Potret Gerakan Kota Koperasi: Dari Roma Hingga Purwokerto

Oleh: Novita Puspasari, HC.

Adalah sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Eutropian, lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi dan riset untuk mendukung proses pencapaian masyarakat urban yang inklusif di Eropa, menginisiasi proyek yang diberi nama “Financing Cooperative City” atau “Mendanai Kota Koperasi”. Proyek ini dilakukan di beberapa kota besar di Eropa; Roma, Budapest, Berlin, Praha, Rotterdam, Bratislava, dan Warsawa.

Apa itu “kota koperasi”?, mengapa pula sebuah kota kecil di Pulau Jawa, Purwokerto, juga mengusung gerakan serupa?.

Model pembiayaan ekonomi tradisional di Eropa tidak pernah menyentuh proyek-proyek lokal, berskala kecil, dan diinisiasi oleh komunitas.  Model ekonomi tersebut hanya membiayai proyek-proyek pemodal besar, seperti proyek real estate, pabrik, dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya berbagai gerakan sosial dan krisis ekonomi di tahun 2008 membuat proyek-proyek besar tersebut mangkrak. Paska krisis ekonomi global tersebut, banyak aset-aset di daerah perkotaan yang mangkrak seperti bangunan dan lahan. Kondisi ini yang menggerakkan anak-anak muda dalam Eutropian untuk membuat proyek Kota Koperasi (Cooperative City) di tahun 2014.

Gerakan Kota Koperasi di Eropa mencoba untuk mengeksplorasi dan mendorong terciptanya model ekonomi baru lewat eksperimen sosial. Kota koperasi akan menjadi model pembangunan ekonomi masyarakat urban yang berbasis komunitas (community-led) dengan model kepemilikan koperasi.  Model koperasi digunakan karena prinsip koperasi menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika dan sustainability. Selain itu, struktur kepemilikan dalam koperasi tidak memungkinkan terjadinya spekulasi pasar yang dapat merugikan komunitas.

Dalam prakteknya, gerakan ini tidak hanya bergerak “on the ground”, namun juga melibatkan para pemangku kepentingan untuk terlibat di dalamnya; pemerintah daerah, politisi dan para pengambil kebijakan finansial. Sebagai awalan, Eutropian bekerja sama dengan LSM lokal mengadakan serangkaian workshop kota koperasi. Workshop tersebut berisi kuliah lapangan, debat publik, dan pembuatan film serta video tentang kota koperasi. Langkah awal untuk memperkenalkan gagasan kota koperasi ini berhasil diterima oleh banyak kalangan.

Di Roma, Rotterdam dan Budapest, misalnya, Gerakan Kota Koperasi yang didukung oleh pemerintah lokal berhasil mengakuisi sejumlah aset-aset mangkrak di kota. Aset-aset mangkrak seperti lahan dan bangunan tersebut kemudian dibuat sebagai area perkantoran, creative hub, art space, kafe, toko retail maupun taman komunitas. Tidak sekedar membangun infrastruktur,  kota koperasi memperhatikan kebutuhan spasial, ekonomi, sosial, dan kultural. Pekerja dalam proyek tersebut adalah para pengangguran di kota, sementara proyek dibiayai dari komunitas setempat dengan model koperasi.

Ribuan mil dari Eropa, di Purwokerto, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, gerakan serupa mulai tumbuh. Mengusung kampanye “Purwokerto Kota Koperasi 2022”. Gerakan ini berupaya untuk membangun ekosistem yang baik agar mendukung tumbuhnya koperasi-koperasi yang “genuine”. Bukan rahasia lagi jika banyak koperasi di Indonesia adalah koperasi abal-abal, semacam rentenir berkedok koperasi. Dalam jangka panjang, tujuannya adalah agar semakin banyak masyarakat mendapat manfaat dari koperasi-koperasi yang genuine ini dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat anggota.

Kopkun Institute, sebuah institut sosio-ekonomi dan koperasi di Purwokerto, yang mengawali gerakan ini. Dalam perjalanannya, Purwokerto Kota Koperasi telah merangkul berbagai kalangan; koperasi-koperasi genuine, pemerintah lokal dan pusat, kampus, sekolah, LSM, ormas dan desa untuk turut serta dalam gerakan ini.  Purwokerto tepat dipilih sebagai momentum lahirnya kota koperasi karena ditinjau dari sisi sejarah, koperasi pertama lahir di kota ini. Sementara dari sisi praktik, sejumlah aktivis koperasi yang malang melintang di Indonesia juga ditempa di kota ini.

Dari analisis kondisi saat ini, Kabupaten Banyumas tempat Purwokerto berada memiliki sekitar 416.690 anggota koperasi dan 457 koperasi. Sayangnya, angka kemiskinan di Kabupaten Banyumas masih tinggi. Banyumas masuk dalam zona merah kabupaten miskin di Jawa Tengah. Artinya, keberadaan koperasi beserta ratusan ribu anggotanya tidak memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat Banyumas. Pekerjaan rumah utama Gerakan Purwokerto Kota Koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan  60.000 Usaha Mikro Kecil (UMK), 27.000 kepala keluarga penderes gula kelapa, kelompok-kelompok tani dan kelompok-kelompok yang ada di the bottom of the pyramid lainnya lewat koperasi.

Spirit perubahan pada Gerakan Purwokerto Kota Koperasi akan mendorong kerja kolaboratif multi pihak. Bahkan, gerakan ini memiliki Roadmap Kota Koperasi yang disusun untuk tahun 2017 hingga 2022. Tujuannya agar indikator capaian kota koperasi dapat lebih terukur, sehingga blue print gagasan Kota Koperasi ini dapat direplikasi di kota-kota lainnya di Indonesia.

Gerakan Kota Koperasi di berbagai belahan dunia dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk kegelisahan akan kondisi sosio-ekonomi saat ini. Gerakan ini jelas beyond a merely city branding, bukan semata-mata branding kota seperti misalnya “I Amsterdam” atau “I♥NY”. Purwokerto Kota Koperasi, misalnya, membawa cita-cita luhur untuk menyejahterakan UMK, tukang becak, penderes gula kelapa, dan kelompok masyarakat anggota lainnya.  Dari Roma hingga Purwokerto, gerakan kota koperasi merupakan angin segar perubahan. []

Sebelumnya telah dimuat di: https://geotimes.co.id/opini/potret-gerakan-kota-koperasi-dari-roma-hingga-purwokerto/

Short URL: http://bit.ly/2BaXSgy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *