“Genosida”

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Ketika Credit Suisse merilis angka ketimpangan ekonomi di sejumlah negara di dunia dan Indonesia bertengger di posisi keempat dengan satu persen warga menguasai 49,3 persen kekayaan nasional, saya teringat Sunu.

Mahasiswa berperawakan tinggi cenderung ceking, itu pernah saya pandu ihwal bagaimana mendedah rupa klorofil pada sayatan tipis lembar daun. Menera organ dan anatomi tumbuhan. Juga membedah perut unggas dan satwa pengerat. Ia yang bersitekun di kebun dan di laboratorium.

Satu dekade kemudian, saya harus belajar banyak dari Widodo Sunu Nugroho, nama lengkap Sunu, yang kini jadi lurah Desa Wiromartan, kecamatan Mirit, Kebumen. Kali ini ihwal pembelaan kepada petani-petani marginal di desanya. Hal yang tak pernah diajarkan kepada kami, para pengudap buku dan pemamah ceramah. Tentang ‘horor’ Revolusi Hijau. Proyek agrikultur nan massif awal 1970an. Produksi pangan harus digenjot keras-keras agar mulut-mulut rakyat yang jumlahnya terus bertambah, mendapat cukup makan.

Agustus setahun silam, kening Sunu berdarah-darah. Telapak tangan kiri patah. Pukulan dan injakan dari sepatu lars serdadu TNI Angkatan Darat (AD) mendarat di tubuhpetani-petani Urut Sewu, juga Sunu, Lurah yang coba memandu warganya.

Urutsewu, sebutan untuk daerah yang membentang di pesisir selatan Cilacap hingga Kulonprogo. Untuk kawasan Kebumen, konflik perebutan lahan merebak di Urutsewu, yang meliputi Kecamatan Klirong, Petanahan, Puring, Buluspesantren, Ambal dan Mirit.

Di Urutsewu, Buluspesantren, Ambal dan Mirit, TNI-AD memagar lahan sepanjang 22,5 kilometer, lebar 500 meter ke arah laut untuk lokasi latihan militer. Para petani bersikukuh pemagaran oleh TNI itu ilegal.

Tentara membutuhkan tanah untuk membangun barak dan latihan menembak. Sementara petani membutuhkan tanah untuk menanam padi dan palawija. Ini adalah konflik kesekian, yang luput dari arus keberpihakan massa. Melulu menjadi slilit di sela-sela gigi geligi kuasa media.

Serikat Petani Indonesia (SPI) pada 2015 pernah merilis jumlah konflik agraria yang mencapai 231 kasus dengan total luas lahan konflik seluas 770.342 hektar. Data ini meningkat signifikan menjadi 60% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 143 kasus. Setidaknya sudah ada 3 petani yang menjadi korban tewas, 194 petani menjadi korban kekerasan, 65 petani dikriminalisasi, dan lebih dari 2.700 kepala keluarga petani tergusur dari lahan pertanian. Itu belum termasuk almarhum Salim Kancil.

Juga belum termasuk Bu Patmi! Ya,seharusnya Bu Patmi, dan para sanak tani Pegunungan Kendeng lainnya, pekan-pekan ini harus berjibaku membenamkan kakinya di lumpur sawah. Menanam padi, palawija. Bukan mengecor kakinya dengan semen. Di Ibu Kota.

Di sejumlah tempat, ketika pabrik-pabrik dipaksakan tegak sebagai hasil kawin mawin antara penguasa dan pemilik kapital, selalu ada kisah petani yang mati. Syah dan ini bukan lagi soal ketimpangan ekonomi. Lebih mendekati genosida petani. []

Short URL: http://bit.ly/2mXGf0e

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *