• February 24, 2017
Brainstorming Bersama Kadinkop Prov. Jateng

Ada yang berbeda dengan gaya kepemimpinan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Prov. Jawa Tengah yang baru ini. Tanpa sungkan Ibu Ema Suratman mengatakan, “Saya biasa “bertengkar” sama teman-teman. Menurut saya bertengkar itu biasa dalam kerja. Yang penting tidak masuk ke hati”, ujarnya ceplas-ceplos. Bertengkar dalam artian adu argumen tanpa sungkan dalam membahas topik tertentu.

Pada Kamis, 23 Februari 2017 lalu Ibu Ema beserta beberapa Kepala Bidang (Kabid) dan Kepala Balatkop berkunjung ke Kopkun Institute. Kunjungan informal itu tujuannya untuk brainstorming tentang revitalisasi koperasi di Jawa Tengah bersama awak Kopkun Institute.

Dalam kesempatan itu Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute memaparkan gambar besar perkoperasian di Jawa Tengah atau Indonesia pada umumnya. Ia gambarkan bagaimana koperasi mengalami inflasi makna. “Lihat saja di setiap RT/ RW itu ada koperasi, yang maksudnya adalah Kelompok Simpan Pinjam. Nah orang melihat ya itu koperasi: kecil-kecil dan aktivitas sambilan (samben). Jadilah citra umumnya koperasi itu ya begitu”, terangnya.

Firdaus memaparkan Kuadran Koperasi yang berisi empat model: Kuadran I Koperasi Besar-Benar, Kuadran II Besar-Salah, Kuadran III Kecil-Benar, Kuadran IV Kecil-Salah. “Meski kita belum lakukan survai, kondisinya lebih banyak di Kuadran III dan IV. Artinya koperasi dengan skala kecil-menengah yang sebagiannya benar, namun tak berkembang dan sebagian yang lain jenis abal-abal”, sambungnya.

Dalam uraiannya ia menjelaskan tentang perlunya aksentuasi koperasi sebagai perusahaan (cooperative enterprise) yang bermasa depan. Tujuannya agar orang serius berkoperasi, bukan sekedar iseng, coba-coba atau sekedar alat untuk terima bantuan. Dengan aksentuasi perusahaan profesional yang berbasis orang ini, diharapkan koperasi memiliki budaya perusahaan (corporate culture) yang bagus. “Pengalaman kita saat kemarin selenggarakan Lokakarya KUD Perubahan, ternyata semua KUD tidak memiliki Rencana Strategis (Renstra). Di situlah pangkalnya sehingga KUD capaiannya hanya segitu-gitu saja. Kalau perusahaan, tentu Renstra itu wajib ada sebagai target yang harus dicapai”, tegasnya.

Aksentuasi tersebut tentu saja tetap bersetia dengan definisi umum koperasi: “Merupakan kumpulan orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi dalam bidang ekonomi-sosial-budaya melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis”. Seperti sebuah uang koin, koperasi berwajah ganda: kumpulan orang (people based association) di sisi satunya perusahaan bersama (collective enteprise). Aksentuasi adalah menonjolkan satunya tanpa menghilangkan sisi lainnya.

Sehingga revitalisasi perusahaan koperasi, masih menurutnya, pertama-tama adalah merevitalisasi para Pengurus dan Pengelolanya. “Ini yang kemudian ditulis Prof. JG. Nirbito dalam makalahnya, Paradigma Baru Koperasi, bahwa jatuh-bangunnya koperasi di tangan manajemen; Maju-mundurnya di tangan anggota; Berkembang koperasi dari sinergi antara manajemen dengan anggota. Aktor utama itulah yang harus dibongkar cara pikir dan cara tindaknya agar hasilkan sesuatu yang berbeda”, ujar Firdaus.

Dalam brainstorming kesempatan berikutnya Arsad Dalimunthe, HC., Ketua Dekopinda Banyumas, menjelaskan 7 (tujuh) masalah koperasi Indonesia. “Saya membuat kesimpulan ini setelah 20 tahun lebih berpraktik di koperasi. Setelah saya amati ternyata akar masalahnya ada tujuh: 1. Tidak memahami konsepsi koperasi; 2. Tujuan tidak jelas (genuine coop atau hybrid atau campuran); 3. Distribusi peran/partisipasi yang belum efektif; 4. Distribusi hasil yang tidak motivasional; 5. Kepemimpinan yang tidak memberdayakan; 6. Managerial skill rendah dan 7. Kewirakoperasian yang masih rendah”, urainya satu- satu.

Tujuh masalah itu menyebabkan aktivitas keseharian koperasi masih berjarak dengan keseharian anggota (belum mengakar) Kemudian jati diri belum dijadikan inspirasi dalam mengembangkan organisasi dan perusahaan; Gejala faktualnya adalah dimana perusahaan dikelola dengan semangat “money grow money” dan cenderung memposisikan anggota sebagai populasi pasar yang dieksploitasi untuk kebesaran perusahaan koperasi. Hasilnya tentu saja koperasi miskin dengan aktivitas yang memberdayakan anggotanya.

Arsad dalam paparannya memberikan tiga langkah yang harus diambil untuk revitalisasi koperasi: “Pertama, organisasi dan kelembagaan harus mencerdaskan anggota sehingga memiliki karkater mandiri, berkepedulian , setiakawan dan mencintai produktivitas berbasis kolektivitas. Kedua penyelenggaraan aktivitas perusahaan berdasarkan aspirasi dan kebutuhan mayoritas anggota walau tidak mengharamkan peluang yang berpotensi dimobilisasi. Dan terakhir adalah pengelolaan organisasi dan perusahaan berbasis nilai-nilai koperasi yang memberdayakan, mencerdaskan dan menyejahterakan”, tegasnya.

Brainstorming itu ditutup dengan lima rekomendasi yang perlu dilakukan oleh Dinkop Prov. Jateng seperti melakukan investasi SDM muda koperasi, membangun sistem informasi perkoperasian, mentradisikan perencanaan strategis (Renstra) di koperasi-koperasi, melakukan rebranding agar ekosistem perkoperasian menjadi lebih positif terhadap koperasi dan yang terakhir adalah mengoptimalkan berbagai aktivitas Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dengan lebih serius.

Menanggapi paparan-paparan itu, Kadinkop bersama Kabid dan Kabalatkop menjadi tercetus beberapa ide seperti keinginannya untuk produksi video-video pendek perkoperasian sebagai alat untuk pendidikan. “Ide video itu bagus. Nanti bisa disebarluaskan ke koperasi-koperasi agar diputar saat pendidikan anggota”, terangnya.

Herliana, HC., Ketua Kopkun menambahkan elaborasi dengan berbagi kisahnya bagaimana menangani Koperasi Unit Desa (KUD). “Jadi memang harus ada langkah-langkah baru, karena saat ini SDM di KUD saja sebagian besar sudah uzur. Tentu saja geraknya berbeda dengan yang muda. Skema yang kita implan di KUD itu adalah yang muda sebagai striker, yang senior sebagai representasi kepercayaan masyarakat. Kita figurkan”, terangnya.

Dalam kesempatan itu sebagai tuan rumah Herliana mengungkapkan terimakasih dengan kunjungan informal ini. “Yang informal kadang lebih efektif daripada acara seremonial formal. Malah informal meeting begini bisa mengeksplorasi berbagai gagasan dengan leluasa”, imbuhnya. []

Short URL: http://bit.ly/2ml5aXJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.