Memahami Milenial

Oleh: Novita Puspasari, HC.

“Anak jaman sekarang nggak mau susah, maunya yang instan-instan”

“Dasar anak jaman sekarang kurang sopan santun”

“Anak kemarin sore aja kok sok tau”

Kalimat-kalimat tersebut seringkali kita temui saat ini, diungkapkan dengan nada kesal dari orang yang lebih tua ke yang lebih muda. Kalimat tersebut kerap diungkapkan oleh generasi baby boomers (generasi yang lahir pada tahun 1960-an) atau generasi X (lahir tahun 1970-an) kepada generasi Y atau generasi milenial (lahir akhir tahun 1980an, 1990 hingga 2000an). Mengapa penting mengkaji milenial?, milenial penting dikaji karena mereka akan mendominasi lebih dari 50% angkatan kerja di seluruh dunia pada tahun 2020. Menurut Price Waterhouse Cooper (PCW), aspirasi, perilaku, dan pengetahuan yang dimiliki milenial akan menentukan kultur organisasi Abad ke-21.

Generasi milenial memang unik. Generasi ini disebut oleh National Chamber Foundation (NCF, 2013) sebagai generasi yang penuh kontradiksi. Betapa tidak di satu sisi mereka begitu ambisius mengejar goals mereka, tapi di sisi lain mereka tidak dapat fokus mengejarnya. Di satu sisi mereka sangat toleran terhadap perbedaan, di sisi lain mereka tidak tahan jika harus berhadapan dengan orang-orang yang dianggap sulit. Di satu sisi mereka berambisi untuk memberikan kontribusi untuk dunia, di sisi lain mereka tidak mau bersusah payah berproses dari awal, memulai dari mengerjakan hal remeh temeh. “the millenials, they are distate for menial work”, begitu hasil riset dari West Midland Family Center (WMFC) pada tahun 2012. Artinya, milenial tidak mau bekerja kasar dan remeh. Mereka pintar secara intelektual, berpendidikan tinggi, visinya besar, idenya inovatif namun tidak cukup punya kesabaran untuk berproses dalam mengubah visi menjadi tindakan nyata. Paradoks!

Distraksi Milenial

Distraksi terbesar milenial adalah teknologi. Milenial tumbuh dengan memiliki identitas pada facebook, instagram, twitter, path, dan sejenisnya. Laptop, ponsel dan internet tidak dapat dipisahkan dari mereka. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika di tahun 2014 ada sekitar 83, 7 juta orang pengguna internet di Indonesia. Sementara pengguna Instagram di Indonesia adalah yang terbesar di dunia (22 juta pengguna). Menurut NCF (2013), sekitar 75% milenial adalah technological savvy (ahli dalam teknologi). Masih riset dari NCF, 80% milenial bahkan tidur dengan ponsel di samping tempat tidurnya. Ini menegaskan fakta bahwa relasi yang terbentuk antara milenial dan teknologi telah menggantikan bentuk-bentuk relasi milenial yang lain seperti dengan individu lain dan buku.

Herbert Simon, seorang peraih Nobel di bidang ekonomi pernah meramalkan luberan informasi yang didukung oleh perkembangan teknologi ini jauh sebelumnya pada tahun 1977. Menurut Simon, akan datang dunia yang kaya dengan informasi, dan informasi tersebut akan mengkonsumsi “perhatian dari para penerimanya”. Karena itulah luberan informasi akan menciptakan kemiskinan atensi.

  

Kemiskinan atensi merupakan isu fundamental yang terjadi pada milenial. Karena mereka menerima terlalu banyak informasi dari internet, mereka cenderung tidak fokus dan kehilangan atensi atas banyak hal. Distraksi informasi ini membuat milenial cenderung gelisah dan merasa tidak ingin terjebak dalam kondisi yang sama dalam jangka waktu lama. Sisi positifnya, milenial dinamis, cepat beradaptasi mengikuti perkembangan zaman,  selain itu mereka juga multitasking.  Di dunia bisnis, misalnya, milenial dapat mengubah peta persaingan bisnis yang awalnya didominasi oleh pemilik kapital besar. Mal-mal mulai ditinggalkan pengunjungnya, sebaliknya penjualan online yang didominasi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bertumbuh pesat.

 

Tantangan yang dihadapi organisasi saat ini dalam mengelola milenial adalah, kecepatan untuk berubah. Namun seringkali kecepatan ini tidak diimbangi dengan ketepatan dan manajemen konflik dalam organisasi. Baik organisasi dengan lingkup besar seperti perusahaan maupun organisasi lingkup kecil seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus tertatih-tatih menghadapi kompleksitas milenial. Energi dan optimisme yang dimiliki oleh milenial, sayangnya tidak diimbangi oleh loyalitas terhadap organisasi.

Treatment bagi Milenial

Potensi yang dimiliki milenial sebenarnya sangat banyak. Menurut WMFC (2012), milenial memiliki nilai-nilai seperti optimis, terbuka pada ide-ide baru, toleran, inovatif, percaya diri, kompetitif, cerdas, independen dan banyak kelebihan-kelebihan lainnya.  Nilai-nilai yang dibawa milenial berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Sayangnya, perlakuan (treatment) yang diberikan kepada milenial justru tidak berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Menurut PWC (2015), milenial memerlukan mentor yang dapat menjadi role model bagi mereka. Figur mentor bagi milenial harus seseorang yang memiliki karakter kuat, dapat mengarahkan mereka, sekaligus memahami bagaimana milenial berfungsi. Sebagai generasi yang paling menghargai keberagaman dan kesetaraan,  orang yang menjadi mentor bagi milenial harus terbuka dan egaliter.

Saluran komunikasi yang terbuka dan fleksibilitas hubungan akan membuat milenial dapat memaksimalkan potensinya dan membuat organisasi tidak kehilangan aset-aset terbaiknya.  Mengembangkan apa yang pernah dikatakan Albert Einstein, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah berbeda dengan cara berpikir dan metode yang sama. Generasi yang berbeda memerlukan perlakuan yang berbeda. Tidak ada gunanya merasa generasi yang satu lebih baik dari generasi yang lain, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak perlu juga khawatir berlebihan tentang ketidakpantasan “anak jaman sekarang” karena manusia, sama seperti sejak jaman prasejarah, akan selalu beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. []

Sebelumnya telah dimuat di: https://geotimes.co.id/opini/memahami-milenial/

Short URL: http://bit.ly/2ie2Twn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *