Kesenjangan Ekonomi

Oleh: Dr. Revrisond Baswir*

Perbedaan antara cita-cita dan fakta di Indonesia akhir- akhir ini cenderung seperti bumi dan langit. Berdasarkan cita-cita, yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa adalah terwujudnya masyarakat yang adil makmur. Bahkan, jika dilihat dari sudut Pancasila, para pendiri bangsa secara jelas mengamanatkan bahwa tujuan negeri ini secara ideologis adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi apa mau dikata, realita ternyata berbicara lain. Menjelang 71 tahun merdeka, kesenjangan kaya miskin justru cenderung semakin lebar. Indeks kesenjangan kaya miskin yang dikenal sebagai indeks gini, yang selama bertahun-tahun berada dalam kisaran 0,35 – 0,36, beberapa tahun terakhir melonjak melampaui 0,40. Bahkan, dua tahun terakhir, indeks gini melonjak menjadi 0,42.

Karena dihitung berdasarkan pendekatan pengeluaran, indeks gini sesungguhnya belum sepenuhnya mengungkapkan fakta kesenjangan yang dialami Indonesia. Menurut fakta yang sebenarnya, sebagaimana diungkapkan Bank Dunia, satu persen rumah tangga terkaya ternyata kini telah menguasai lebih dari separuh atau 55,3 persen kekayaan nasional, sedangkan 10 persen rumah tangga terkaya kini telah menguasai sekitar 77 persen kekayaan nasional.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesenjangan nomor tiga terburuk di dunia. Dua negara yang mengungguli Indonesia adalah Rusia dan Thailand, masing-masing dengan tingkat konsentrasi kekayaan sebesar 66 persen dan 55,5 persen. Sebagai perbandingan, tingkat konsentrasi kekayaan di dua negara tetangga terdekat, Singapura dan Australia, masing-masing hanya 28,6 persen dan 21,1 persen.

Fakta-fakta tersebut, tidak dapat tidak, memaksa kita untuk bertanya mengenai keseriusan kita dalam bercita-cita. Apakah kita menetapkan cita-cita sebagai sesuatu untuk dicapai atau sekedar sebagai hiasan dinding belaka? Jika kita serius, maka tindak-tindakan apa saja yang telah kita lakukan selama ini untuk mencapainya dan faktor-faktor apa saja sesungguhnya yang menghalangi kita untuk mewujudkannya?

Berdasarkan pengamatan sepintas terhadap berbagai hal yang berlangsung selama ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk disimpulkan bahwa selama ini kita memang tidak pernah cukup serius dengan segala hal yang kita cita-citakan. Bahkan, jika diamati lebih jauh, rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa selama ini kita pada dasarnya cenderung mengabaikannya dan mengkhianatinya.

Gambaran yang sangat mencolok mengenai pengabaian dan pengkhianatan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi itu dapat disimak antara lain pada pembatalan sejumlah Undang Undang (UU) atau pasal-pasal tertentu UU oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sejak 2003 lalu. Beberapa diantaranya adalah UU Migas No. 22/2001, UU Ketenagalistrikan No. 20/2002, UU Sumberdaya Air No. 7/2004, UU Penanaman Modal No. 25/2007, UU Badan Hukum Pendidikan No. 9/2009, dan UU Perkoperasian No. 17/2012.

Mencermati daftar UU yang inkonstitusional tersebut, dapat disaksikan betapa sangat buruknya tingkat keseriusan kita dalam bercita-cita selama ini. Jika pada tingkat pembuatan UU pun kita sudah cenderung mengabaikan dan mengkhianatinya, apalagi yang dapat diharapkan pada tingkat pelaksanaannya?

Beberapa UU yang dibatalkan MK secara kebetulan memang berkaitan dengan kepentingan pemodal asing disini. Fakta ini secara tidak langsung mengungkapkan kecenderungan pihak-pihak tertentu untuk menghamba pada kepentingan asing. Namun demikian, karena UU Perkoperasian yang tidak berkaitan dengan kepentingan asing pun batal juga demi hukum, maka rasanya tidak berlebihan bila disimpulkan bahwa “masyarakat adil makmur” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memang sudah cukup lama kita campakkan. Quo vadis Indonesia? []

*Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Sebelumnya dimuat di: Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa, 5 April 2016. Dimuat ulang atas seizin penulis untuk kepentingan edukasi publik.

Short URL: http://bit.ly/1Vhyps8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.