Koperasi Mahasiswa: Kumpulan Aktivis atau Organisatoris?

Oleh: Firdaus Putra, HC

Ada sekitar 150an Koperasi Mahasiswa (Kopma) di Indonesia. Dan bila tiap Kopma sekurang-kurangnya memiliki 50 Pengurus dan Pengawas, paling tidak ada sekitar 7500 aktor. Persoalannya apakah 7500 aktor tersebut tergolong aktivis atau sekedar organisatoris?[2]

Dalam praktiknya para Pengurus dan Pengawas itu dikenal sebagai “aktivis” Kopma. Namun sebenarnya apakah klasifikasi itu sudah tepat? Artikel ini berusaha membaca formasi sosial penggunaan istilah “aktivis” dan “organisatoris” pada Kopma-kopma di Indonesia.

Mengurai Istilah Aktivis dan Organisatoris

Dengan menelisik arti masing-masing istilah tersebut, kita dapat menangkap makna dengan konteks penggunaannya yang tepat. Berbagai sumber mendefinisikan “aktivis” sebagai orang yang terlibat dalam mengorganisir perubahan sosial dan politik[3]. Sedangkan “organisatoris” adalah orang yang beraktivitas atau menjalankan suatu organisasi[4].

Dengan merujuk definisi itu, istilah “aktivis” cenderung berasosiasi dengan domain sosial-politik dan karenanya tak bebas nilai. Sedangkan istilah “organisatoris” berasosiasi dengan aktivitas umum keorganisasian dan karenanya lebih bebas nilai. Lebih lanjut kita bisa melacak perbedaan makna dua istilah tersebut melalui padanan katanya.

Padanan kata tiap istilah itu makin menggambarkan lingkup dan batasan penggunaan istilah “aktivis”[5] dan “organisatoris”[6]. Aktivis berhubungan dengan gagasan (penggagas), organisatoris berkaitan dengan tugas (petugas). Aktivis berhubungan dengan tindakan kepeloporan (pelopor), sedangkan organisatoris berkaitan dengan tindakan administrasi-birokrasi (birokrat). Aktivis berhubungan dengan inisiatif (pemrakarsa), sedangkan organisatoris berkaitan dengan pekerjaan (pegawai). Dan seterusnya.

Jika kita analogikan dalam klasifikasi lain aktivis cenderung dekat maknanya dengan pemimpin dan kepemimpinan. Sedangkan organisatoris lebih dekat dengan manajer dan manajerial. Pemimpin adalah mengerjakan sesuatu yang benar sesuai visinya. Sedangkan manajer adalah mengerjakan sesuatu dengan benar sesuai aturannya. Sehingga jika kita kerucutkan makna kedua istilah itu apa yang paling membedakan terletak pada unsur: visi/ gagasan/ nilai/ idealisme.

Lantas visi/ gagasan seperti apa yang harus ada sehingga seseorang disebut sebagai aktivis dan bukannya organisatoris? Mengacu pada deskripsi di awal, aktivis adalah orang yang terlibat dalam mengorganisir perubahan sosial-politik. Maka visi/ gagasan yang harus ada adalah terkait dengan cita-cita perubahan sosial/ politik seperti apa yang akan diwujudkannya. Dalam konteks gerakan koperasi, cita-cita itu kita sebut sebagai “demokrasi ekonomi”, “pasal 33”, “ekonomi kerakyatan” dan seterusnya. Dengan logika seperti di atas mari kita uji penggunaan istilah “aktivis Kopma” apakah sudah atau belum.

Sejarah Koperasi Mahasiswa dan Cacat Genetik

Sejarah Kopma di Indonesia erat kaitannya dengan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/ BKK). Kebijakan NKK/ BKK berdasarkan SK No.0156/U/1978 yang digulirkan oleh Daoed Joesoeff sebagai Menteri Pendidikan kala itu berusaha melokalisir dan memutilasi aktivisme sosial-politik gerakan mahasiswa. Kebijakan ini dipicu oleh peristiwa Malari 1974 dan Pemilu 1977.

Wujudnya adalah dengan membubarkan Dewan dan Senat Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Kebijakan ini bertujuan untuk “menarik mahasiswa kembali ke kampus” agar mahasiswa tidak bisa terlibat dalam aktivisme sosial-politik mengkritik pemerintahan Orde Baru. Sebagai gantinya, pemerintah membentuk Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) berdasarkan SK Menteri P7K No.037/U/1979. Kebijakan tersebut membahas Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di lingkungan perguruan tinggi[7].

Kebijakan NKK/ BKK merupakan kebijakan depolitisasi gerakan mahasiswa guna membatasi aktivitas mereka. Kompensasinya, pemerintah membuat Unit-unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai medium aktulisasi mahasiswa sesuai bakat dan minatnya. Dengan kebijakan itu bermunculan lah UKM seperti: teater, kerohanian, pramuka, resimen mahasiswa, pecinta alam, olah raga, pers, musik, seni dan kewirausahaan yang diwadahi dalam Koperasi Mahasiswa.

Lembaga-lembaga kemahasiswaan itu kaprahnya disebut sebagai “Organisasi Intra Kampus”. Di isi lain kita kenal istilah “Organisasi Ekstra Kampus” yang orientasinya pada aktivisme sosial-politik mahasiswa. Organisasi-organisasi itu seperti: HMI, GMNI, PMKRI, GMKI, PMII, IMM, KAMMI, FMN, LMND, Gema Pembebasan dan sebagainya.

Dengan menilik sejarah itu maka eksistensi Kopma sedari awal merupakan medium aktualisasi bakat-minat di bidang kewirausahaan semata. Kopma yang lahir dari fase depolitisasi gerakan mahasiswa itu pada gilirannya menjadi bebas nilai. Maksudnya, Kopma tak memiliki orientasi ideologis seperti cita-cita demokrasi ekonomi, sosialisme Indonesia dan sebagainya, sebaliknya hanya berkutat pada pengembangan bakat-minat kewirausahaan.

Dampak kebijakan NKK/ BKK ini mahasiswa menjadi lemah nalar kritisnya. Mahasiswa seolah terdefinisi hanya sebagai “siswa” yang “maha” dengan tugas utama belajar (dan berorganisasi) minus berjuang. Hal ini tentu menyalahi kodrat mahasiswa sebagai agent of change yang dipotret Ben Anderson[8] selalu mewarnai sejarah Indonesia sejak: 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1977 sampai 1998[9]. Kodrat mahasiswa sebagai kelas terdidik/ intelektual adalah sebagai intelektual organik dalam makna Gramscian[10].

Dalam semangat zaman seperti itu Kopma dilahirkan. Kopma dengan sendirinya membawa gen cacat ideologis yang membuat kiprahnya tak utuh: belajar berorganisasi minus berjuang. Alhasil, Kopma-kopma sampai saat ini masih mewarisi cacat genetik dengan corak yang sama. Kopma hari ini hanya fokus pada pengembangan kecakapan kewirausahaan dan manajerial semata. Gejala itu bisa dikenali dari banyaknya pendidikan/ pelatihan kewirausahaan, kepemimpinan dan manajerial serta berbagai pelatihan motivasi berprestasi (achievement motivation training).

Gejala itu memperlihatkan bahwa Kopma cenderung terjebak memahami koperasi hanya pada domain mikro organisasinya semata. Kopma alpa melihat koperasi dalam domain makro ideologinya. Sehingga yang ada sekarang Kopma sejatinya mengalami split of personality. Kopma adalah figur yang pecah/ tak utuh.

Meskipun sama-sama unit kegiatan mahasiswa, UKM Teater[11] dan Pers[12] cenderung dapat keluar dari jebakan kebijakan NKK/ BKK. Justru gerakan mahasiswa secara strategis menggunanakan UKM Teater dan Pers sebagai medium pergerakan/ perjuangan. Hal itu menjadi lebih mudah karena teater dekat dengan berbagai narasi filosofis yang kritis-reflektif. Dan pers dekat dengan modus berpikir kritis dalam proses analisa suatu peristiwa.

Di berbagai kampus, teater dan pers sampai saat ini menjadi motor penggerak dalam aktivisme sosial-politik mahasiswa baik dalam isu internal kampus maupun isu-isu lokal/ nasional lainnya. Sayangnya hal tersebut tak terjadi di tubuh Koperasi Mahasiswa, padahal memiliki potensi yang sama karena memiliki seperangkat nilai atau ideologi. Secara hipotetis mungkin karena Kopma telanjur sibuk dengan bisnisnya dan lupa untuk melakukan revitalisasi pada level makro ideologinya.

Kumpulan Aktivis atau Organisatoris?

Bila kita terima logika berpikir di atas maka akan dengan mudah kita jawab pertanyaan di atas, bahwa Kopma adalah sekedar kumpulan organisatoris. Dalam praktiknya hal itu terbukti melalui beberapa gejala, tanda dan fakta, sebagai berikut:

No. Dimensi Gejala/ Tanda/ Fakta
1. Gaya Berpakaian[13]: anak-anak Kopma gemar menggunakan jas (berdasi), batik, celana kain dan seringkali sepatu fantovel.

Gaya berpakaian ini cenderung identik dengan kalangan pegawai/ birokrat daripada kalangan aktivis kampus yang bebas, kasual dan cenderung urakan.

Di beberapa Kopma bahkan saling memanggil “Pak” dan “Bu” untuk teman sejawat.

2. Aktivisme Politik: Kopma cenderung apolitis meskipun pada isu yang terkait langsung dengan gerakan koperasi misalnya pada momen penggodogan UU No. 17 tahun 2012 yang kemudian dibatalkan MK. Nyaris sulit menemukan pemberitaan “Koperasi Mahasiswa Demonstrasi” di mesin pencari google.
3. Aktivitas Utama: Energi terbesar Kopma tercurah pada masalah kewirausahaan dan bisnis. Sangat mudah ditemukan berita “Koperasi Mahasiswa Kewirausahaan” di mesin pencari google.
4. Visi Lembaga[14]: Kata kunci yang sering digunakan untuk mendeskripsikan visi mereka adalah: “kebutuhan anggota”, “kewirausahaan”, “profesional”, “pasar global”, “lembaga usaha” dan seterusnya. Visi Kopma sama sekali tidak mentautkan pada gagasan besar koperasi tentang demokrasi ekonomi atau sosialisme Indonesia dan sebagainya.
5. Orientasi: Lebih besar ke mikro organisasi: pengelolaan bisnis/ wirausaha daripada makro ideologi: diskusi wacana dan aktivisme politik. Mudah menemukan berbagai poster kegiatan Kopma dalam isu-isu bisnis/ manajerial dan semacamnya dibanding dalam isu wacana besar.

Penelusuran historis dan sosiologis kekinian memperlihatkan bahwa Kopma lebih tepat disebut sebagai kumpulan para organisatoris daripada himpunan para aktivis. Tentu hal yang ironis ketika pada saat yang sama mereka juga sering menggunakan istilah “gerakan/ movement”, “anti kapitalis”, “sosialisme” dan sebagainya. Sehingga istilah-istilah yang sarat makna itu sesungguhnya hanya mereka maknai sebatas slogan/ jargon di permukaan saja.

Revitalisasi Kopma: dari Organisatoris ke Aktivis

Agar Kopma sah menggunakan istilah “aktivis” untuk menyebut Pengurus-Pengawasnya, maka Kopma harus melakukan revitalisasi diri khususnya pada level makro ideologi. Peluang itu sangat besar dibanding UKM-UKM lain di masing-masing kampus mengingat Kopma sebagai entitas koperasi di Indonesia memiliki jangkar ideologi yang kuat.

Revitalisasi Kopma bisa diturunkan dalam beberapa agenda besar, sebagai berikut:

  1. Keberanian mengakui bahwa pola yang ada hari ini adalah model yang cacat genetik warisan kebijakan NKK/ BKK 1978/ 1979.
  2. Mengutuhkan keterpecahan figur dari sekedar organisasi untuk belajar bisnis menjadi media perjuangan demokrasi ekonomi Indonesia. Wujud nyatanya dengan mengintrodusir gagasan besar itu dalam visi organisasi.
  3. Mengintrodusir gagasan besar demokrasi ekonomi atau visi Pasal 33 UUD 1945 dalam materi kaderisasi mulai dari dasar sampai lanjutan. Berbagai materi itu seperti: ekonomi-politik Indonesia, kapitalisme global, ketimpangan sosial ekonomi, keadilan sosial dan sejenisnya.
  4. Mengintrodusir perubahan paradigma ini ke segenap anggota agar tercipta nalar dan budaya baru yang lebih progresif.
  5. Mengaktualisasikan sikap politik dalam isu ekonomi-politik, sosial, budaya yang tak terbatas pada sektor koperasi semata, baik pada level lokal maupun nasional.
  6. Membangun komunikasi strategis dengan berbagai Organisasi Ekstra Kampus dalam merespon isu-isu nasional.
  7. Merubah gaya lembaga dari yang bercorak birokratis-profesional menjadi organisasi anak muda yang dinamis dan progresif.

Penutup

Bila revitalisasi tersebut dapat dijalankan, maka Kopma pantas mendaku sebagai “kumpulan aktivis”. Dan sesungguhnya demikianlah takdir dari entitas koperasi yang membuat dirinya bisa disematkan dengan istilah “gerakan”. Istilah itu bersifat sakral dan sarat nilai.

Bila revitalisasi itu tercapai, 7500 aktivis Kopma adalah energi yang luar biasa dalam mendorong agenda demokratisasi ekonomi di Indonesia. Dan 7500 orang itu adalah orang-orang bermental leader, bukan para birokrat-karyawan yang pro status quo.

Bila masa itu datang, Kopma akan menjadi organisasi mahasiswa termaju di Indonesia karena sudah mandiri dalam ekonomi maka dapat berdaulat dalam politik. Tentu hal ini akan melampaui capaian berbagai Organisasi Ekstra Kampus sekalipun. Semoga! []

[1] Direktur Kopkun Institute, Institute Sosial Ekonomi dan Koperasi. Korespondensi: www.firdausputra.com

[2] Bandingkan dengan tulisan saya yang lain namun senada: http://www.firdausputra.com/2010/01/mediokrat-mediokrat-baru.html

[3] http://kbbi.web.id/aktivis dan http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/activist

[4] http://kbbi.web.id/organisatoris dan http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/organizer?q=organiser

[5] http://www.persamaankata.com/348/aktivis

[6] http://www.persamaankata.com/28139/organisatoris dan http://www.persamaankata.com/4843/fungsionaris

[7] http://news.okezone.com/read/2010/08/17/373/363782/ketika-mahasiswa-dibungkam-normalisasi-kampus

[8] http://www.berdikarionline.com/pemuda-dalam-sejarah/

[9] https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_di_Indonesia

[10] https://www.academia.edu/3378898/Pemikiran_Antonio_Gramsci

[11] http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/20/130587/Teater-Kampus-yang-Gamang

[12] http://seputarpewarta.com/eksistensi-pers-mahasiswa-sebagai-media-alternatif-pasca-reformasi-sebuah-perenungan-memperingati-17-tahun-reformasi/ dan http://pipmi.tripod.com/artikel_persma_persemaian_public_sphere_civil_society.htm

[13] http://4.bp.blogspot.com/-jCAa2fI-KOM/UyNHTLUFzSI/AAAAAAAAAJQ/PKam-BY2XWs/s1600/IMG_9404.JPG dan http://kopma.lk.unila.ac.id/wp-content/uploads/sites/4/2015/07/17-ORANG-2.jpg

[14] https://umskopma.wordpress.com/beranda/visi-dan-misi/ ; http://kopmatek-usu.blogspot.co.id/2013/01/blog-post.html ; http://kopma.uns.ac.id/?page_id=184 ; http://kopmaunand.blogspot.co.id/2013/05/struktur-kopma-unand-2013-2014.html dan lain-lainnya

Short URL: http://bit.ly/1KQZZDS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.