Raiffeisen, Kisah Melawan Kemiskinan

Oleh: Aef Nandi, HC.

Semenjak dimulainya Revolusi Industri di Eropa, kapitalisme mulai naik daun. Meski membawa kemakmuran yang signifikan, di sisi lain ada ketimpangan sosial-ekonomi sangat tajam; Sehingga ada segelintir orang sangat kaya, ada pula yang sangat miskin.

Jerman juga memulai sejarah industrialisasinya. Meski memberi kemajuan ekonomi, industrialisasi  juga menghasilkan residu sosial berupa kemiskinan, baik di kota dan desa. Di kota kemiskinan terjadi karena upah yang minim atau pengangguran akibat mekanisasi di pabrik. Di desa kemiskinan terjadi karena gagal panen atau terjerat hutang yang menumpuk pada rentenir.

Di era ini lahir Friedrich Wilhelm Raiffeisen di Hamm, kota kecil di provinsi Westfalia, Jerman pada pada 30 Maret 1818. Raiffeisen adalah tokoh sosialis utopis, hidup sezaman dengan pengagas sosialisme ilmiah, Karl Marx. Kelak keduanya dikenang abadi atas jasa dan pemikirannya.

Marx dikenal karena kritik atas kapitalisme yang tajam serta menjadi inspirator utama gerakan komunisme yang mashur itu. Raiffeisen dikenang atas jasanya dalam mengangkat martabat jutaan orang miskin dengan Credit Union atau Koperasi Kredit.

Bagi orang Jerman dan Austria, terutama di sepanjang aliran sungai Rheine, nama Raiffeisen sangat dikenal. Dia adalah pahlawan masa lampau dan masa yang akan datang. Konsep koperasi kreditnya menginspirasi jutaaan pekerja sosial dan memperbaiki kualitas hidup milyaran orang.

Serdadu Menjadi Walikota  

Raiffeisen muda mengenyam sekolah formal hingga usia 14 tahun. Setelah itu ia belajar di bawah bimbingan seorang pastor lokal selama tiga tahun. Berkat pastor inilah dia menjadi penganut Katolik dari sekte piesties yang religius.

Di usia 17 tahun ia menjadi serdadu, berdinas untuk kerajaan Prussia. Namun karena masalah penglihatan, karir militernya tidak lama. Dia pensiun tahun 1843 kemudian mengabdi di sektor publik, jadi walikota. Pada 1845, saat berusia 27 tahun, dia ditunjuk jadi walikota Wayerbusch, kota kecil dengan mayoritas warganya adalah petani miskin.

Ujian pertamanya sebagai walikota adalah mengatasi bencana kelaparan pada musim dingin tahun 1846 – 1847 akibat gagal panen. Selain itu, kemiskinan semakin menjadi akibat petani terjerat hutang pada rentenir. Akibatnya, pada masa itu,  para petani seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kelaparan, dibelit hutang pula.

Kemudian Raiffeisen menggagas Broodfonds atau bread society untuk mengatasi masalah kelaparan. Mulanya dia mengumpulkan uang dari para dermawan untuk diberlikan roti. Selanjutnya roti didermakan pada orang miskin. Harapannya tentu saja agar mereka tidak lagi lapar dan miskin.

Setelah berjalan sekian lama kemiskinan tidak kunjung berkurang bahkan muncul masalah baru, ketergantungan. Setiap hari, antrian untuk mendapat jatah roti semakin memanjang, mengular. Raiffeisen mulai menyadari, kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan derma.

Tahun 1848 dia dipindahkan ke Flammersfeld, kota yang tidak lebih baik dari kota sebelumnya. Di sini dia menggunakan pendekatan berbeda untuk mengatasi kemiskinan, caranya mendirikan simpan pinjam. Dia mengajak si kaya menyimpankan kelebihan uangnya dan akan dipinjam oleh si miskin dengan bunga yang rasional. Melalui lembaga yang dia dirikan, uang itu kemudian disalurkan pada orang miskin.

Pada tahun 1852 Raiffeisen ditunjuk menjadi walikota Heddesdorf. Di kota ini dia melanjutkan idenya untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dengan menyempurnakan gagasan sebelumnya. Pada1864 berdirilah koperasi simpan pinjam modern, yang kelak kita kenal sebagai koperasi kredit (Credit Union).

Pelopor Koperasi Pedesaan  

Model koperasi Raiffeisen terinspirasi dari  Hermann Schulze-Delitzsch. Namun, Koperasi Delitzsch di perkotaan dengan anggotanya para pedagang maupun buruh. Sementara Raiffsien bergerak di pedesaan dengan cara mengeksplorasi modal sosial (social capital) di masyarakat. Baik Delitzsch maupun Raiffeisen keduanya adalah sama – sama inspirator koperasi kredit yang kita kenal dewasa ini.

Koperasi kredit bervisi pemberdayaan komunal. Raiffeisen mengajak baik orang miskin maupun kaya untuk terlbat dalam membangun komunitas. Dengan konsep ini, terbentuklah relasi elegan antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya memberi pinjaman dengan bunga ringan pada orang miskin dengan cara menyimpan uangnya di koperasi.

Di sisi lain, dengan bantuan uang pinjaman, orang miskin punya kesempatan membenahi hidupnya dengan cara yang bermartabat. Mereka bisa fokus memperbaiki ekonomi tanpa khawatir dicekik dengan bunga yang tinggi. Secara bertahap mereka mengembalikan pinjaman uang dari orang kaya melalui koperasi.

Karena komitmen membangun komunitas, Raiffeisen tidak mentolelir hadirnya praktik rente. Karena ia menyadari, para petani miskin tidak hanya karena gagal panen tapi juga karena praktik rente dengan bunga mencekik. Sehingga orang miskin akan terus miskin karena harus membayar bunga yang tinggi.

Dalam praktiknya Raiffeisen menggunakan pendekatan kultural dan melibatkan institusi keagamaan semisal gereja. Gerejalah yang merekomendasikan seseorang layak diberi pinjaman atau tidak. Selain itu gereja juga koperasi memberi pendidikan  agar orang miskin menggunakan uang pinjaman dengan tepat.

Model koperasi ala Raiffeisen menyebar ke banyak tempat di Jerman, Eropa bahkan ke seluruh dunia. Gagasannya tentang menolong diri sendiri (self help) menjadi doktrin dasar pemberdayaan dan mengentasan kemiskinan hingga kini.

Pria Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk orang banyak ini meninggal dunia pada tahun pada 11 Maret 1888 dan dimakamkan di Hesseldorf. Dia meninggal dengan tenang, meninggalkan karya besar yang menginspirasi kebangkitan orang jutaan orang miskin diseluruh dunia melespaskan diri dari kemiskinan. []

Sumber:

Short URL: http://bit.ly/2rSJohg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *