Kopkun Institute selenggarakan Workshop Spin Off Kelembagaan Koperasi

Spin off atau pemekaran kelembagaan koperasi saat ini hangat diperbincangkan. Spin off dianggap sebagai strategi baru dalam pengembangan koperasi di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu, Kementerian Koperasi dan UKM RI, selenggarakan lokakarya sejenis. Pentingnya agenda itu yang membuat Kopkun Institute menyelenggarakan lokakarya spin off pada 29 Juli 2018 di Hotel Dominic Purwokerto.

Sedikitnya 50 peserta mengikuti lokakarya dari awal sampai akhir. Menariknya, peserta tak hanya dari dalam kota, namun banyak yang dari luar kota. Yang paling jauh dari Palembang. Lalu dari komposisi peserta juga lebih beragam, ada KUD, KPRI, Koperasi Buruh, BMT, beberapa pelaku start up dan tak ketinggalan dua forum BUMDes, Banyumas dan Kebumen.

Lokakarya itu menghadirkan narasumber Robby Tulus, HC., Pendiri Koperasi Kredit Indonesia serta mantan Direktur ICA Regional Asia Pasifik. Kemudian Herliana, HC., Ketua Koperasi Kopkun dan Panji Narendra, Direktur Pengembangan Bisnis Tanibox, Bali. Ditambah istimewa lagi dengan hadirnya Balu Iyer, Direktur ICA Regional Asia Pasifik yang memberikan keynote speech-nya.

Pada kesempatan itu, Robby memberi pengantar lokakarya dengan memberikan paradigma umum mengapa koperasi perlu spin off. Ia memberikan dasar konseptual yang pas bagaimana koperasi merespon era disrupsi ini. “Saya ambil contoh, gerakan koperasi kredit yang saat ini anggotanya 3 juta orang dengan aset sampai 30 trilyun rupiah itu, bisa terdisrupsi dari dalam dan luar. Dari dalam misalnya ketika semua kebutuhan anggota sudah dipenuhi, lantas mau apa lagi? Itu yang membuat spin off penting untuk menjawab kebutuhan anggota. Dari luar, lihat saja bank-bank lebih tangkas dengan layanan tanpa kantornya”, terangnya.

Kemudian pada sesi kedua, Herliana, HC., menerangkan detail proses, pola serta model-modelnya. Ia menyampaikan, “Kalau di swasta hal ini biasa, misalnya adanya Holding Company. Di koperasi hal ini masih baru dan peraturannya juga belum ada. Spin off ini sebenarnya mirip seperti mendirikan koperasi sekunder. Bedanya koperasi sekunder itu sifatnya lakukan konsolidasi vertikal, bila spin off itu konsolidasi horizontal. Di sinilah pentingnya Group/ Holding sehingga berbagai jenis koperasi dapat diintegrasikan”, ujarnya.

Pada sesi ketiga, Panji Narendra, memberi alternatif mobilisasi permodalan spin off. “Polanya kita bisa lakukan dengan structuring and leveraging. Kami pernah upayakan hal ini di salah satu koperasi Kalimantan yang ingin mendirikan pabrik. Skemanya yakni dengan menerbitkan sertifikat modal ke anggotanya. Alhamdulillah terserap 3 minggu dengan nilai totalnya 20 milyar. Kemudian sisanya baru kerjasama dengan mendirikan perusahaan patungan bersama swasta”, jelasnya.

Peserta antusias dengan materi-materi yang disajikan oleh narasumber dan karena memang materi ini hal baru untuk koperasi. Tentu saja harapannya pasca lokakarya, koperasi dapat mulai melakukan analisis potensinya untuk lakukan spin off. “Kalau spin off itu begitu, KPRI NEU bisa lakukan spin off. Insya Allah 2019 bisa mulai kita jalankan”, terang Ketuanya. Lalu dari Koperasi Buruh Metal Bekasi, “Kami berencana ingin membeli pabrik piring dan cairan pembersih. Nampaknya hal itu menjadi masuk akal dengan model spin off ini”, ujarnya. []

 

Short URL: http://bit.ly/2vA3uPu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.