• January 22, 2017
Daya Dukung Multi Pihak untuk AMJ

Awal tahun ini, tepatnya  7-8 Januari 2017 kelompok pra-koperasi  Argo Mulyo Jati (AMJ) kedatangan tamu: Yayasan Padu Akar Desa (Lala, Shantoy dan Faiz), Tim Facebook (Ms. Shelly Puri), Ecohub Global (Mr. Alistair Douglas). Tambah lagi ada Mark M. Kaplan dari Unilever International dan Gavin Ledle bagian video dokumenter. Dan satu lagi hadir juga staf Kantor Wakil Presiden, Mas Hilman.

Kedatangan ini merupakan lanjutan dari dukungan pemberdayaan petani gula oleh Yayasan Padu Akar Desa dimana Masril Koto sebagai pimpinannya. Tujuannya adalah mengaktivasi program M-Farm, sebuah aplikasi berbasis smartphone bagi petani penderes. Lebih jauh adalah meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran Kelompok Pra-Koperasi AMJ. Melalui M-Farm diharapkan nantinya para  petani akan terbantu dalam meningkatkan produktivitas mereka. Di samping juga menjaga alam yang ada di wilayahnya yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup mereka.

Di hari pertama rombongan disambut dengan sumringah oleh sekitar 70an anggota AMJ, bapak-bapak dan ibu-ibu. Memberi pengantar, Firdaus Putra,  HC., Direktur Kopkun Institute memotivasi anggota AMJ untuk tetap telaten dalam membangun dan mengembangkan koperasinya. “Organisasi membuat daya dukung makin besar. Buktinya hari ini Bapak-bapak, ibu-ibu. Yang mungkin tiga tahun lalu tidak terbayangkan”, ujarnya.

Dilanjutkan Lala Tedja bersama tim yang menyosialisasikan program M-Farm kepada para hadirin. Melalui M-Farm diharapkan nantinya petani di ketanda akan terbantu dalam meningkatkan produktivitas mereka. Di samping juga menjaga alam yang ada di wilayahnya yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup mereka.

Anggota tim lain, Mark Kaplan dari Unilever terkesan dengan antusiasme para petani. Momen itu merupakan kali pertama dia melihat bentuk asli gula merah. Shitta, HC. dan Fandi Jun. HC. membantu menerjemahkan kepada lima orang dari luar negeri itu. Selama ini gula yang beredar di pasaran internasional dari Indonesia adalah gula kristal yang mereka kenal dengan sebutan palm/ brown sugar, bukan gula cetak.

Mark dan lainnya terkejut ketika dijelaskan bahwa selama ini rantai pasok gula itu sangat timpang. Petani sebagai produsen justru menikmati hasil paling sedikit. Ketidakadilan itu yakni gula petani dibeli dengan harga oleh tengkulak lalu dijual lagi ke pasaran dengan selisih harga yang tinggi. Ditambah dengan sistem ijon yang mengikat petani hingga tak pernah bisa lepas dari jeratan hutang.

Di hari kedua, tim melihat proses produksi gula secara langsung dari petani gula Ketanda. Alistair Douglas dari Ecohub Global terkesima dan terkesan saat melihat langsung salah satu petani gula memanjat pohon kelapa. Ia takjub melihat petani yang memanjat tanpa menggunakan perlengkapan keamanan yang memadai. Sedangkan Gavin Ledle mendokumentasikan seluruh kegiatan kunjungan itu. Ia juga videokan proses produksi dari memanjat pohon kelapa, menyadap gula, cara memasak dan memasak nira (ngindel), dicetak dan menjadi bentuk gula cetak yang siap jual. 

Sam Edi, HC., mewakili AMJ mengatakan, “Semoga ini menjadi momen penting bagi AMJ. Dengan adanya keseriusan beberapa elemen, baik dari pemerintahan maupun non pemerintahan, akan menjadi sinergi positif bagi AMJ dan seluruh penderes di Ketanda, Banjarpanepen bahkan Sumpiuh”. Kegiatan itu ditutup oleh ular-ular dari Kepala Desa Ketanda, Sutarno, dengan harapan yang sama dan tak kalah antusiasnya. [Jun]

Short URL: http://bit.ly/2jFtuCF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.