• November 29, 2017
Coaching Rencana Strategis Pemekaran KUD Pringgondani

Sabtu, 25 November 2017 lalu, jajaran Pengurus, Pengawas dan Manajemen KUD Pringgondani adakan brainstorming bersama Kopkun Institute. Tujuannya, untuk menggali wawasan sebelum mereka menyusun Rencana Strategis dan Peta Jalan Tahun 2018.

Setelah 7 bulan menandatangani Pakta Koperasi Perubahan tanggal 7 Februari 2017, dirasa mendesak bagi kami untuk mendapatkan penyegaran dalam bentuk konsultasi” kata Pak Jazeri, Ketua, pembukaan kegiatan itu. Beliau menambahkan, “Saya harap, kedepan agenda koperasi perubahan bukan hanya keinginan saya pribadi tetapi keinginan seluruh tim KUD Pringgondani”.

Sungguh tak dinanya, Ketua KUD Pringgondani membawa salinan Pakta Perubahan yang telah dilaminasi. Lembar komitmen yang berisi 5 point kesepakatan peserta peserta Koperasi Perubahan Angkatan Pertama di Baturaden tersebut. Hal tersebut sukses mencuri perhatian Direktur Kopkun Institute. “Saya sangat terkesan dan terharu, ternyata KUD Pringgondani masih menyimpan Pakta Perubahan “ kata Firdaus Putra, HC. disela materinya.

Selama satu hari, pukul sembilan sampai jam 22.00 peserta belajar dan berdiskusi dengan dipandu para praktisi Kopkun Institute. Dimulai dari materi Review Spirit Berkoperasi (M Arsad Dalimunte, HC), Tata Kelola Dinamis dan Pemekaran Koperasi (Firdaus Putra, HC), Bisnis Model Koperasi (Herliana, HC), dan Refresh Renstra (Vledy Afief Al Fauzi, HC).

Berbeda dengan Materi Koperasi Perubahan, yang fokus pada penyusunan rencana strategis (Renstra), pada kesempatan itu, Direktur Kopkun Institute mengenalkan gagasan Tata Kelola Dinamis dan Pemekaran Koperasi. Poinnya adalah mencari daya lenting, lentur dan tangkas dalam mengelola koperasi. “Kuncinya terletak pada kapabilitas dinamis: Think Ahead (Berfikir maju ke depan), Think Again (Berfikir kembali tentang apa yang sudah dilakukan) dan Think Across (Berfikir Out the box)”, urainya. Dengan cara begitu, koperasi akan mudah memasuki ikhtiar besar berikutnya, yakni pemekaran atau spin off. 

Dalam proses diskusi yang terjadi disela materi, sebuah pernyataan menarik muncul. “Bagaimana merubah tata kelola KUD yang selama ini “by sinten” menjadi “by system?” Hal itu muncul karena melihat fakta lapangan bahwa KUD yang sampai sekarang masih bertahan ternyata bukan dikarenakan keberhasilan tata kelola lembaga, tetapi karena adanya faktor ketokohan pribadi pengurusnya. Kegundahan itulah yang sampai sekarang menjadi PR besar KUD Pringgondani, dan salah satu alasan kedatangan mereka ke Kopkun Institute.

 

Materi Pengayaan menjadi penutup agenda coaching yang dipandu oleh Konsultan Senior KI, M. Arsad Dalimunte, HC. Materi malam itu merupakan sesi pengayaan atas materi sebelumnya. Jika sebelumnya peserta banyak mendengarkan dan menyimak, di sesi ini peserta lebih banyak berdiskusi dan sharing dengan suasana yang lebih santai.

Di akhir acara semua sepakat bahwa pada dasarnya perubahan membutuhkan komitmen, keberanian dan kesabaran. Selain kebulatan tekad semua pihak, untuk merubah by sinten menjadi by system, diperlukan kerelaan dari tokoh yang selama ini difigurkan. Kerelaan untuk mempercayai generasi muda sebagai pemegang tampuk kepemimpinan KUD. “Tidak ada satu metode baku yang bisa diterapkan ke semua institusi, hasil dialog dan diskusi hari ini kami harapkan menambah referensi bagi KUD Pringondani dalam pengembangan ke depan”, tutup Vledy Afief, HC., Deputi Diklat Kopkun Institute di akhir kegiatan. []

Short URL: http://bit.ly/2i3hYRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *