Dua Skema untuk Membuat Koperasi Mahasiswa Tetap Relevan

Oleh: Firdaus Putra, HC.

Paling tidak ada sekitar lima kali kesempatan dimana keberadaan Koperasi Mahasiswa (Kopma) dipertanyakan relevansinya. Pertama tahun 1996, saat Canadian Cooperative Association (CCA), temukan fakta bahwa Kopma tak terintegrasi dengan gerakan koperasi yang lebih besar. Riset itu juga menemukan bahwa sebagian besar, “Most hope to become entrepreneurs, not part of co-operatives”.

Kedua, tahun 2002 dimana Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia (LSP2I) gelar lokakarya bertajuk “Koperasi Mahasiswa dan Pembaharuan Sektor Koperasi Masyarakat”. Sebuah lokakarya yang bertujuan untuk mendorong Kopma agar beperan dalam reformasi (SDM) koperasi di masyarakat.

Ketiga, Lokakarya Kurikulum Kaderisasi Kopma yang diselenggarakan FKKMI di Purwokerto pada 2014 yang lalu. Keempat, lokakarya yang sama yang diselenggarakan Kopindo di Bandung awal tahun 2017. Dan kelima, lokakarya yang sama yang diselenggarakan FKKMI di Semarang pada April 2017.

Dalam lima kesempatan dengan jeda waktu yang berbeda-beda itu, sentrum isunya sama: Pertama, Kopma yang cenderung mencetak wirausahawan, di sisi lain Kopma kurang berhasil mencetak kader koperasi (kooperator). Kedua, keberadaan kader Kopma yang diharapkan dapat menjadi aktor dalam lakukan reformasi koperasi di masyarakat yang mengalami penuaan dari segi sumber daya manusianya.

Paper ini bertujuan memberikan rekomendasi taktis agar kebuntuan bertahun-tahun itu dapat dipecahkan. Tentu saja perlu diujicobakan dan dievaluasi pelaksanaannya.

Premis Utama

Sebagai ruang kaderisasi, Kopma secara ideal harus dapat hasilkan kader koperasi. Hal itu yang akan membedakannya dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kampus atau berbagai divisi kewirausahaan organisasi mahasiswa lainnya. Itulah alasan adanya (raison d’etre) Kopma sehingga bisa tetap dipertahankan atau temukan titik relevansinya. Ada dua hal yang bisa dilakukan Kopma untuk hasilkan output sesuai dengan tujuan kaderisasi.

Rekomendasi Pertama: Magang

Pertama, Kopma fasilitasi magang bagi kader-kader demisioner (Pengurus/ Pengawas) yang telah selesaikan masa baktinya di tahun ke-2 atau ke-3. Pemagangan ini sebagai jembatan bagi kader Kopma untuk secara langsung praktika koperasi di masyarakat. Sama artinya dengan ruang belajar-praktik berkoperasi dalam skala yang lebih luas tanpa terjebak pada ruang sempit kampus.

Bagi Pengurus dan Pengawas yang telah demisioner, dapat dikirim untuk melaksanakan magang selama 1-3 bulan di koperasi teladan (best practice) yang ada di masyarakat. Memilih koperasi teladan sebagai tempat magang bertujuan mengoreksi cara pandang kader Kopma yang telah terbiasa dalam ekosistem koperasi fungsional/ tertutup. Dan yang lebih penting adalah agar kader mempunyai kecakapan-kecakapan teknis dan non-teknis mengelola koperasi dari sebuah praktik koperasi yang baik.

Kader tersebut dapat dikirim ke koperasi seperti Credit Union, Koperasi Produksi yang berbasis anggota, BMT yang berbasis anggota dan aneka jenis koperasi lain yang praktikkan prinsip koperasi. Dengan memilih koperasi seperti itu, kader magang akan peroleh pengalaman langsung bagaimana operasionalisasi tujuan, nilai dan prinsip koperasi dalam tata kelola nyata di lapangan. Koperasi-koperasi gaya baru seperti Koperasi Pekerja yang berkembang di beberapa kota di Indonesia dapat menjadi tempat magang yang ideal bagi kader Kopma untuk dialektikakan apa yang telah diterimanya di Kopma dengan praktika koperasi generasi baru yang dinamis.

Output kader magang tersebut dapat diproyeksikan menjadi seorang pengelola atau manajer koperasi sehingga dapat menjawab kebutuhan sedikitnya SDM bermutu di koperasi masyarakat. Dengan cara itu, kader juga akan memperoleh pengalaman batiniah secara alamiah sehingga yang bersangkutan mempunyai waktu cukup untuk renungkan apakah pasca kampus akan berkhidmat dan berkarir di koperasi atau tidak.

Ruang dialog batiniah tersebut perlu bagi kader-kader sehingga pilihannya ketika berkhidmat dan berkarir di koperasi merupakan panggilan hati (passion) bukan sekedar heroisme semu yang berujung pada penyesalan dan frustrasi. Dalam titik itu, perlu juga dihormati kehendak bebas kader yang memiliki berbagai aspirasi, cita-cita dan seterusnya pasca kampus. Ruang dialog batiniah dalam praktik magang itu akan membuat masa transisi berjalan lebih smooth.

Rekomendasi Kedua: Inkubasi

Kecenderungan Kopma yang cenderung berorientasi pada pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship) dapat tetap dijalankan namun dengan lakukan modifikasi model luarannya. Dalam rekomendasi kedua ini, Kopma akan berperan sebagai lembaga inkubasi bisnis anggota yang berbentuk koperasi pekerja. Hal ini akan tetap efektif dengan melihat tren motivasi kewirausahaan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun yang merupakan salah satu efek dari bonus demografi.

Berbeda dengan fasilitasi magang yang target idealnya hasilkan calon manajer koperasi, inkubasi ini bertujuan untuk hasilkan para wirausahawan koperasi. Artinya sedari awal Kopma lakukan secara sadar dan aktif mendorong kader-kadernya menjadi wirausahawan dengan berkelompok berbasis koperasi pekerja. Dalam proses ini ada dua kompetensi dasar yang harus dimiliki: wirausahawan dan pengelolaan perusahaan koperasi (berbasis) pekerja (worker co-op).

Skema inkubasi yang bisa dilakukan Kopma sebagai berikut:

Tahun Pertama Kader: Belajar kewirausahaan dengan teori dan praktik Berbisnis Tanpa Modal (BTM). Terapannya misalnya dengan pembelajaran e-commerce yang lebih bertujuan untuk mengasah: kemampuan membaca pasar, kemampuan memasarkan, kemampuan melayani (handling order) dan pengalaman mental: wirausaha itu mudah. Target dari BTM adalah pendapatan yang digunakan untuk dua hal: 1. Menambah uang jajan/ kuliah, 2. Tabungan produktif pra koperasi pekerja.

Tahun Kedua Kader: Belajar kewirausahaan dengan model bisnis skala tertentu. Dalam tahap ini, kader dikelompokkan menjadi 3-5 orang dengan pertimbangan efektivitas kerja. Mereka ditantang (business challenge) untuk bangun bisnis bersama dengan skala tertentu, misalnya minimal modal 10-20 juta. Modal tersebut berasal dari 3-5 orang yang tergabung dengan memanfaatkan tabungan produktif yang telah dilakukan tahun sebelumnya.

Pada titik itu, kader perlu diajarkan bahwa usaha bersama/ berkelompok mempunyai beberapa manfaat: membagi resiko (risk sharing), daya ungkit modal bersama (capital leveraging) dan pengelolaan usaha (business management). Sehingga bisnis bersama yang dijalankan harus secara rasional mencukupi dilakukan oleh sedikitnya 3 orang agar proses bisnis dapat efisien.

Di tahun kedua itu, kader mulai diperkenalkan tentang Koperasi Pekerja (worker co-op) sebagai pilihan kelembagaan bisnis daripada CV atau PT. Koperasi Pekerja yang dimaksud tentu tetap berbasis pada jati diri koperasi. Dengan cara seperti ini, kader akan mempraktikkan langsung prinsip koperasi dalam pelaksanaan bisnisnya. Misalnya saja bahwa besar-kecilnya modal tidak mempengaruhi pengambilan keputusan; Setiap anggota pekerja dituntut partisipasi modal dan kinerjanya; Pembagian hasil berdasar kinerja, bukan atas modalnya. Dan seterusnya dan lainnya.

Dalam proses itu, peran Kopma sebagai inkubator akan banyak lakukan pendampingan seperti: pengelolaan usaha, akses pasar, akses modal, legalitas, pengelolaan keuangan dan lain sebagainya. Bahkan pada titik tertentu, bila dirasa model bisnis Koperasi Pekerja Q dilihat bermasa depan, Kopma dapat lakukan penyertaan modal dan/ atau kucurkan kredit produktif untuk kembangkan skalanya.

Pungkasan

Banyak alumni Kopma yang pasca kampus tak lagi berkhidmat dan berkarir di koperasi. Hal tersebut terjadi karena memang Kopma tak pernah secara organisasional merencanakan dan mendesain kader-kadernya agar feel in dan tune in dalam koperasi. Dengan dua skema itu, maka peluang alumni Kopma bekerja di koperasi (sebagai pembaharu dan/ atau social entrepreneur) menjadi lebih luas.

Catatannya, setiap kader harus dapat temukan spiritualitasnya: sebagai reformator koperasi masyarakat atau membuka lapangan kerja berbasis koperasi pekerja. Bila spirit itu mereka peroleh dan hayati, maka proses panjang dan berliku itu tak akan membuat mereka patah arah. Spiritualitas itu akan memunculkan energi kreatif tanpa batas bagi pelaku-pelakunya.

Lembaga-lembaga penunjang seperti FKKMI dan Kopindo dapat mengawal model di atas sebagai strategi untuk kembangkan kapasitas dan signifikansi Kopma secara jangka panjang. Dalam konteks ini, Kopkun Institute terbuka untuk asistensi bagi Kopma yang tertarik mencobanya. []

Contoh-contoh koperasi teladan:

  1. http://www.cucoindo.org/
  2. http://purusha.id/
  3. http://koperasimitramalabar.com/
  4. http://bmtberingharjo.com/
  5. http://mitradhuafa.com/
  6. http://www.cutmhalo.com/
  7. http://sbwmalang.com/
  8. http://cukelingkumang.com/
  9. Dll.
Short URL: http://bit.ly/2uRN4AK

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *