Jasa cleaning service masih uji coba, namun respons pasar positif. Selama 7 bulan sudah ada sekitar 100 order dengan nilai transaksi sekitar Rp 7 juta,” ujar dia.

Sebelumnya, order yang datang sangat sedikit. Namun, promosi lewat media sosial dan brosur yang disebar dan ditempel di lokasi-lokasi strategis menjadi bisnis jasa ini mulai dikenal masyarakat. Dalam dua pekan terakhir, hampir setiap hari selalu ada order masuk dari pelanggan lewat pesan singkat, bahkan sekarang sudah memiliki pelanggan.

Respons positif ini memantik pegiat koperasi dari Kopkun Institute untuk terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman dengan membuat layanan jasa cleaning service berbasis aplikasi. Saat ini sudah dibuat aplikasi yang dapat di unduh di google play store yaitu Pedi Solution.

Di aplikasi itu terdapat enam marketplace penyedia layanan atau jasa, yaitu Pedi Market, Pedi Mart, Pedi Massage, Pedi Kost, Pedi Social-Servise dan Pedihelp.

“Pedi Solution ini merupakan marketplace bagi para penyedia layanan/jasa. Munculnya Pedi Solution (Pedi.id) karena adanya Pedihelp,” kata Aef.

Nantinya, Pedihelp akan bermigrasi dengan aplikasi android. Dengan demikian, pemesanan jasa cleaning service tidak hanya memanfaatkan media sosial dan pesan instan, namun dapat dipesan dengan menggunakan aplikasi, sehingga jangkauan pasarnya semakin luas tidak hanya di Purwokerto, melainkan Banyumas dan sekitarnya.

Untuk mempersiapkan diri, Koperasi Pekerja akan menyasar pekerja informal, seperti tukang kayu, tukang kunci dan tambal ban. Mereka akan direkrut, diorganisasi dan dilindungi secara hukum dalam wadah koperasi. Visi Koperasi Pekerja ini salah satunya memberdayakan ekonomi pekerja informal.

“Saat ini dimulai dari tukang becak. Nanti ada tukang tambal ban, tukang kunci dan tukang kayu. Kami akan menampung pekerja informal. Pedihelp menjadi operatornya,” kata Aef yang juga menjabat sebagai Pengawas Koperasi Konsumen Kopkun atau lebih dikenal dengan nama Kopkun.

Aef menjelaskan, Koperasi Pekerja akan resmi dibentuk dan berbadan hukum setelah Lebaran tahun ini. Saat ini masih fokus pada penguatan lini bisnis jasa cleaning service. Beberapa anggota tim dari pegiat koperasi membantu dari sisi aspek manajerial dan pemasaran supaya usahanya semakin berkembang.

Evolusi gerakan koperasi di era digital, sambung dia, menjadi keniscayaan karena perkembangan teknologi sudah semakin pesat, sehingga koperasi melalui jenis usahanya harus mampu mengikuti.

“Kalau ingin bertahan ya harus mengikuti perkembangan zaman. Koperasi juga harus ke sana. Kami punya mimpi memberi percontohan bahwa koperasi juga bisa mengikuti era digital dengan bidang bisnis jasa dan ekonomi kreatif,” ujar mahasiswa Unsoed yang kini sedang menyelesaikan tugas akhir. []

Sumber: https://www.suaramerdeka.com/news/baca/96433/evolusi-koperasi-berbasis-aplikasi

Short URL: http://bit.ly/2vvmezO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.