Purbalingga Kota Koperasi Buruh Indonesia

Oleh: Vledy Afief Al Fauzi HC., | Ketua Serikat Buruh 2009, Deputi Diklat Kopkun Institute

Buruh selama ini dipandang sebagai kelompok pekerja di pabrik yang berjumlah ratusan hingga ribuan orang. Di masyarakat sendiri mereka lebih dikenal sebagai orang yang bekerja di wilayah-wilayah “kasar” seperti pekerja bangunan, pekerja pabrik.

Alam pikiran buruh pada umumnya relatif sederhana; Menuntaskan pekerjaan dalam satu bulan dan menerima upah, mingguan atau bulanan. Harapannya upah yang diterima dapat mencukupi kebutuhan dasar hidup, perlindungan kesehatan dan pensiun.

Permasalahan timbul ketika upah yang mereka terima tidak bisa cukupi kebutuhan hidup yang terus naik. Upah yang diterima hanya bertahan dalam hitungan belasan hari. Terlebih bagi  buruh yang tidak mendapatkan jaminan sosial, bisa dibayangkan satu penyakit saja dapat membuatnya langsung jatuh miskin. Sungguh sebuah profesi yang tidak membanggakan.

Dengan pendapatan minim, tabungan nol (bahkan minus); Kualitas hidup rendah dan masa depan tidak jelas; Kehilangan harga diri dan sulit meningkatkan kualitas hidup; Lantas, apakah para buruh hanya diam saja, nrimo dan menerima nasib begitu saja?

Koperasi sebagai Solusi

Secara dialektis, koperasi lahir di dunia bukan sebagai badan hukum yang sering dikumandangkan negara melalui undang-undangnya. Koperasi justru berangkat dari situasi nyata: Ketimpangan ekonomi-sosial saat Revolusi Industri.

Koperasi adalah buah dari kemiskinan dan kesengsaraan hidup. Dengan berkoperasi, buruh yang miskin dididik supaya mempunyai keyakinan bahwa mereka dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki nasibnya. Dengan koperasi semua orang menjadi kuat dan mendapat kesadaran akan harga diri; Juga kesadaran akan tanggung jawabnya untuk kebahagian dan kesejahteraan seluruhnya.

Pernyataan Mukhtar Guntur, Presiden Konfederasi Serikat Nasional patut dibaca, “Kelemahan perjuangan buruh saat ini adalah persoalan ekonomi maka dari itu kelembagaan ekonomi seperti koperasi yang dibangun ini diharap menjadi kekuatan organisasi buruh yang tangguh,” katanya.

Koperasi akan mendidik semangat percaya pada kekuatan sendiri (self help). Lebih penting lagi, koperasi bisa menempa ekonomi rakyat yang lemah agar menjadi kuat. Koperasi bisa merasionalkan perekonomian, yakni dengan mempersingkat jalan produksi ke konsumsi; Koperasi merupakan senjata persekutuan si lemah untuk mempertahankan hidupnya.

Koperasi Buruh

Sejarah kelahiran koperasi pertama pada 22 Desember 1844 di Rochdale, Inggris dipelopori oleh 28 orang buruh tekstil. Tujuannya untuk meringankan beban hidup karena dampak Revolusi Industri pada saat itu. Tak terhitung pekerja yang telah dipecat sepihak oleh pabrik-pabrik karena telah melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah. Sadar bahwa tidak memungkinkan untuk menuntut upah yang lebih baik akhirnya mereka memutuskan harus bisa mengorganisasi diri sebagai konsumen untuk harga yang lebih rendah.

Koperasi modern pertama itu bernama “The Rochdale Equitable Society”. Koperasi Rochdale awalnya dibentuk dengan usaha penyediaan barang-barang kebutuhan sehari-hari bagi anggota. Seiring waktu berjalan, koperasi semakin kuat karena adanya pemupukan modal dari anggotanya juga yang semakin besar. Koperasi Rochdale akhirnya memulai memproduksi barang sendiri yang akan dijual. Dari kegiatan tersebut akhirnya bisa memberikan kesempatan kerja bagi anggota yang belum mempunyai pekerjaan. Tujuh tahun setelah berdirinya, akhirnya Koperasi Rochdale mampu membangun sebuah pabrik, pusat grosir (whole sale) dan perumahan bagi anggotanya.

Koperasi Buruh Purbalingga

Menilik data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertran) tahun 2016, bahwa saat ini jumlah perusahaan di Purbalingga mencapai 418 perusahaan. Sementara tenaga kerja yang diserap mencapai 49.041 orang.

Secara kuantitas, dibandingkan dengan perjuangan 28 orang buruh Roschdale, tentu 49.041 buruh tersebut merupakan potensi yang lebih dari cukup untuk menggerakan perkoperasian di Kota Perwira. Dengan perencanaan yang matang dan dukungan berbagai pihak, tumbuh kembangnya koperasi buruh di Purbalingga sangatlah mungkin.

Buruh tentu saja membutuhkan koperasi. Karena nilai upah atau gaji yang makin merosot tidak memungkinkan menuntut pengusaha dan pihak lain untuk menolong kesulitan yang dihadapi. Buruh berkepentingan untuk mendapat barang-barang keperluan hidup sehari-hari dengan harga murah. Karena itu mereka butuh koperasi untuk bisa menolong diri mereka sendiri. Koperasi buruh di Purbalingga dapat dirikan satu supermarket besar seperti NTUC Fairprice Singapore yang dimiliki 50.000 buruh. Itu sangat mungkin.

Di sisi lain, para pengusaha memiliki kepentingan strategis dengan koperasi buruh. Meliadi Sembiring, Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi mengingatkan, “Bagi industri atau pabrik yang mempunyai koperasi karyawan dengan baik umumnya jarang terjadi demonstrasi, karena segala permasalahan dan kebutuhan sudah disalurkan melalui koperasi tersebut”. Artinya kehadiran koperasi buruh akan menguntungkan semua pihak.

Agenda Bersama

Koperasi mempunyai tujuan dan haluan yang sama dengan serikat buruh; Yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Keterlibatan serikat pekerja/buruh sebagai perwakilan buruh/pekerja menjadi keharusan untuk membangun dan mengembangkan koperasi. Daya dukung itu akan mempercepat tumbuh kembangnya koperasi buruh di Purbalingga.

Serikat buruh bahkan bisa menjadi inisiator untuk membangun koperasi. Serikat bisa fasilitasi lahirnya koperasi dan mengawal dalam tahun-tahun awal. Setelah kuat dari segi kelembagaan dan berbagai layanannya, serikat bisa memandirikannya.

Tentu saja semua harus diperhitungkan dengan matang; Perlu disusun perencanaan yang detail, sehingga target dan tujuannya bisa dipahami oleh semua pihak. Jika digarap dengan serius bukan tidak mungkin lima tahun ke depan kita akan melihat Purbalingga sebagai Kotanya Koperasi Buruh Indonesia. Mari kita perjuangkan! []

Sumber: http://satelitnews.co/berita-purbalingga-kota-koperasi-buruh-indonesia.html#ixzz4acqoSlep

Short URL: http://bit.ly/2lRgitR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.