Sinterklas 212

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Setelah aksi massa yang menghumbalang Ibu Kota, yang konon guna membela agama, arak-arakan itu pulang ke rumah dengan degub benak terus membuncah. Terbilang pekan kemudian, seperti bisa dibaca di dinding ribuan akun media sosial, gurat bangga masih meruah. Seakan baru pulang menang berjihad dari Suriah.

Lantas mengapunglah sebuah keajaiban, yang diperam melalui proses kontemplatif yang tidak main-main. Butuh keberanian atau malah kenekatan untuk meneguhkannya: Koperasi 212. Ihwal 212, inipun bukan angka sembarangan. Mantera mandraguna pelibas sembilan naga.

Apapun itu, ide pendirian koperasi sudah merupakan kejutan yang sungguh layak dipuji. Sebab, pada mulanya koperasi merupakan lembaga yang kurang begitu diakrabi khalayak ramai yang punya cita cita mulia meneladani watak bisnis nabi. Bisnis yang berkeadilan, saling percaya, menampik keras mengutil timbangan, menyepak jauh-jauh dimensi ribawi.

Pula, menilik sejarahnya, koperasi sejatinya bukan representasi normatif agama apapun. Koperasi Rochdale yang diketuai Charles Howart (1844), misalnya, muncul di Kota Rochdale, utara Inggris. Era manakala revolusi Industri yang seronok juga mencuatkan dekadensi dan kekumuhan. Koperasi justru tidak menyembul dari sudut-sudut suci Yerusalem dan Makkah al Mukaromah.

Anggota awal Rochdale pun tak sampai bikin nyali ciut, hanya dua lusin buruh lebih sedikit. Maka sungguh menggentarkan, membayangkan tujuh ratus ribu atau tujuh juta peserta “aksi 212” itu benar-benar bisa diringkus dengan suka cita jadi anggota koperasi.

Dalam rupa-rupa diskursus perkoperasian lebih sekian dekade silam, konsep keadilan dan musyawarah dalam koperasi diakui akrab dengan nilai-nilai Islam. Biar begitu, seperti pernah mengemuka pada sebuah seminar yang dihelat oleh media tempat saya bekerja, sejumlah pakar koperasi dan ekonomi syariah, tetap tidak sepenuhnya akur ihwal aspek ribawi dalam koperasi. Terlebih mengacu pada realitas praksisnya di negeri ini. Tempat mekarnya koperasi papan nama dirayakan saban tahun dengan rasa bangga.

Muslimin Nasution, salah satu narasumber, bersiteguh betapa koperasi adalah model ekonomi ideal non ribawi. Pak Mus tak menyoal apakah itu melekat dengan atribut syariah maupun tidak. Mantan menteri ini yakin, bahwa nilai-nilai dan praksis koperasi yang genah (sesuai prinsip) sudah Islami.

Tapi, sebagian pemerhati dan praktisi tetap menilai ada yang ‘asing’ dalam koperasi. Karenanya belum afdhol benar sampai kemudian ia ‘disyahadatkan’ dan namanya digenapi sebagai koperasi syariah (Kopsyah).

Dan waktu adalah pengisah yang pantang alpa mengabarkan fakta. Butuh masa tak singkat dan ghiroh nyaris permanen untuk menjadikan koperasi benar-benar tumbuh dan mensejahterakan penganutnya. Tak perlulah diniatkan untuk bikin sembilan atau duabelas naga gemetar, cukup agar kerumuman ummat benar benar mahfum bahwa untuk berdaya tak cukup dengan penggelontoran massa dengan gairah membuncah.

Butuh kecermatan dan kerendahan hati membaca tanda-tanda ketimbang asyik mengenangkan gelora. Bahwa negeri tengah dilanda krisis, kerap terjadi bencana alam, petani gurem tak kunjung sejahtera, rentenir dan tengkulak dimana-mana, PHK dan kemiskinan tak mereda. Layaknya sepotong kisah di abad ke-19, yang dibaca dengan saksama tanpa hiruk pikuk, oleh segelintir buruh di Rochdale. Atau oleh Walikota Friedrich Wilhelm Raiffeisen, yang memunculkan Credit Union, kumpulan orang-orang yang saling percaya.

Tentu, peserta “aksi 212” diikat lebih dari rasa saling percaya. Kelak jika koperasi itu terwujud dan berjalan dengan istiqomah, Raffeisen yang mencikalbakali pendirian koperasi kredit lebih dari satu setengah abad silam, bisa tiba-tiba muncul dalam sosok berkostum sinterklas. Dengan suara ngebas diiringi senyum jembar, takzim ia berucap..,”Selamat menunaikan ibadah koperasi wahai saudara-saudaraku..! Hoo..hoo..hooo..!” []

Short URL: http://bit.ly/2iI1zEC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *