Merawat Koperasi dari Kampus

Oleh: Novita Puspasari, HC. | Dosen FEB Unsoed dan Deputi Riset dan AKP Kopkun Institute

“Apa sistem ekonomi yang dianut Indonesia?”, seorang dosen bertanya di suatu sesi perkuliahan. “Sistem ekonomi Pancasilaa….” jawab hampir seluruh mahasiswa di kelas.

“Siapa yang bisa berikan contoh bagaimana sistem ekonomi Pancasila bekerja?” Hening. “Kalau begitu, apa bentuk badan usaha yang paling sesuai di Indonesia dengan sistem ekonomi Pancasila?”, sang dosen kembali bertanya.“Koperasiii…” koor kembali terdengar dari mahasiswa, mantap.“Mengapa koperasi?”, tantang sang dosen. Hening kembali.

Tanya jawab di atas adalah tanya jawab yang terjadi di kelas saya suatu siang. Sebagai tambahan informasi, kuliah tersebut dilaksanakan di Fakultas Ekonomi sehingga sangat relevan jika saya bertanya seperti itu. Keheningan di atas sekaligus menggambarkan betapa sistem ekonomi Pancasila adalah sebuah konsep yang absurd bagi sebagian besar mahasiswa, mengawang-awang.

Pun dengan koperasi. Hampir semua mahasiswa menjawab mantap bahwa koperasi adalah badan usaha yang paling sesuai untuk Indonesia, tanpa tahu kenapa koperasi, kenapa bukan korporasi misalnya. Selama bertahun-tahun dari pendidikan dasar bahkan hingga pendidikan tinggi, kita selalu dijejali tentang dongeng sistem ekonomi Pancasila dengan simbol koperasi. Sebagian besar kalangan menerima dengan taklid buta, tanpa pernah bertanya mengapa. Mengapa sistem ekonomi Pancasila?, mengapa koperasi?. Jika kita tidak pernah memulai dengan mengapa, maka mustahil kita akan beranjak ke “bagaimana”.

Koperasi adalah soko guru perekonomian Indonesia, kata Hatta, yang diamini oleh jutaan penduduk Indonesia. Koperasi disayang, dibanggakan, pada saat yang sama ia ditelantarkan, dilirik dengan sebelah mata. Ditelantarkan, karena hidup mati koperasi, bahkan ke-hidup-enggan-mati-tak-mau-nya koperasi tidak pernah menjadi perhatian serius di kampus. Keberadaan koperasi memang diakui, tapi “keadaan” koperasi tidak pernah dikaji; menjadi bahan diskusi di kelas, memperkaya referensi pengajaran dengan masalah riil yang dihadapi koperasi, menjadi objek bagi penelitian yang berimplikasi pada perubahan koperasi menjadi lebih baik.

Hasilnya, jarak antara perguruan tinggi dengan koperasi semakin menganga. Koperasi dibahas sambil lalu sebagai pelengkap terselesaikannya prasyarat Satuan Kredit Semester (SKS). Penelitian di berbagai perguruan tinggi dengan objek koperasi pun, hanya sekadar mengulang-ulang data dan fakta yang ada. Penelitian di bidang koperasi acapkali dianggap tidak seksi, sehingga inovasi-inovasi bagi kemajuan koperasi yang diharapkan muncul dari penelitian jauh panggang dari api. Hans Antlov di penelitiannya tentang dinamika masyarakat di Indonesia paska reformasi pada tahun 2000 menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, sudah terlalu lama hidup di bawah opresi sehingga minim inovasi yang dilakukan, bahkan oleh kaum terdidiknya sekali pun.

Koperasi dilirik dengan sebelah mata, oleh sebab itu mata kuliah yang berhubungan dengan koperasi seringkali sepi peminat dan bekerja di koperasi jelas bukan opsi bagi sebagian besar lulusan Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi. Saya melakukan survei singkat kepada 54 mahasiswa Fakultas Ekonomi yang saya pilih secara acak. Pertanyaannya mudah, setelah lulus akan bekerja di mana. Jawabannya sudah bisa ditebak, tidak ada yang memilih koperasi. Pertanyaan selanjutnya, pernah mempertimbangkan bekerja di koperasi?, lalu kening mereka mulai berkerut, sebagian tertawa. Satu dari 54 mahasiswa tersebut menjawab, “akan saya pertimbangkan jika ada koperasi di Indonesia yang sebagus koperasi di luar negeri”. Bingo!. Lalu siapa yang akan membuat koperasi bagus dahulu kalau begitu?

Rekonstruksi Hubungan Koperasi-Kampus

Adalah Catturani yang pada tahun 2014 meneliti tentang stereotip yang menempel pada koperasi. Hasil penelitian Catturani pada 24 Bank Koperasi di Italia menemukan bahwa Bank Koperasi di Italia hanya diminati oleh usaha kecil dan menengah dengan kinerja bisnis yang tidak terlalu baik dan hanya bergerak di level lokal.

Walaupun berbentuk bank dengan sistem yang relatif baik, tetap saja Bank Koperasi lekat dengan stereotip “tradisional, lokal, tidak profesional, tidak kompeten” dan stereotip negatif lainnya. Artinya koperasi memiliki tugas besar untuk membangun citra yang baik jika ingin mengembangkan diri, “positive branding is everything” demikian kata O’ Brien dalam bukunya The Power of Branding. Langkah awal yang harus dibangun koperasi saat ini adalah membangun imej positif sambil terus-menerus melakukan perbaikan.

Di mana peran kampus?, kampus dapat mengambil bagian dalam setiap strategi perkembangan koperasi. Sinergi koperasi-kampus dapat dilakukan pada berbagai tahapan aktivitas. Tapi marilah mulai merekonstruksi hubungan antara koperasi dengan kampus dengan lebih substansial, koperasi dan kampus harus setara. Kampus tidak lagi melirik koperasi dengan sebelah mata, dan koperasi tidak lagi sungkan berhubungan dengan kampus. Tidak ada satu pihak yang menumpangi pihak lain, murni saling menguntungkan.

Kampus adalah public relation-nya koperasi dan koperasi adalah laboratorium bagi kampus. Kemudian kerjasama bisa diperluas lagi, transfer pengetahuan dari kampus mengenai isu-isu terkini di bidang pemasaran atau teknologi, misalnya. Atau bekerjasama bagaimana membuat penganggaran koperasi yang efektif. Atau bersama merancang sistem pengawasan internal koperasi yang mumpuni. Atau seperti kata Peter Davis, melakukan satu aspek yang paling penting dalam strategi pengembangan koperasi, penelitian. Kampus memasok sumberdaya manusia (SDM) yang terbiasa melakukan penelitian dengan serentetan metode, sementara koperasi dengan segudang kekayaan “masalah dunia nyata”, menjadikan penelitian tersebut lebih membumi agar dapat diaplikasikan. Hasilnya, metode pemecahan masalah dan inovasi bagi koperasi. Indah, bukan?

Simbiosis mutualisme baru dapat tercapai jika kedua pihak mengawali dengan saling mengenal. Jika dirasa kurang mengenal, maka harus kembali belajar mengenal. Kampus sebagai public relation-nya koperasi punya tanggung jawab moral untuk mengenal baik lembaga ini sehingga kelak situasi seperti tanya jawab mahasiswa yang penuh retorika tentang koperasi tidak terulang lagi. Mari merawat koperasi, bukan sekadar merawat euforia historisnya, tapi merawat tumbuh dan berkembangnya agar kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.[]

Sumber: http://satelitnews.co/berita-merawat-koperasi-dari-kampus.html#ixzz4bYdUAGN9

Short URL: http://bit.ly/2nu2N8Y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.