Memahami BMT dengan Pendekatan Koperasi Baru

Oleh: Dani Kusumastuti, HC.

Adanya dua fungsi sosial dan fungsi ekonomi pada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebagaimana Baitul Maal wa Tamwil (BMT) telah menimbulkan perdebatan sekaligus pemikiran baru mengenai konsep organisasi yang tepat untuk entitas semacam ini. Perkembangan mutakhir konsep organisasi LKM/BMT dikemukakan Leonardo Becchetti. Becchetti menggolongkan perusahaan non profit menjadi tiga yaitu: perusahaan koperasi (cooperative firms), perusahaan sosial (social firms) dan perusahaan pasar sosial (social market enterprises).

Social Market Enterprise (SME) merupakan suatu pendekatan koperasi yang baru (a frontier social enterprise) dimana mewadahi konsep perusahaan yang menggabungkan misi sosial dan ekonomi seperti BMT. SME  berbeda dengan gerakan koperasi tradisional karena gerakan baru koperasi ini tidak hanya berorientasi pada anggota dan beroperasi dalam lingkungan domestik saja. SME dalam konsepsi Hanel adalah market linkage cooperatives.

Hanel membagi koperasi menjadi tiga yaitu koperasi tradisional, koperasi terintegrasi (integrated cooperatives) dan Market Linkage Cooperative (MLC) yaitu koperasi yang membangun hubungan pasar. Bentuk koperasi yang pertama dan kedua menggantungkan hidup dan matinya sepenuhnya dari partisipasi anggota. Sedangkan bentuk MLC membuka diri terhadap non-anggota dan pihak-pihak lain untuk bekerjasama.

Hanel mengkritisi bahwa koperasi modern yang cenderung sebagai MLC sulit untuk merealisasikan mandat anggota karena larut dalam sistem ekonomi pasar yang bermotif memupuk laba. Rahmudi Ariffin mendukung pandangan ini, dimana menurutnya koperasi MLC memang yang paling eksis dan berkembang pesat di Indonesia; Namun hakikat koperasinya telah hilang karena mengabaikan partisipasi dan kesejahteraan anggota.

SME memang berbeda dengan koperasi tradisional karena tidak sekedar menjadi pemasok jasa sosial, namun juga mampu berlaga di pasar. Meski demikian tidaklah harus menghilangkan semangat dan idealisme koperasi sebagaimana BMT. Kompetensi bersaing di pasar tidak selalu terkait maksimalisasi keuntungan belaka, melainkan hal ini demi menjaga sustainabilitas dan memastikan misi sosial dapat terus dijalankan.

Dengan alasan itu upaya penciptaan nilai ekonomi oleh SME dilakukan dengan cara yang penuh tanggung jawab sosial dan lingkungan agar tujuan pokoknya mempromosikan inklusi keuangan dan keadilan sosial dapat direalisasi. Untuk mendukung tujuan akhir secara efektif, SME menjadi lembaga yang secara sengaja menciptakan produk dengan tujuan memuaskan kebutuhan segmen konsumen tertentu.

Sejalan dengan Becchetti, Austin dan Reficco mengemukakan konsep Corporate Social Entrepreneurship (CSE). Konsep CSE merupakan pengembangan dari konsep social entrepreneurship yang diadopsi pada korporasi. Konsep ini sesungguhnya merupakan bentuk lanjut dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang hingga kini masih diperdebatkan. Sementara itu fenomena pertumbuhan SME yang lambat namun tumbuh secara konstan menjadi realisasi di level praktis apa yang selama ini menjadi wacana dan tuntutan yang masih diperdebatkan pada korporasi multinasional mengenai peran dan tanggung jawab sosial perusahaan. Kekhasan konsep SME menjadi keunggulan yang dinilai menjadikan SME lebih mampu menjawab tuntutan peran sosial perusahaan secara praktis di level lapangan. []

Penulis adalah Dosen IAIN Purwokerto dan Staf Riset Kopkun Institute

Short URL: http://bit.ly/2ucxCAY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *