Konglomerasi Ekonomi Sosial SANASA Group

Oleh: Aef Nandi, HC.

Suatu pagi di bulan Agustus, ribuan orang memadati stadion. Mereka datang bukan untuk menonton kriket atau sepakbola. Namun untuk ambil bagian dalam Rapat Tahunan The Sri Lanka, Thrief and Credit movement atau SANASA. Gerakan koperasi kredit terbesar di negara itu.

Sanasa memiliki 800.000 anggota dari 3,1 juta total jumlah populasi, menjadikannya koperasi paling populer dan representatif di negara beribukota Kolombo itu. Sanasa, meski tak sepopuler Grameen Bank-nya Muhammad Yunus di Bangladesh, adalah contoh teladan bagaimana memberdayakan kaum miskin.

Sri Lanka adalah negara yang  pernah dilanda konflik panjang akibat perang saudara. Sehingga banyak warganya hidup di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 1978, P.A. Kiriwandeniya menginisiasi pendirian Sanasa, tujuannya untuk mengentaskan masalah kemiskinan dengan pendekatan microfinance.

Penyebab utama kemiskinan adalah sulitnya akses modal serta sistem pendidikan yang buruk. Pengusaha kecil sulit mendapat modal pengembangan usaha, sehingga ekonomi jalan di tempat. Pendidikan juga tidak mampu menumbuhkan kesadaran untuk merubah nasib. Mereka menganggap kemiskinan adalah takdir yang harus diterima. Jadi selain faktor struktural, kemiskinan juga karena alasan kultural.

Untuk mengatasi itu, Sanasa melakukan pemberdayaan berbasis komunitas. Pertama dengan cara mendirikan unit koperasi kredit dengan anggota 15 sampai 20 orang. Kelompok kecil ini mempromosikan gerakan, dengan cara mengajak anggota komunitas lainnya untuk bergabung. Setelah kapasitas kelembagaan memadai, koperasi dikembangkan secara maksimal di komunitas itu.

Kini Sanasa adalah grup koperasi besar yang tidak hanya bergrak di sektor keuangan, tapi jugasektor pendidikan, perjalanan, asuransi dan lain sebagainya.

Empat Pilar Pemberdayan

Dalam melakukan pemberdayaan, Sanasa menggunakan empat sektor yang saling bersinergi, yaitu Perbankan, Marketing, Konstruksi dan Asuransi. Keempat sektor ini memainkan peranan penting dalam pengembangan masyarakat yang berkelanjutan.

Pilar pertama adalah perbankan. Sanasa mengelola tabungan anggota dengan baik, dengan sistem apik. Sehingga mereka punya daya finansial yang kuat untuk membiayai program pemberdayaan, insfratruktur maupun pinjaman mikro untuk kepentingan pembangunan komunitas masyarakat.

Pilar kedua adalah marketing. Sanasa membantu memasarkan produk anggota ke pasar yang tepat agar menguntungkan. Dengan adanya pemasaran, para petani sayur misalnya, tidak lagi tergantung pada para tengkulak. Mereka bisa menjual hasil buminya dengan harga yang adil.

Pilar ketiga adalah Konstruksi. Kontraktor Swasta di Sri Lanka banyak yang enggan mengambil proyek di desa pedalaman. Padahal, daerah pedalaman butuh banyak insfratruktur semisal sekolah dan jembatan. Maka Sanasa bergerak juga dibidang konstruksi yang melayani para anggotanya di daerah pedalaman.

Pilar yang terakhir adalah Asuransi. Sanasa memberikan asuransi pada anggotanya untuk hari tua, kecelakaan, kematian dan lainnya. Ini sangat penting dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya asuransi mampu membantu mengurasi beban biaya anggota untuk pengobatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Manfaat Sosial dan Ekonomi

Misi utama kerja Sanasa adalah pemberdayaan masyarakat miskin di pedesaan. Sifat keanggotaan terbuka untuk semua kalangan tanpa membedakan suku, agama dan juga latar belakang ekonomi. Anggota yang bergabung akan mendapat manfaat ekonomi dan sosial.

Mayoritas masyarakat pedesaan hidup di bawah garis kemikinan dengan  pengahasilan hanya 4.000 rupee sebulan. Keadaan ini makin diperparah karena banyak masyarakat terjerat hutang pada rentenir. Bunganya sangat mencekik, 100 sampai 240 persen.

Di bidang pertanian, para petani juga harus melalui para tengkulak yang bersifat mengikat. Mereka harus menjual hasil buminya dengan harga murah, sementara tengkulak menjual dengan harga tinggi. Tidak cukup sampai disitu, para petani baru mendapat bayaran setelah dua minggu setelah barang laku terjual di pasaran.

Kemudian Sanasa memberi solusi pinjaman lunak pada anggotanya agar tak lagi meminjam pada rentenir. Sanasa juga membantu memasarkan hasil bumi petani agar tidak lagi bergantung pada tengkulak. Dengan cara seperti ini, anggota perlahan lepas dari jeratan rentenir yang mencekik serta mendapatkan hasil yang lebih baik ladangnya.

Selain manfaat ekonomi, anggota juga dapat manfaat sosial. Sanasa memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para anggota agar berdikari. Misalnya, para petani di desa diberikan pelatihan bercocok tanam. Dengan bantuan modal, mereka membeli bibit sayur untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun dijual.

Selain itu koperasi juga tidak bias gender. Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang setara. Perempuan ikut terlibat dalam gerakan, baik secara struktural maupun non-struktural. Perempuan bahkan menjadi elemen penting karena  jumlahnya mencapai 54 persen dari total anggota koperasi.

Sanasa juga memperhatikan program kaderisasi untuk mencetak pemimpin di masa depan. Pada tahun 1992 misalnya, pernah didirikan Green Clubs yang mendidik dan melatih anak muda melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Berdirinya Sanasa Campus di Kigale, merupakan wujud konkrit dari program ini.

Berkat kerja keras dan visi yang besar, kini Sanasa turut serta mengubah wajah sosial Sri Lanka.  Menurut David Hulme, dalam The Microfinace Against Poverty, Sanasa adalah salah satu koperasi yang mampu memberikan pelayanan maksimum pada anggotanya baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun budaya.

Sanasa Group

Seperti tercantum di websitenya, visi Sanasa adalah, “Terciptanya tatanan sosial baru yang berbasis nilai dan prinsip koperasi”. Untuk mencapai visi besar itu, sekarang Sanasa membangun konglomerasi ekonomi sosial dalam sebuah grup besar.

Paling tidak saat ini Sanasa sudah mempunyai beberapa badan usaha seperti:

  • Sanasa Development Bank PLC, yang bergerak di sektor keuangan (Credit Union).
  • Sanasa Consumer Producer Alliance, yakni koperasi multipihak yang memayungi sekaligus kosumen dan produsennya.
  • Sanasa Engineering and Development, yang bergerak di bidang teknik.
  • Sanasa Insurance Company, sebagai koperasi yang bergerak di layanan asuransi.
  • Sanasa Campus, yakni lembaga pendidikan tinggi yang dibangun mereka.
  • Sanasa Printers and Publisher, yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan.
  • Sanasa Security Services, yakni perusahaan Sanasa di bidang penyediaan jasa keamanan.
  • Sanasa Travels, yakni di bidang agensi perjalanan dan wisata.
  • Sanasa Media Network, yang bergerak di media pemberitaan.
  • Dan beberapa usaha lainnya seperti: Uththamavi, Sanasa Small and Medium Welth Management, Sanasa Shareholders Trust dan Sanasa Internationals.

Tak menutup kemungkinan di tahun-tahun mendatang layanan usaha di bawah grup Sasana akan berkembang sesuai dengan kebutuhan anggota dan perkembangan masyarakat. Sebagai koperasi, Sanasa telah membuktikan bahwa besarnya koperasi tak harus sama dengan melepas nilai-prinsipnya. Sebaliknya, nilai-prinsip justru menjadi basis adanya yang selalui menginspirasi berbagai pengembangan layanannya. []

Rujukan:

  • http://usaskstudies.coop/documents/books,-booklets,-proceedings/SANASA.pdf
  • http://sanasa.coop/affiliated-companies
Short URL: http://bit.ly/2qLleUe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.