City of Joy

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Biar bobot tubuh kian kurus akibat asupan nutrisi yang minus, Hasari Pal tetap harus menyaru sebagai seekor kuda. Ya, kuda nyaris dalam makna sesungguhnya. Hanya dengan menjadi kuda penarik angkong, becak bertenaga manusia, Hasari bisa berjibaku menyusuri lorong-lorong kampung dan jalanan berdebu Kolkata (dahulu Calcutta) guna mengais lembaran rupee untuk memberi makan istri dan anak-anak.

Hasari Pal, petani gurem asal negara bagian Bihar, yang terpaksa bermigrasi ke kampung kumuh Anan Nagar, Kolkata, demi kehidupan yang konon akan lebih baik, hanyalah satu dari ribuan walah angkong di kawasan sarang penderita lepra dan TBC itu. Dan sekian tahun kemudian, status kepemilikan angkong tetaplah sewaan. Milik seorang juragan, yang enggan mau tahu kondisi para penyewa selain setoran harian yang pantang terhutang.   

Maka salah satu fragmen serasa begitu mengiris benak, saat Hasari harus melego beberapa kantung darah yang dikucurkan dari lengan kurusnya ke sindikat pedagang darah, demi menambal kekurangan pendapatan harian. Langkah ngeri demi menjaga perut anak dan istri tetap terisi.

Penggalan kisah Hasari Pal, dituturkan pegiat sosial dan kemanusiaan Dominique Lappiere dalam bukunya, “City Of Joy”, dengan begitu subtil. Aroma got, rintihan sakit, amarah dan aroma kematian, bisa disesap lewat larik-larik aksara. Adakah kemiskinan yang indah? Adakah dekadensi moral yang puitik?

Tapi saya sepakat, bahwa diantara kisah keterpurukan manusia lapis terbawah, selalu memunculkan malaikat dan sesekali pahlawan. Juga kegembiraan. Mereka yang bersyukur dengan kotanya yang kumuh atau mesum, lantas memilih berbuat ketimbang meratap.

Berjarak enam setengah kali Pulau Jawa dari Kolkata bisa ditarik garis imajiner agak ke selatan, melintasi Purwokerto. Biarpun tidak sekumuh dan anyir seperti Anand Nagar, ada anak-anak muda galau dan tercerahkan di kota itu, lantas bercita-cita besar menghadirkan “City of Joy”, Negeri Bahagianya sendiri, melalui “City of Cooperatives”.

Tak seperti Hasari Pal dan para walah angkong yang minim akses sumberdaya, anak-anak muda ini dilimpahi semangat zaman yang meruah. Tantangan mereka sejatinya tetap berat. Melindungi kotanya dari telikung lintah darat, penguasa kapital, dan menjaga penguasa lokal yang sewaktu-waktu bisa takluk di kempitan ketiak penguasa modal.

Bersyukur, anak-anak muda itu tidak memulainya dengan berduyun membanjiri Ibu Kota, mengubah kebiasaan mengudap mendoan, dan mengganti ‘kejenakaan’ dialek panginyongan dengan ‘lu-gue’ yang brangasan. Mereka memilih membanjiri kota sendiri dengan ide-ide segar, juga sepotong mimpi “Kota koperasi”.

“City of Coop” tetap bisa dibaca sebagai sebuah politik atribusi, politik penandaan. Melalui itu mereka membangun sebuah kesadaran kolektif, ihwal menjadi warga sebuah kota atau kampung yang sebenarnya, dengan bergiat dan menyokong ide-ide koperasi. “City of Co-op”, atribut moralitas dalam memiting individualisme dan konsumtivisme, yang kerap menjadikan warga teralienasi dari ikhtiar memikirkan hal yang lebih bermakna bagi kotanya.

Koperasi-koperasi yang hebat memang bercokol di Amerika, Inggris, Jepang, atau Skandinavia. Dan itu tidak serta merta memberi premis gampangan untuk menarik kesimpulan, bahwa kapitalismelah yang membesarkan koperasi. Tapi satu fakta ini harus diakui, di negara-negara macan koperasi kelas dunia itu, tak satu pun yang mendapuk diri sebagai negara koperasi, negara bagian koperasi atau distrik koperasi. Di sana, dimensi praksis sukses membungkus tetek bengek yang simbolis.

Anak-anak muda pengudap mendoan itu memang harus lihai bergerilya di negeri segambreng mitos, pemulia simbol. Dan kelak akan ditemui intisarinya, bahwa permasalahan dan tantangan sejati gerakan mereka ada pada praksisnya.

Cita-cita “Kota Koperasi” oleh anak-anak muda Purwokerto itu bukan utopia. Mereka juga punya modal sejarah yang lebih dari cukup. Di kota itu pula pada 1896, embrio koperasi di negeri ini disemai. Benihnya tersebar, tumbuh di tempat dengan beragam habitat dan klimat. Suatu zaman pernah memanjakannya secara amat lebai. Era berikutnya pernah mencampakkannya, atau ngopeni dengan separuh hati. Maka ia tidak pernah selesai, selalu berproses, ‘menjadi’. Sekaligus selalu siap untuk dibentuk sesuai bejana penganut jalan koperasi (sejati).     

Jalan masih panjang, dan anak-anak muda Purwokerto sudah memulainya. Berkoperasilah dengan bahagia, kawan!

Short URL: http://bit.ly/2p8hif0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *